Bill Gates Kucurkan Rp 388 Miliar untuk Bikin Semen Ramah Lingkungan

Breakthrough Energy Ventures yang digawangi Bill Gates, Jeff Bezos, dan Michael R. Bloomberg sebagai investornya berinvestasi pada Ecocem Materials yang mengembangkan semen ramah lingkungan.
Image title
11 Mei 2021, 14:43
bill gates, investasi, semen ramah lingkungan
Instagram/BillGates
Perusahaan modal ventura Breakthrough Energy Venture yang didirikan Bill Gates, berinvestasi € 22,5 juta atau Rp 388 miliar untuk mengembangkan semen ramah lingkungan pada Ecocem Materials Ltd.

Perusahaan modal ventura milik bos Microsoft, Bill Gates, Breakthrough Energy Ventures dan Breakthrough Energy Ventures Europe berinvestasi € 22,5 juta atau sekitar US$ 27,3 juta (Rp 388 miliar) pada Ecocem Materials Ltd dalam mengembangkan semen ramah lingkungan.

Dikutip dari Bloomberg, dana tersebut akan digunakan perusahaan yang berbasis di Irlandia ini untuk mengurus perizinan dari regulator Uni Eropa untuk meluncurkan formulasi baru dalam pembuatan semen yang memiliki jejak karbon minimal, dan membangun pabrik baru di luar kawasan Eropa.

Investor perusahaan modal ventura yang menguasai pendanaan hingga US$ 2 miliar (Rp 28,4 triliun) ini tidak hanya Bill Gates, tetapi juga bos Amazon Inc. Jeff Bezos dan pendiri Bloomberg LP. Michael R. Bloomberg.

Ecocem ingin membuktikan kepada perusahaan semen global bahwa formulasi semen rendah karbonnya dapat dibuat di berbagai belahan dunia dengan melisensikan teknologinya. Mereka juga akan terus meningkatkan skala produksinya sendiri.

Advertisement

“Sulit untuk memikirkan topik yang kurang seksi daripada semen. Jadi kami sangat menghargai kedalaman dan ketelitian sains dan teknik di balik pendekatan Ecocem,” kata Eric Toone, pimpinan teknis di BEV, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (11/5).

Proses produksi semen berkontribusi sebesar 8% dari polusi karbon secara global. Sebagian besar emisi karbon dari pembuatan semen berasal dari produksi klinker yang merupakan bahan pengikat semen yang komposisinya bisa mencapai 70% dari produk akhir.

semen
semen (Arief Kamaludin|KATADATA)

Bahan inilah yang mengikat air dan kerikil untuk membuat beton. Tantangannya adalah pabrik semen dapat bertahan hingga lima dekade, yang artinya teknologi baru masuk sangat lambat.

Klinker dibuat dengan memanaskan batu kapur dalam tungku bersama dengan tanah liat. Proses yang intensif energi ini menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar. Meskipun proses pemanasannya tidak menggunakan bahan bakar fosil.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Ecocem memproduksi slag sebagai pengganti klinker. Slag yang memiliki sifat kimia mirip dengan klinker, sebenarnya adalah limbah yang dihasilkan dari produksi baja. Pemanfaatannya untuk memproduksi semen disebut lebih ramah lingkungan daripada klinker.

Saat ini banyak perusahaan Eropa yang menjual semen ramah lingkungan dengan mengganti sebagian klinker mereka dengan slag yang dibeli dari Ecocem. Namun pendiri Ecocem Donal O’Riain mengatakan produksi slag secara global setiap tahunnya hanya sekitar 300 juta metrik ton.

Jumlah tersebut tidak cukup untuk memasok miliaran ton semen yang dikonsumsi setiap tahun. Oleh sebab itu, Ecocem mencari cara untuk menurunkan komposisi slag dan klinker dalam semen menjadi 30% slag, 20% klinker, dan bahan penyusun lainnya. Formulasi inilah yang akan

Ecocem menolak untuk memerinci bahan penyusun lainnya. Mereka hanya memastikan bahwa produk akhir semen yang dihasilkan memiliki jejak karbon yang kecil dan dapat memaksimalkan aktivasi klinker dan slag menjadi agen pengikat semen yang lebih efektif.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait