Gaet Eks Karyawan Google & Microsoft, WHO Kembangkan Aplikasi Corona

Aplikasi WHO akan membantu masyarakat memeriksa gejala Covid-19, melacak kontak, memperingatkan potensi penularan, hingga panduan tes corona.
Cindy Mutia Annur
10 Mei 2020, 12:25
who, aplikasi corona, virus corona, covid 19,
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/aww.
WHO bakal meluncurkan aplikasi yang membantu masyarakat memeriksa gejala Covid-19, melacak kontak, hingga memperingatkan potensi penularan virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggaet insinyur dan desainer eks karyawan Google dan Microsoft untuk mengembangkan aplikasi corona berbasis bluetooth yang bakal diluncurkan bulan ini. Dengan aplikasi ini, masyarakat bisa memeriksa gejala Covid-19 hingga melacak kontak.

Kepala Informasi WHO Bernardo Mariano mengatakan bahwa aplikasi ini nantinya bisa menanyakan kepada orang-orang tentang gejala yang mereka alami dan menawarkan panduan seperti cara untuk tes corona, yang akan dipersonalisasi sesuai dengan negara pengguna.

WHO berharap aplikasinya dapat menarik minat di negara-negara lain, termasuk beberapa negara di Amerika Selatan dan Afrika di mana jumlah kasus yang terjangkit corona meningkat. Pasalnya, negara-negara itu dinilai kekurangan teknologi dan insinyur untuk mengembangkan aplikasi pelacak virus asal Wuhan, Tiongkok, ini.

"(Aplikasi ini) benar-benar bernilai untuk negara yang tidak memiliki apa-apa, yang tidak mampu (menyediakan aplikasi) dan memiliki sistem kesehatan yang rapuh," ujar Mariano, dikutip dari Reuters, Sabtu (9/5).

Advertisement

(Baca: Lacak Kasus Corona, Masyarakat Diminta Unduh Aplikasi Pedulilindungi)

Mariano melanjutkan, meskipun instansi bakal merilis versi aplikasi secara global, pemerintah dari berbagai negara dapat mengambil teknologi dari aplikasi tersebut serta menambahkan fitur dan merilis versi sendiri di toko aplikasi.

Di samping itu, ia mengatakan bahwa dia ingin memasukkan fitur tambahan di luar pemeriksa gejala corona, termasuk panduan mandiri untuk perawatan kesehatan mental.

Tim juga sedang mempertimbangkan apa yang oleh WHO disebut sebagai penelusuran kedekatan (proximity tracing).

Para perancang aplikasi telah melakukan pekerjaan pendahuluan dan berbicara dengan pembuat sistem operasi smartphone Apple dan Google tentang kemungkinan adopsi teknologi yang rencananya akan dirilis bersama bulan ini untuk mempermudah penelusuran.

(Baca: Daftar Aplikasi Terbaru Facebook, Internet Gratis hingga Data Corona)

Teknologi ini bergantung pada 'jabat tangan' atau pertemuan virtual antar-ponsel dalam jarak beberapa meter setidaknya selama lima menit. Ponsel lalu menyimpan catatan pertemuan tersebut yang memungkinkan seseorang positif corona untuk secara anonim mengirim pemberitahuan ke kontak terbaru tentang potensi paparan virus.

Namun, Mariano mengatakan pertimbangan hukum dan privasi membuat WHO tidak menjalankan fitur tersebut. "Kami ingin memastikan kami memagari semua risiko di sekitarnya," katanya.

Ia pun menyatakan keprihatinannya tentang banyaknya bisnis yang menggunakan alat jarak dekat dan menggunakan data pribadi apa pun yang mereka kumpulkan untuk menghasilkan pendapatan.

Apple dan Google mengatakan sistem mereka tidak akan menggunakan data apa pun untuk keperluan lain dan akan dihentikan ketika pandemi berakhir.

(Baca: Karyawan Google dan Facebook Bekerja dari Rumah hingga Akhir Tahun)

Reporter: Cindy Mutia Annur
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait