Sentimen Perang Dagang Masih Positif Dorong Reli Penguatan Rupiah

Aura positif dari negosiasi dagang AS-Tiongkok mengantarkan rupiah menguat terhadap dolar AS selama dua hari berturut turut.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
13 September 2019, 17:41
nilai tukar, rupiah, perang dagang
Donang Wahyu | Katadata
Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat (AS). Sore ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan sebesar 0,2% ke Rp 13.966 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan sore hari ini, Jumat (13/9) masih mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg, rupiah naik 0,2% ke level Rp 13.966 per dolar AS.

Penguatan mata uang Garuda terhadap dolar Paman Sam terus berlanjut selama sehari penuh. Adapun pada pagi hari tadi, rupiah dibuka pada level Rp 13.930 per dolar AS atau menguat 0,45% dibanding penutupan sore kemarin di level Rp 13.994 per dolar AS.

Sementara dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah juga mencatatkan penguatan sebesar 102 poin ke level Rp 13.950 per dolar AS dibanding kurs JISDOR kemarin dimana rupiah bertengger pada level Rp 14.052 per dolar AS.

Penguatan rupiah sejak kemarin yang berlanjut hingga hari ini didorong sentimen positif yang berasal dari aura positif negosiasi dagang AS-Tiongkok saat ini untuk mencari solusi perang dagang. Sentimen ini juga mendorong kenaikan hampir seluruh mata uang Asia.

(Baca: Rupiah Menguat, Menko Darmin Minta Pengusaha Tak Khawatir)

Seperti diketahui, kemarin Kamis (12/9) Presiden AS Donald Trump merespon keputusan Tiongkok untuk mengecualikan pengenaan tarif beberapa produk di antaranya produk anti kanker, pelumas, dan bahan pakan ternak.

Respon ini dikeluarkan dalam bentuk penundaan kenaikan tarif pada produk Tiongkok senilai US$250 miliar selama dua minggu. Sehingga pengenaan tarif akan berlaku pada 15 Oktober 2019 dimana awalnya dijadwalkan pada 1 Oktober 2019.

Di Asia, Won Korea Selatan memimpin penguatan sore hari ini sebesar 0,83% terhadap dolar AS. Kemudian disusul dolar Taiwan 0,49%, dolar Singapura 0,15%, baht Thailand 0,13%, rupee India 0,09%, yen Jepang 0,08%, ringgit Malaysia 0,02%, dan yuan Tiongkok 0,01%.

Namun tidak semua mata uang Asia berjaya terhadap dolar AS. Pelemahan kurs terlihat pada dua mata uang Asia yakni dolar Hong Kong sebesar 0,01% dan peso Filipina sebesar 0,12% terhadap dolar AS.

(Baca: ECB Sepakati Stimulus Besar Ekonomi, Mayoritas Mata Uang Asia Perkasa)

Mengutip akun twitter resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sejak awal Januari rupiah masih dalam posisi apresiasi. Terhitung pada tanggal 12 September 2019, rupiah terapresiasi 2,83% secara tahun kalender.

Apresiasi rupiah sejak Januari nyatanya lebih baik dari mata uang Filipina yang hanya terapresiasi 1,22% secara tahunan. Sementara ringgit Malaysia terus terdepresiasi 0,76% dari awal tahun, dan dong Vietnam juga tercatat terdepresiasi 0,11%.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait