10 Pembangkit Listrik Hidro PLN Beroperasi, Kapasitas Bertambah 142 MW

Image title
9 Agustus 2021, 19:48
pembangkit listrik, plta, pln
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

PLN terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM). Setidaknya ada 10 pembangkit listrik hidro yang mendapat sertifikat layak operasi atau telah beroperasi hingga semester I tahun ini.

Dengan demikian realisasi tambahan kapasitas dua jenis pembangkit energi baru terbarukan (EBT) PLN hingga Juni 2021 mencapai 142,8 megawatt (MW). Adapun PLTA/PLTM tersebut yaitu PLTM Cikaso 3 (9,9 MW), PLTM Cibuni Mandiri (2 MW), PLTM Cikandang (6 MW).

Lalu PLTM Lawe Sikap (7 MW), PLTM Cibanteng (4,2 MW), PLTM Kumbi Sedau (0,9 MW), PLTM Gunung Wugul (3,3 MW), PLTM Parmonangan 2 (10 MW), PLTM Pelangai Hulu (9,8 MW), dan yang terbesar PLTA Malea (90 MW).

“Proyek-proyek ini merupakan wujud nyata transformasi PLN melalui aspirasi Green, dengan terus meningkatkan bauran EBT dalam penyediaan listrik nasional,” ujar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi, dalam keterangan tertulis, Senin (9/8).

Dia menambahkan bahwa realisasi target penambahan kapasitas pembangkit hidro PLN masih dapat terus bertumbuh sejalan dengan berjalannya proyek pembangkit.

Merujuk pada RUPTL 2019 – 2028, potensi pengembangan PLTA dan PLTM di Indonesia sendiri mencapai kisaran 9 gigawatt (GW). Sejauh ini, PLN telah mengembangkan PLTA dan PLTM dengan total kapasitas sebesar 5.214 MW.

Sejauh ini, beberapa proyek PLTA yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional dan diharapkan dapat beroperasi dalam waktu dekat juga telah menunjukkan perkembangan yang baik. Misalnya PLTA Jatigede (110 MW) yang kini progresnya mencapai 86,06% dan PLTA Peusangan 1 & 2 (87 MW) dengan progress 87,02%.

Dalam upaya pengembangan energi bersih yang berkelanjutan, PLN pun juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan para pengembang dari dalam maupun luar negeri. “PLN membuka peluang bagi pengembang atau investor. Baik lokal maupun internasional dalam pengembangan pembangkit EBT Hidro," ujar Agung.

PLN telah menyiapkan transisi menuju energi bersih sebagai respons terhadap perubahan iklim dan tren penggunaan EBT secara global. Hal ini melandasi perseroan dalam menyiapkan berbagai langkah pengembangan pembangkit berbasis EBT di Kawasan Indonesia Timur.

Perusahaan setrum pelat merah ini pun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk melakukan konversi pembangkit dari sumber-sumber berbasis fosil ke EBT. Pada tahap pertama, PLN akan melakukan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di 200 lokasi.

Semua ini menurut Agung merupakan bagian dari komitmen PLN untuk memenuhi target 23% EBT pada bauran energi pada 2025. Komitmen yang sama ditegaskan untuk pencapaian net zero emission atau nol emisi bersih pada 2060.

Advertisement

Selain konversi PLTD, PLN juga telah menyiapkan peta jalan untuk melakukan pensiun bertahap bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) miliknya. “Tahapan monetisasi PLTU batu bara sebesar 50,1 GW hingga 2056 akan dilaksanakan dan menggantinya dengan EBT secara bertahap," kata Agung.

Untuk pembangunan pembangkit EBT, PLN akan melakukannya dengan cermat. Apabila di suatu daerah, suplai listriknya sudah melebihi kapasitas, maka penambahan pembangkit perlu diselaraskan dengan kebutuhan sistem.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait