Cina Mulai Longgarkan Pembatasan Covid-19 Usai Diprotes Besar-besaran

Happy Fajrian
3 Desember 2022, 16:55
covid-19, cina,
ANTARA FOTO/REUTERS/China Daily /aww/sad.
Warga mengantre untuk pengujian asam nukleat di kompleks perumahan saat kasus baru penyakit virus corona (COVID-19) muncul di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, Selasa (22/2/2022).

Cina telah mulai mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan kebijakan Zero-Covid-nya menyusul gelombang protes belum lama ini terhadap kebijakan penguncian wilayah atau lockdown dan sejumlah langkah pembatasan ketat lainnya.

Mengutip laporan kantor berita Xinhua, yang dilansir Antara, Wakil Perdana Menteri Cina Sun Chunlan yang bertanggung jawab atas langkah pencegahan penyebaran Covid-19, mengatakan bahwa patogenisitas varian Omicron sudah melemah.

“Pemerintah telah mengatur kondisi untuk mengubah-langkah-langkah tanggap epidemi,” ujarnya di Komisi Kesehatan Nasional Cina, Sabtu (3/12), yang disampaikan menyusul kemarahan publik di seluruh Cina selama akhir pekan lalu terhadap langkah-langkah pembatasan Covid-19 yang ketat.

Beberapa demonstran secara terbuka mencela Partai Komunis yang berkuasa yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping. Hingga Kamis, Cina telah mencatat kasus Covid-19 harian sekitar 33.000 di daratan, menurut komisi tersebut.

Angka itu sedikit menurun dari rekor tertinggi yang mencapai hampir 39.000 pada Minggu, tetapi masih berada pada level yang tinggi. Setelah aksi protes, beberapa pembatasan di Guangzhou, Cina selatan, telah dilonggarkan, di mana restoran, bioskop, dan pusat rekreasi dibuka kembali.

Kota Beijing, di mana banyak permukiman dikunci karena wabah, telah mengizinkan pasar swalayan dibuka kembali setelah penutupan satu hari. Penduduk Beijing yang tinggal di rumah, termasuk manula dan mereka yang bekerja atau belajar dari rumah, juga tidak perlu lagi menjalani tes Covid-19 massal.

Kereta bawah tanah dan bus di Beijing pun tidak lagi mewajibkan penumpang untuk menunjukkan hasil tes Covid-19 negatif yang diambil dalam waktu 48 jam, mulai Senin depan (5/12), kata media pemerintah Cina itu.

Di Cina, orang-orang diharuskan untuk sering melakukan tes Covid-19 agar dapat pergi ke tempat umum. Mereka yang berada di daerah lockdown dilarang meninggalkan rumah mereka dan kerap kesulitan mendapatkan cukup makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kedutaan Besar AS di Beijing telah mendorong warga Amerika di Cina untuk menyimpan persediaan obat-obatan, air kemasan, dan makanan selama 14 hari. Kedutaan Besar Jepang di Beijing juga menyarankan warga Jepang di Cina untuk menyiapkan stok barang-barang kebutuhan untuk 10 hari.

Sementara itu, pihak berwenang Cina diyakini mewaspadai kemungkinan bahwa para pelayat yang berkumpul untuk mengenang Jiang Zemin dapat berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah. Mantan Presiden itu meninggal pada Rabu dalam usia 96 tahun.

Ada seruan yang diunggah di media sosial agar masyarakat berkumpul untuk mengenang mantan pemimpin Cina itu. Jenazah Jiang diterbangkan dari tempat dia wafat di Shanghai ke Beijing pada Kamis. Upacara peringatan untuknya akan diadakan di Balai Besar Rakyat (Great Hall of the People) di Beijing pada Selasa depan (6/12).

Aksi protes pro-demokrasi pada 1989 di Lapangan Tiananmen dipicu oleh kematian Hu Yaobang, yang dipecat sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis dua tahun sebelumnya karena kecenderungan liberalnya.

Para siswa yang berkumpul atas kematian Hu saat itu menyerukan demokrasi dan mengkritik tindakan pemerintah terhadap korupsi yang merajalela.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait