IHSG dan Suku Bunga Turun, Investor Institusi Bakal Serbu Obligasi

Dengan turunnya bunga acuan dan IHSG, investor diyakini akan menambah porsi obligasi dalam portofolio investasinya.
Image title
16 Oktober 2019, 16:42
katadata investor confidence index, obligasi, portofolio investasi, katadata insight center,
KATADATA
Hasil survei KICI menunjukkan investor meyakini instrumen obligasi paling prospektif untuk tiga bulan mendatang lantaran IHSG yang menurun sepanjang triwulan III 2019 serta tren turunnya bunga acuan BI.

Investor institusi diyakini akan menggeser portofolio investasinya lebih banyak ke instrumen obligasi pada triwulan IV 2019. Investor meyakini obligasi sebagai instrumen investasi yang berkinerja terbaik dalam tiga bulan mendatang dibandingkan instrumen saham dan pasar uang.

Berdasarkan hasil survei Katadata Investor Confidence Index (KICI) yang dirilis oleh Katadata Insight Center (KIC) hari ini, Rabu (16/10), hal tersebut lantaran turunnya keyakinan investor terhadap kondisi perekonomian dan pasar modal untuk periode tiga bulan mendatang, yakni dari 147,9 menjadi 135,1.

Sejalan dengan turunnya keyakinan terhadap kondisi perekonomian dan pasar modal, 59% dari 272 investor yang disurvei menilai obligasi sebagai instrumen investasi yang akan berkinerja terbaik pada tiga bulan terakhir tahun ini, diikuti saham (28%) dan pasar uang (13%).

Sedangkan pasar saham dan pasar uang semakin tidak diminati lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang jeblok pada triwulan III, dan tren turunnya suku bunga Bank Indonesia (BI).

(Baca: Usai Pemilu, Kepercayaan Investor Merosot Akibat Lesunya Ekonomi Dunia)

Seperti diketahui IHSG yang terkoreksi hingga 2,98% sepanjang triwulan III 2019. Sementara itu BI sudah menurunkan bunga acuan, BI 7 days reverse repo rate, sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini hingga September 2019, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

Dalam pandangan investor, instrumen obligasi yang paling menarik yaitu obligasi yang bertenor panjang. Sebanyak 54% responden meyakini hal tersebut, sedangkan 46% responden meyakini obligasi bertenor pendek yang paling prospektif.

Alhasil, investor diyakini akan mengurangi porsi saham dalam portofolio investasinya untuk tiga bulan mendatang dengan nilai indeks tersebut dalam indeks ekspektasi turun dari 133,8 pada triwulan II 2019 menjadi 114,3.

Adapun nilai indeks 0-99 menunjukkan investor pesimis, 100 netral, dan 101-200 optimis. Angka 114,3 menujukkan optimisme investor yang kian tipis terhadap pasar saham sehingga hanya segelintir investor yang dipercaya masih akan menambah porsi saham dalam portofolio investasinya.

(Baca: Investor Institusi Yakin IHSG Oktober Naik, Sektor Konsumsi Potensial)

Namun investor masih optimistis nilai portofolio saham miliknya untuk tiga bulan mendatang akan naik sejalan dengan keyakinan mereka IHSG akan naik pada bulan ini. Sebanyak 48% dari 272 responden dalam survei ini meyakini IHSG akan naik, 43% meyakini IHSG akan tidak berubah, dan 9% yakin turun.

Survei KICI mengungkapkan, gejolak eksternal yang terjadi akhir-akhir ini, terutama terkait perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok yang berkepanjangan, yang menyebabkan perlambatan ekonomi global hingga menimbulkan ancaman resesi, menjadi pemicu utama volatilitas di pasar modal.

Adapun survei ini dilakukan terhadap 272 investor institusi dari Manajemen Investasi, Dana Pensiun, dan Asuransi, yang mengelola portofolio investasi lebih dari Rp 700 triliun. Survei dilakukan melalui wawancara telepon pada 12-26 September 2019.

(Baca: Kepercayaan Investor Institusi Terhadap Kinerja Pemerintah Merosot)

Video Pilihan

Artikel Terkait