AS Tambah Stimulus Rp 9.600 Triliun, Rupiah Menguat ke Rp 16.130 /US$

AS dikabarkan tengah menyiapkan paket stimulus baru sebesar Rp 9.684 triliun untuk meredam dampak ekonomi pandemi corona.
Agatha Olivia Victoria
31 Maret 2020, 17:06
nilai tukar rupiah, stimulus fiskal as, bank indonesia
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat ke level Rp 16.130/US$ pada perdagangan pasar spot sore ini, Selasa (31/3).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,17% ke level Rp 16.130 per dolar pada pasar spot sore ini, Selasa (31/3). Mata Uang Garuda menguat seiring kabar stimulus fiskal lanjutan AS sebesar US$ 600 miliar atau sekitar Rp 9.684 triliun.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga menguat sore ini. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong naik 0,02%, dolar Taiwan 0,01%, won Korea Selatan 0,5%, peso Filipina 0,48%, rupee India 0,04%, yuan Tiongkok 0,05%, dan ringgit Malaysia 0,28%. Sementara yen Jepang, dolar Singapura, dan baht Thailand melemah masing-masing 0,58%, 0,05%, dan 0,64%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, kepanikan global saat ini mulai mereda. Sehingga, sejak satu minggu terakhir nilai tukar rupiah bergerak dalam mekanisme pasar yang baik.

"Ini karena memang telah disepakatinya stimulus fiskal dalam jumlah besar di AS yang sebelumnya US$ 2 triliun lebih dan hari ini saya dapat kabar bahwa nantinya akan ditambah lagi US$ 600 miliar," kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (31/3).

Advertisement

(Baca: BI Catat Dana Asing Kabur dari RI Rp 167,9 Triliun Akibat Corona)

Adapun berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, rupiah berada dalam posisi melemah 31 poin. Dalam kurs yang dipublikasikan Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB ini, mata uang Garuda berada di level Rp 16.367.

Perbaikan nilai tukar ini, lanjut Perry, juga terjadi karena mekanisme pasar yang semakin baik. Terutama pada pelaku antar bank, eksportir, dan investor global.

Di sisi lain, Perry pun berharap para importir maupun pihak yang memerlukan pasokan dolar AS bisa masuk melalui instrumen Domestic Non-Delivery Forward (DNDF). "Karena dari DNDF preminya relatif murah dan juga bisa menjaga lindung nilai tukar rupiah," ujarnya.

Bahkan, dia mengatakan telah berdiskusi dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir agar kebutuhan valas dari BUMN bisa disediakan melalui DNDF. Begitu pula dengan para investor global.

Meski begitu, bos bank sentral ini menjelaskan bahwa volatilitas atau ketidakpastian masih tinggi saat ini. "Terutama terkait persebaran virus corona yang hampir berada di seluruh negara," tutup dia.

(Baca: Rupiah Loyo ke Rp 16.337 per Dolar AS Tertekan Wacana Lockdown Jakarta)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait