Harga Bitcoin Diprediksi Capai Rp 224 Juta pada Akhir Tahun ini

Ada sejumlah sentimen yang akan mendorong harga bitcoin seperti kondisi geopolitik, serta peristiwa halving.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
16 Januari 2020, 16:04
harga bitcoin,
Flickr.com
Harga bitcoin diprediksi bakal mencapai US$ 16.000 pada akhir tahun 2020 atau sekitar Rp 224 juta jika menggunakan nilai kurs saat ini.

Harga bitcoin sepanjang tahun ini atau secara year to date (ytd) telah naik lebih 19%. Analis memprediksi harga cryptocurrency atau mata uang kripto ini bakal terus naik bahkan hingga mencapai US$ 16.000 atau sekitar Rp 224 juta per unitnya pada akhir tahun ini.

Adapun kinerja bitcoin di sepanjang 2020 merupakan catatan terbaiknya selama delapan tahun terakhir atau sejak 2012. Mata uang kripto lainnya seperti ethereum dan XRP pun mengikuti kenaikan harga bitcoin, masing-masing membukukan kenaikan lebih dari 20% pada dua pekan pertama tahun ini.

Co-Founder Kenetic Capital Jehan Chu mengatakan ada beberapa perkembangan yang telah membantu menopang lonjakan harga bitcoin baru-baru ini yang menekan harga mata uang kripto lainnya seperti ethereum dan XRP.

"Ketidakpastian konflik Iran serta sambutan positif pasar terhadap peluncuran CME Bitcoin Options menjadi katalis kuat yang mendorong lonjakan harga bitcoin," ujar Chuseperti dikutip dari CNBC International, Rabu (15/1).

(Baca: Pasca-Serangan AS, Harga Bitcoin di Iran Tembus Rp 360 Juta)

Chu merujuk pada ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta opsi bitcoin yang baru diluncurkan di Chicago Mercantile Exchage (CME) pada Senin 13 Januari 2020. CME Bitcoin Options menjadi cara bagi investor institusi untuk berinvestasi bitcoin.

Optimisme telah kembali ke pasar pasca jatuhnya harga bitcoin setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarahnya pada 19 Desember 2017 di level US$ 19.497,36. Setelah itu harga bitcoin terus turun hingga ke level US$ 3.236,76 pada 16 Desember 2018. Para ahli melihat itu nilai terendah bitcoin harganya kembali naik di sepanjang 2019.

"Sejumlah sentimen menyebabkan volatilitas harga bitcoin, tapi kami melihat ada peningkatan investor institusi yang menopang pasar," kata Chu.

Selain didorong sentimen geopolitik dan respon positif pasar terhadap opsi bitcoin di CME, aspek teknis penambangan bitcoin juga turut menopang kenaikan harganya. Sebuah peristiwa yang diebut 'halving' akan terjadi pada Mei mendatang.

(Baca: Popularitas Bitcoin di Indonesia Kalahkan Malaysia hingga Prancis)

Pada konsep blockchain, halving didefinisikan sebagai pemangkasan separuh hasil bitcoin yang bisa ditambang oleh miners, setelah menyelesaikan masalah matematika rumit dengan  komputer berspesifikasi tinggi untuk memvalidasi transaksi bitcoin. Miners yang lebih dulu menyelesaikan masalah tersebut akan diberi imbalan berupa bitcoin.

Saat ini, penambang bitcoin diberi imbalan sebesar 12,5 per blok yang ditambang. Imbalan ini pangkas separuh setiap empat tahun untuk menjaga inflasi. Mei mendatang bayaran yang akan didapatkan miners akan dipangkas separuh menjadi 6,25 bitcoin.

Halving bertujuan mengurangi suplai bitcoin di pasar yang telah ditulis ke dalam aturan atau kode bitcoin yang mendasarinya. Peristiwa halving sebelumnya telah mendahului kenaikan harga bitcoin yang besar.

Head of Asia for Cryptocurrency Exchange Luno Vijay Ayyar mengatakan bahwa proses halving masih diperdebatkan apakah proses ini telah dimasukkan ke dalam harga atau belum.

(Baca: Terus Merosot, Peluang Kenaikan Harga Bitcoin Tergantung Pasar)

“Saya menduga kebanyakan orang tidak menyadari, dan ketika harga mulai bergerak naik, massa akan masuk seperti yang kita lihat sebelumnya. Ini dijadwalkan akan terjadi pada Mei 2020,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa harga bitcoin yang menembus US$ 15.000 - 16.000 pada akhir tahun 2020 merupakan target yang masuk akal.

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait