ESDM Kategorikan Tiga Kelompok PLTU untuk Perdagangan Karbon

Pemerintah menentukan tiga kelompok PLTU beserta nilai cap emisi karbonnya untuk implementasi perdagangan karbon.
Image title
1 Desember 2021, 12:58
pltu, perdagangan karbon, emisi karbon
PLN
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 8.

Pemerintah terus berupaya untuk memenuhi target penurunan emisi karbon di sektor energi. Salah satunya melalui implementasi perdagangan karbon di sektor pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batu bara.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Wanhar menyampaikan pemerintah telah memulai uji coba perdagangan karbon di sejumlah PLTU. Adapun penerapannya memakai skema cap and trade.

Dari cap atau batas intensitas emisi yang sudah ditentukan, pemerintah telah mengkategorikannya menjadi tiga kelompok. Hal tersebut dengan mempertimbangkan dari segi kapasitas PLTU dan teknologi yang ada.

"Jadi cap yang sudah kita terapkan dalam rangkaian uji coba tersebut memang kita bagi dalam tiga grup mengingat banyak variasi PLTU dalam hal kapasitas mulai 7 MW sampai 1.000 MW," ujarnya dalam Indonesia Carbon Forum, Rabu (1/12).

Advertisement

Ketiga kategori tersebut yaitu PLTU yang mempunyai kapasitas di atas 400 MW nilai cap 0,918 ton CO2/MWh; PLTU 100-400 MW dengan nilai cap 1,013 ton CO2/MWh; dan PLTU mulut tambang kapasitas 100-400 MW dengan nilai cap 1,094 ton CO2/MWh.

Lebih lanjut, Wanhar mengatakan akan ada potensi insentif yang dapat diterima unit PLTU. Terutama bagi PLTU yang berada di bawah nilai cap dapat memperjualbelikan emisi CO2 nya dengan nominal yang cukup besar.

"Ada potensi dari uji coba itu Rp 1,2 miliar ini menjadi insentif bagi unit PLTU yang emisinya di bawah cap. Kemudian di bawah itu potensi Rp 200 juta bagi unit pembangkit EBT dengan diterapkan carbon credit," katanya.

Sebelumnya, PLN mengklaim telah sukses mengeksekusi perdagangan karbon melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ini merupakan bagian dari uji coba jual beli karbon di sub sektor ketenagalistrikan yang dimulai pada Maret sampai dengan Agustus 2021.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi mengatakan sebanyak 80 PLTU milik PLN dan produsen listrik swasta turut terlibat dalam uji coba ini.

"Uji coba ini mendorong unit PLTU untuk melakukan upaya penurunan emisi, baik di dalam lokasi PLTU maupun di luar lokasi PLTU dengan melakukan pembelian kuota emisi dan offset karbon," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/8).

Menurut dia batasan cap yang ditetapkan pemerintah menentukan jumlah alokasi kuota emisi masing-masing PLTU, di mana PLTU yang emisinya melebihi alokasi kuota emisi, dapat membeli kuota emisi dari PLTU lain yang memiliki surplus kuota emisi. PLTU Tanjung Jati B Unit 4 milik PLN, merupakan bagian dari suksesnya perdagangan karbon ini.

Sebagai pembangkit dengan intensitas emisi terendah pada 2020, PLTU TJB memiliki surplus kuota emisi yang cukup besar. Dalam uji coba perdagangan emisi ini, PLTU Tanjung Jati B Unit 4 berhasil mentransfer kuota emisi pada PLTU Punagaya, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Sebalang dan PLTU Teluk Sirih dengan harga Rp 30.000 per ton CO2.

Ia menjelaskan PLTU milik PLN Grup lainnya juga telah turut memperdagangan kuota emisi sesuai mekanisme yang diatur Kementerian ESDM. PLN menurutnya berkomitmen dalam mendorong penurunan emisi karbon.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait