Permintaan Masih Lemah, Harga Batu Bara Acuan Indonesia Terus Merosot

Harga batu bara acuan Indonesia terus turun sejak Maret 2020, bertepatan dengan dinyatakannya Covid-19 sebagai pandemi global.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
1 September 2020, 19:32
harga batu bara acuan, permintaan batu bara lemah
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (13/6/2020).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) September 2020 sebesar US$ 49,42 per ton, atau turun US$ 0,92 per ton dari HBA Agustus US$ 50,34 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan turunnya HBA lantaran pandemi Covid-19 masih menekan konsumsi batu bara domestik dan permintaan pasar global.

Minimnya serapan ini tak lepas dari belum pulihnya perekonomian Tiongkok dan India yang menjadi pasar utama penjualan batu bara Indonesia. "Harga Batubara Acuan (HBA) di bulan September ditetapkan sebesar US$ 49,42 per ton," ujar Agung berdasarkan keterangan tertulis, Selasa (1/9).

Menurut Agung sentimen utama dari kontraksi HBA disebabkan oleh pengetatan kebijakan impor Tiongkok dan India. Kondisi itu berujung pada melimpahnya cadangan batu bara di kedua negara tersebut sehingga impornya turun.

"Covid-19 menyebabkan penurunan impor batu bara oleh Tiongkok sebesar 20% dan belum pulihnya permintaan dari India pasca-lockdown," ujarnya.

Semenjak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi global, HBA sempat menguat sebesar 0,28% ke level US$ 67,08 per ton pada Maret 2020, naik dari posisi US$ 66,89 per ton pada bulan sebelumnya. Setelah itu HBA terus turun hingga menjadi US$ 52,16 per ton pada Juli.

Sebagai informasi, HBA sendiri diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya. Kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilogram GAR.

Nantinya, harga acuan ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait