Serapan Domestik Minim, Hasil Hilirisasi Tambang Mayoritas Diekspor

Muhamad Fajar Riyandanu
30 November 2022, 16:26
hilirisasi, smelter, ekspor
123RF.com/Chutima Chaochaiya
Ilustrasi smelter minerba.

Pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas tambang di dalam negeri dengan membangun puluhan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter. Meski demikian mayoritas hasil olahan mineral sejauh ini ditujukan untuk pasar ekspor karena masih minimnya serapan domestik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan bahwa seretnya serapan hasil pengolahan mineral oleh industri lanjutan di dalam negeri berdampak pada produk hasil pemurnial mineral yang sebagian besar harus menjadi komoditas ekspor.

Produk-produk yang dimaksud adalah hasil pemurnian bijih nikel, yakni feronikel dan nickel pig iron. Nasib serupa juga dialami oleh hasil olahan bijiih bauksit, Chemical Grade Alumina (CGA) dan Smelter Grade Alumina (SGA) yang dijual ke Malaysia dan Cina.

"Produk hasil pengolahan dan pemurnian mineral lain seperti Low Iron Silica Sand juga sebagian besar masih disekpor," kata Arifin dalam Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2022 pada Rabu (30/11).

Pada kesempatan tersebut, Arifin menjabarkan pemerintah saat ini sedang mengembangkan proyek 53 smelter yang terdiri dari 17 unit smelter terintegrasi dan 36 smelter stand alone.

Smelter terintegrasi adalah smelter yang terhubung dari proses pertambangan mineral di hulu hingga ke hilir. Dari 17 proyek tersebut terdiri dari 2 smelter besi, 1 smelter tembaga, 7 smelter bauksit, dan 7 smelter nikel. Sejauh ini baru ada 5 unit smelter eksisting dan 12 unit sisanya masih dalam tahap proses konstruksi.

Sementera itu, 36 proyek smelter stand alone terdiri dari 23 smelter nikel, 4 smelter bauksit, 3 smelter tembaga, 2 smelter besi, 2 smelter timbal dan seng, serta 2 smelter mangan. Dari jumlah tersebut, 16 smelter telah beroperasi, dan sisanya masih dalam proses konstruksi.

Smelter stand alone adalah smelter yang dimiliki oleh perusahaan yang harus membeli material pertambangan dari badan usaha lain di sekitar lokasi smelter karena tidak memiliki tambangnya sendiri.

"Perlu dilakukan pengintegrasian supply chain antara tambang dan smelter stand alone serta pengintegrasian industri pengguna bahan olahan mineral. Nah ini lah yang kita harapkan ke depan industrinya akan bertumbuh," ujar Arifin.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait