Orang Terkaya India Gelontorkan Rp 1.160 Triliun Untuk Proyek EBT

Orang terkaya India, Mukesh Ambani, berinvestasi US$ 81 miliar untuk proyek energi bersih dan EBT melalui perusahaannya Reliance Industries Ltd.
Image title
18 Januari 2022, 20:32
orang terkaya india, ebt, proyek ebt, energi bersih, mukesh ambani
Wikipedia
Mukesh Ambani akan investasikan US$ 81 miliar atau sekitar Rp 1.160 triliun untuk proyek energi baru terbarukan (EBT) atau energi bersih.

Orang terkaya di India dan Asia, Mukesh Ambani, berencana untuk menginvestasikan hingga US$ 81 miliar atau sekitar Rp 1.160 triliun, untuk proyek energi baru terbarukan (EBT) di India melalui perusahaan yang ia kendalikan, Reliance Industries Ltd.

Bloomberg melaporkan bahwa Reliance telah menandatangani pakta investasi dengan pemerintah negara bagian Gujarat, India. Sekitar US$ 68 miliar (Rp 974 triliun) akan digunakan selama 15 tahun ke depan untuk membangun proyek pembangkit listrik EBT berkapasitas 100 gigawatt (GW) dan jaringan hidrogen hijau.

Melansir data Forbes, total kekayaan Ambani saat ini mencapai US$ 98,3 miliar atau sekitar setara Rp 1.410 triliun. Adapun rencana investasi ini delapan kali lebih besar dibandingkan komitmen investasi yang ia umumkan pada Juni 2021 sebesar US$ 10 miliar selama tiga tahun untuk tujuan yang sama.

Kemudian sekitar US$ 8,1 miliar akan digunakan untuk membangun pabrik yang memproduksi modul surya, pengelektrolisis hidrogen, sel bahan bakar dan baterai listrik. Sisanya akan dibelanjakan untuk proyek baru dan proyek yang sudah ada, termasuk peningkatan jaringan telekomunikasi 5G dan perluasan bisnis ritel konsumennya.

Advertisement

Reliance dilaporkan telah memulai proses pencarian lahan untuk proyek pembangkit listrik EBT dan telah meminta pemerintah Gujarat untuk menyediakan lahan seluas 182.110 hektare (ha) di wilayah Kutch yang gersang.

Sebagai informasi, Reliance merupakan perusahaan multinasional yang menguasai sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang energi, petrokimia, tekstil, sumber daya alam, ritel, dan telekomunikasi di India.

Pakta investasi ini hanya sebatas nota kesepahaman saat ini, namun itu menguraikan ruang lingkup ambisi hijau Ambani yang tengah berupaya mentransformasi kerajaan bisnisnya yang berbasis bahan bakar fosil menjadi energi hijau atau EBT dan teknologi digital.

Proyek ini akan mendorong pencapaian target Reliance untuk menjadikan operasionalnya netral karbon pada 2035. Ini merupakan target yang sangat ambisius mengingat 60% pendapatan Reliance berasal dari pengolahan minyak mentah dan petrokimia.

Sebelumnya milyuner India lainnya, Gautam Adani dari Adani Group, lebih dulu menandatangani pakta investasi dengan raksasa baja asal Korea Selatan, Posco, untuk mengembangkan bisnis hijau di India, salah satunya membangun pabrik pengolahan baja di Gujarat dengan potensi investasi US$ 5 miliar atau Rp 72 triliun.

Grup Adani sebelumnya juga telah berkomitmen untuk menginvestasikan US$ 70 miliar (Rp 1.003 triliun) hingga 2030 di sepanjang rantai nilai bisnis energi hijaunya. Sebagai informasi, total kekayaan Gautam Adani saat ini mencapai US$ 90,7 miliar atau lebih dari Rp 1.300 triliun.

Grup Reliance dan Adani, yang memperoleh kekayaannya dari bisnis bahan bakar fosil, semakin mendapat tekanan untuk ikut serta dalam upaya melawan perubahan iklim dengan memperluas jejak bisnis energi bersih mereka.

Ambisi kedua milyuner India ini dan kemampuan mereka menjalankan komitmen pengembangan EBT dan energi bersihnya sangat penting bagi negara berpenduduk 1,38 miliar jiwa yang menargetkan untuk bebas karbon pada 2070.

Laporan BP Statistical Review of World Energy 2021 mencatat konsumsi energi terbarukan mencapai 31,71 eksajoule sepanjang 2020. Energi terbarukan yang dimaksud dalam laporan ini adalah tenaga surya, angin, dan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN).

Dalam hal ini India berada di urutan kelima negara pengkonsumsi energi terbarukan terbesar di dunia, yakni mencapai 1,43 eksajoule. Selengkapnya, simak databoks berikut:

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait