Sempat Anjlok 5%, Harga Minyak Masih akan Tertekan Sentimen Corona

Harga minyak sempat anjlok hingga lebih 5% karena stok minyak AS yang melimpah dan lonjakan kasus baru corona yang masih akan menekan permintaan.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
25 Juni 2020, 08:41
harga minyak, virus corona, persediaan minyak as
KATADATA
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak anjlok hingga lebih dari 5%. Namun permintaan minyak belum lepas dari tekanan sentimen virus corona seiring kasus baru yang terus meningkat.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Harga minyak mentah dunia kembali stabil pada perdagangan Kamis (25/6) waktu Indonesia, setelah pada sesi sebelumnya anjlok lebih dari 5%. Adapun kejatuhan minyak dipicu lantaran stok minyak mentah di Amerika Serikat yang mencapai rekor.

Selain itu, melonjaknya kasus baru virus corona di beberapa negara maju seperti Jerman dan Amerika Serikat (AS) juga turut menekan harga. Minyak jenis Brent pada perdagangan Rabu (24/6) turun US$ 2,32 atau 5,4% menjadi US$ 40,31 per barel. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 2,36 atau 5,5% menjadi US$ 38,01 per barel.

Namun menurut data Bloomberg pagi ini, harga minyak Brent berbalik naik 0,32% ke level US$ 40,44 per barel. Sedangkan harga minyak WTI naik 0,39% ke level US$ 38,16 per barel.

"Pasar telah memberi sinyal bahwa tanpa kepastian permintaan energi yang sempat anjlok karena pandemi corona akan segera pulih, maka harga minyak yang tinggi sangat tidak masuk akal," kata analis dari Tradition Energy, Gene McGillian, seperti dikutip Reuters, Kamis (25/6).

(Baca: Harga Minyak Dunia Kembali Turun Tertekan Lonjakan Persediaan AS)

Seperti diketahui, AS memiliki peningkatan infeksi terbesar kedua sejak pandemi dimulai. Infeksi yang meningkat di sana serta Tiongkok, Amerika Latin dan India telah membuat para investor khawatir dan menekan harga minyak.

Energy Information Administration (EIA) menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah AS pekan lalu membengkak sebesar 1,4 juta barel, jauh melebihi ekspektasi sebesar 299.000 barel. Hal itu pun menandai rekor ketiga berturut-turut untuk penyimpanan minyak mentah AS.

Sementara itu Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), mengatakan bahwa pandemi menyebabkan kerusakan ekonomi yang lebih luas dan lebih dalam dari yang diperkirakan. IMF pun kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global lebih dalam lagi.

Permintaan energi yang rendah pun terlihat dari impor minyak India pada bulan Mei yang mencapai level terendah sejak Oktober 2011 seiring kilang-kilang masih memiliki persediaan minyak yang berlimpah.

Tiongkok yang merupakan importir minyak mentah utama dunia, juga diperkirakan akan menurunkan impor minyaknya pada kuartal ketiga tahun ini, setelah mencatatkan rekor pembelian dalam beberapa bulan terakhir.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait