IHSG Diprediksi Terkoreksi, Saham Perbankan dan Properti Direkomendasi

IHSG diprediksi melanjutkan tren koreksinya hari ini. Saham perbankan dan properti dapat menjadi pertimbangan investor untuk perdagangan hari ini.
Image title
17 September 2019, 08:24
bursa, prediksi ihsg, rekomendasi saham, ihsg turun
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi layar pergerakan IHSG. IHSG diprediksi akan melanjutkan tren koreksinya hari ini, Selasa (17/9).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Senin (16/9) terkoreksi hingga 115,41 poin atau 1,82% ke level 6.219,44. Dengan demikian, IHSG telah melaju turun selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Adapun untuk perdagangan hari ini, Selasa (17/9), beberapa analis memprediksi IHSG masih akan melanjutkan tren tersebut.

Analis Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christoper Jordan menyampaikan dalam risetnya, terkoreksinya IHSG kemarin didorong oleh turunnya sektor konsumer hingga 6,06% yang terkena sentimen negatif kenaikan cukai hasil tembakau menjadi 23% dan kenaikan harga eceran rokok sebesar 35% pada 2020.

Dia memprediksi secara teknikal IHSG hari ini bakal melanjutkan koreksi hari sebelumnya. Lebih lanjut, level resistance pertama dan kedua IHSG hari ini bergerak di level 6.298 hingga 6.259. Sementara, level support pertama dan kedua IHSG hari ini bergerak di antara 6.187 hingga 6.154.

Dennies memberikan beberap rekomendasi saham yang dapat diperhatikan oleh investor pada perdagangan hari ini seperti XL Axiata (EXCL), Semen Indonesia (SMGR), dan Adaro Energy (ADRO).

(Baca: IHSG Ditutup Anjlok 1,82%, Sektor Konsumer Paling Jeblok)

Senada, Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menyampaikan dalam risetnya,  secara teknikal pergerakan IHSG hari ini masih diproyeksi mengalami penurunan. "Dengan level support dan resistance di 6.170-6.263," kata Lanjar.

Saham-saham yang masih cukup menarik untuk dipantau oleh investor menurut Lanjar yaitu Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia (LSIP), Astra Agro Lestari (AALI), Semen Indonesia (SMGR), Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), Indofood Sukses Makmur (INDF), Unilever Indonesia (UNVR), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan Ramayana Lestari Sentosa (RALS).

Namun, Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama dalam risetnya mengindikasikan, adanya potensi IHSG hari ini rebound. "Sehingga berpeluang menuju ke arena resistance terdekat," kata Nafan.

Secara teknikal, level support pertama maupun kedua IHSG hari ini memiliki range pada 6.149 hingga 6.119. Sementara itu, resistance pertama maupun kedua memiliki range level pada 6.294 hingga 6.334.

(Baca: Cukai Rokok Naik Tinggi, Harga Saham Emiten Rokok Rontok hingga 20%)

Adapun sejumlah rekomendasi saham yang dapat menjadi pertimbangan investor, antara lain Adhi Karya (ADHI), Alam Sutera Realty (ASRI), Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Lippo Karawaci (LPKR), PP Properti (PPRO), dan PT PP (PTPP).

Sentimen Penggerak IHSG

Sentimen dari kenaikan cukai hasil tembakau yang menghantam sektor konsumer kemarin diperkirakan masih akan menjadi perhatian investor. Selain itu Bank Indonesia (BI) juga akan melaksanakan rapat dewan gubernur (RDG) pada 19 September 2019 untuk menentukan arah kebijakan moneter sebulan kedepan.

Pada pekan ini juga akan berlangsung rapat Federal Open Market Committee (FOMC)  untuk mendiskusikan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Pascaserangan bom di fasilitas kilang minyak Arab Saudi Sabtu (14/9) lalu, ada ekspektasi The Fed tidak menaikkan suku bunga acuannya.

Pasalnya, di tengah harga energi yang melonjak hingga 15%, tingkat inflasi di AS diperkirakan akan mengalami kenaikan, seperti yang ditargetkan The Fed sebelumnya. Namun dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi inti di AS diperkirakan cukup kecil sehingga The Fed akan melihat kondisi pasar tenaga kerja sebelum menaikkan atau menurunkan suku bunga.

(Baca: Serangan Kilang di Arab Saudi Memicu Lonjakan Harga Minyak hingga 19%)

Sementara dari Tiongkok, perlambatan ekonomi semakin nyata terlihat di negeri Panda. Output sektor industri kembali tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan, yang merupakan pertumbuhan terendah sejak 2012. Begitu pula di sektor ritel yang penjualannya hanya tumbuh 5,6% secara tahunan.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menyatakan bahwa akan sulit bagi ekonomi negaranya untuk tumbuh sebesar 6% atau lebih. Terutama di tengah kondisi meningkatnya proteksionisme dan uniteralisme di dalam perdagangan internasional saat ini. 

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait