Bursa Saham Asia Kompak Menghijau, IHSG Sesi I Turun 0,27%

Ekonomi Tiongkok masih menunjukkan ekspansi di tengah memanasnya perang dagang dengan AS. Hal ini menopang kinerja bursa saham Asia siang ini.
Image title
Oleh Happy Fajrian
4 September 2019, 14:03
bursa asia, perang dagang, amerika serikat, tiongkok
ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato
Pejalan kaki terpantul di kaca yang menunjukkan grafik indeks saham di luar bursa saham di Tokyo, Jepang, Selasa (6/8/2019). Bursa saham Asia kompak bergerak lebih tinggi pada perdagangan siang ini, Rabu (4/9). Sementara itu IHSG mengakhiri sesi I dengan koreksi sebesar 0,27%.

Bursa saham utama di kawasan Asia siang ini bergerak positif di tengah sentimen perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Sementara itu dari dalam negeri, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I siang ini, Rabu (4/9), turun 0,27%.

Kinerja positif bursa saham Asia hingga siang hari ini ditopang oleh rilis data ekonomi Tiongkok yang menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi di sektor jasa. Markit Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor jasa di Tiongkok naik ke level tertingginya dalam tiga bulan terakhir ke posisi 52,1.

Sektor jasa berkontribusi lebih dari separuh terhadap produk domestik bruto Tiongkok. Sehingga akselerasi di sektor ini akan memberikan bantalan yang sangat dibutuhkan ekonomi Negeri Panda di tengah peningkatan eskalasi perang dagang dengan AS.

Kendati demikian, secara umum indeks PMI periode Agustus Tiongkok, yang mencakup manufaktur dan jasa, mengalami sedikit penurunan dari sebelumnya di level 53,1 menjadi 53,0 yang menunjukkan pertumbuhan yang sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya.

(Baca: IHSG Hari ini Diramal Terkoreksi, Saham Rokok Direkomendasikan)

Hingga berita ini ditulis, Shanghai Composite Index mencatatkan kenaikan sebesar 0,36%, Nikkei bergerak fluktuatif namun saat ini tercatat naik 0,12%, Kospi naik 0,33%, Strait Times 1,08%, sedangkan Hang Seng tercatat naik paling tinggi 1,32%.

Namun investor masih mewaspadai ancaman resesi ekonomi global. Pasalnya, sektor manufaktur AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2016 yang semakin menegaskan pelemahan ekonomi global di tengah memanasnya perang dagang.

PMI sektor manufaktur AS periode Agustus 2019 yang dirilis oleh Institute for Supply Management’s (ISM) turun ke level 49,1 dari sebelumnya 51,2. Seperti diketahui, indeks PMI di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi, sedangkan di atas 50 menunjukkan ekspansi.

Perang tarif antara AS dan Tiongkok pun diprediksi belum akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman agar Tiongkok segera menyelesaikan perundingan dan melakukan kesepakatan sebelum pemilihan presiden AS pada November 2020.

(Baca: Trump Peringatkan Lagi Tiongkok Tak Terus Mengulur Perundingan Dagang)

Trump menegaskan apabila dia terpilih kembali dan belum ada kesepakatan dagang yang dicapai, maka dia akan mengambil tindakan yang lebih ekstrim dalam menanggapi praktik perdagangan Tiongkok. “Kesepakatan akan menjadi lebih sulit,” ancam Trump melalui akun Twitter-nya pada Selasa (3/9).

Ancaman tersebut dilancarkan ketika para pejabat AS dan Tiongkok tengah berjuang untuk menyepakati jadwal pertemuan berikutnya yang direncanakan akan dilangsungkan awal bulan ini.

Namun, tanda-tanda melemahnya ekonomi AS yang semakin jelas terlihat akan menjadi batu sandungan buat Trump untuk melancarkan perang dagang yang lebih sengit dengan Tiongkok.

Video Pilihan

Artikel Terkait