Senat AS Loloskan RUU Dukung Hong Kong, Rupiah Melemah Tipis Pagi ini

Dukungan AS terhadap demonstran di Hong Kong berpotensi mengancam kelanjutan perjanjian dagang dengan Tiongkok.
Agatha Olivia Victoria
21 November 2019, 08:51
nilai tukar rupiah, hong kong, perang dagang
Arief Kamaludin|KATADATA
Nilai tukar rupiah dan mata uang Asia melemah seiring campur tangan AS terhadap konflik di Hong Kong yang membuat penyelesaian perang dagang dengan Tiongkok menjadi tidak jelas.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar hari ini, Kamis (21/11), menguat 0,03% ke level Rp 14.085/US$. Namun, tak lama pasar dibuka, mata uang Garuda langsung turun 0,03% ke level Rp 14.094 per dolar AS dibanding posisi penutupan kemarin sore di level Rp 14.090/US$.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa risk averse sentiment kini meningkat. "Peningkatan setelah Senat AS meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk mendukung protes Hong Kong," kata Josua kepada Katadata.co.id.

Lebih lanjut, RUU ini tinggal menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump apa akan ditandatangani atau tidak. Jika RUU tersebut diloloskan, dia mengatakan bahwa Tiongkok mengancam akan melakukan tindakan balasan. Selain itu, Negeri Panda juga meminta AS untuk menghentikan RUU tersebut agar tak menjadi undang-undang.

Josua mengatakan, hal tersebut pun dapat berdampak pada pembicaraan perdagangan antara kedua negara. "Ini mengindikasikan prospek kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok diperkirakan belum dapat tercapai pada tahun ini," ucap dia.

Advertisement

(Baca: Pasar Tunggu Kebijakan BI dan The Fed, Rupiah Melemah)

Dengan adanya sentimen tersebut, ia menyebut, permintaan instrumen safe haven seperti yen Jepang dan US Treasury kembali meningkat. Mengutip Bloomberg, yen Jepang menguat 0,2% terhadap dolar AS. Sementara mayoritas mata uang Asia lainnya melemah. 

Dolar Hongkong melemah 0,03%, dolar Singapura 0,02%, dolar Taiwan 0,08%, won Korea Selatan 0,5%, peso Filipina 0,09%, rupee India 0,14%, yuan Tiongkok 0,16%, dan ringgit Malaysia 0,24%.

Sementara itu, Josua menilai, risalah FOMC menunjukkan bahwa meskipun bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menegaskan akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun Fed menegaskan potensi penurunan masih tetap ada. Terutama jika pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan global kembali melambat.

Seperti diketahui Fed telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin. Saat ini bunga acuan Fed Fund Rate berada pada kisaran 1,5-1,75%.

(Baca: IHSG Diramal Naik Meski Nasib Perang Dagang Belum Jelas)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait