Andalkan APBN dan APBD, Kapasitas Terpasang PLTS Jateng Capai 995 kWp

Kapasitas PLTS di Jawa Tengah yang dibangun menggunakan APBN mencapai 881 kWp sedangkan APBD 114 kWp.
Image title
17 September 2021, 14:48
plts, jawa tengah, ebt, energi baru terbarukan
ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/aww.
Pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS.

Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang telah terbangun hingga saat ini telah mencapai 995 kilowatt peak (kWp). Provinsi yang dipimpin gubernur Ganjar Pranowo ini berkomitmen terus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT).

Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan selama ini pengembangan PLTS di Jateng mengandalkan pembiayaan dari APBN dan APBD.

Misalnya seperti program PLTS solar home system (SHS), PLTS komunal off-grid, Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS), maupun PLTS atap di bangunan publik seperti kantor pemerintahan, sekolah atau pesantren.

“Hingga 2021, sudah terbangun 995 kWp PLTS di Jawa Tengah yang dipasang dengan APBN (881 kWp) dan APBD provinsi serta kabupaten (114 kWp)," kata dia Jumat (17/9).

Jumlah tersebut seharusnya bertambah dengan sedang dibangunnya PLTS atap di UMKM dan pondok pesantren berjumlah total 31 unit dengan kapasitas 192 kWp, yang penyelesaiannya masih terkendala pandemi Covid-19.

Salah satu kebijakan yang sedang diramu oleh ESDM Jateng yakni peta jalan energi surya. Peta jalan tersebut dimaksudkan untuk memberikan panduan pengembangan PLTS dan memberikan sinyal untuk menarik lebih banyak lagi investasi di PLTS atap baik skala industri maupun rumah tangga.

Berdasarkan kajian IESR, potensi teknis surya di Jawa Tengah melimpah, yakni mencapai 193-670 gigawatt peak (gWp) dengan total potensi pembangkitan dari PLTS mencapai 285-959 terawatt-hour (TWh) per tahun. Dengan potensi sebesar itu, Jawa Tengah bisa menjadi pemimpin pengembangan PLTS di Indonesia.

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan pengembangan PLTS skala besar sangat relevan dan sejalan dengan keinginan Pemprov Jateng untuk menarik investasi. Dengan menyediakan dan mendukung pengembangan PLTS, maka Jateng dapat menjadi tujuan investasi untuk industri-industri yang membutuhkan EBT.

Hasil survey pasar IESR yang dilakukan di tujuh wilayah di Jawa Tengah untuk sektor rumah tangga, bisnis/komersial, dan UMKM menunjukkan adanya ketertarikan tinggi untuk memasang PLTS atap dengan skema pembiayaan yang menarik.

“Di Jateng sendiri terdapat potensi pasar kelompok bisnis/komersial yang berminat memasang PLTS atap mencapai 9,8% (setara 16.000 unit usaha) dan UMKM 10,8% (setara 450.000 unit usaha),” kata Program Manager Akses
Energi Berkelanjutan, IESR Marlistya Citraningrum.

Selain PLTS atap, Jateng juga memiliki 42 waduk berpotensi menjadi lokasi PLTS terapung. Berdasarkan pemetaan IESR dan Pemprov Jateng, potensi teknis total PLTS terapung mencapai 723 MWp. Beberapa waduk yang menarik perhatian investor dan pengembang PLTS di antaranya Waduk Kedung Ombo, Waduk Gajah Mungkur, Waduk Wadaslintang dan Waduk Mrica.

Seperti diketahui, pemerintah telah menargetkan bauran EBT sebesar 23% pada 2025. Demi mencapai target tersebut, pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit EBT tahun ini sebesar 12 gigawatt (GW). Target tersebut meningkat 14% dibandingkan dengan realisasi pada 2020 yang mencapai 10,47 GW.

Adapun, pertumbuhan kapasitas pembangkit EBT sebesar 1,71% pada 2020. Pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah dibandingkan capaian tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu upaya pengembangan kapasitas pembangkit EBT di Indonesia dengan membangun PLTS Terapung Cirata berkapasitas 145 MW sejak akhir 2020. Proyek tersebut diperkirakan selesai pada 2022 dan menjadi PLTS terapung paling besar di Asia Tenggara.

Selain itu, penambahan kapasitas pembangkit EBT melalui pembangunan PLTA Poso 66 MW, pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) Merauke 3,5 MW, PLTS atap 13,4 MW, serta pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) Sion 12,1 MW.

Kementerian ESDM sendiri memperkirakan potensi EBT di Indonesia mencapai 417,8 GW. Potensi tersebut berasal dari arus laut samudera sebesar 17.9 GW, panas bumi 23,9 GW, bioenergi 32,6 GW, angin 60,6 GW, air 75 GW, dan matahari atau surya 207,8 GW. Simak databoks berikut:

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait