Gara-gara Duniatex Gagal Bayar Utang, NPL LPEI Naik Jadi 14,52%

LPEI akan meminta penjelasan dari Duniatex, dan meminta perusahaan tekstil tersebut menjual aset non produktifnya.
Image title
30 Juli 2019, 11:18
Seorang pekerja mengawasi mesin pemintal benang di salah satu pabrik milik Duniatex Grup. Kasus gagal bayar kupon obligasi anak usaha Duniatex mengejutkan pasar keuangan karena terjadi hanya berselang 4 bulan setelah penerbitannya.
Dok. Duniatex
Seorang pekerja mengawasi mesin pemintal benang di salah satu pabrik milik Duniatex Grup. Kasus gagal bayar kupon obligasi anak usaha Duniatex mengejutkan pasar keuangan karena terjadi hanya berselang 4 bulan setelah penerbitannya.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank akan memanggil Duniatex seiring dengan masalah gagal bayar kupon global bond. Atas gagal bayar tersebut, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) LPEI naik menjadi 14,52%.

"Rasio NPL LPEI yang semula 14,46%, pada 30 Juni 2019 menjadi 14,52%," kata Corporate Secretary Emalia Tisnamisastra seperti dalam surat resmi yang dikutip pada Selasa (30/7).

LPEI akan meminta penjelasan terhadap Duniatex atas kondisi yang terjadi. Selain itu, LPEI akan meminta Duniatex untuk menjual aset non produktif guna menyelesaikan kewajibannya pada LPEI.

Tidak hanya itu, LPEI akan melakukan konsolidasi dengan kreditur lain, terutama bank pemerintah dalam Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara). Selanjutnya, LPEI akan menunjuk konsultan untuk membantu dalam upaya penyelamatan. Kemudian, LPEI akan menetapkan langkah restrukturisasi setelah memperoleh rekomendasi dari konsultan.

(Baca: Fitch Ungkap Problem Berat Keuangan Grup Duniatex)

Adapun, kredit yang diberikan kepada Duniatex melalui sindikasi maupun bilateral. Pembiayaan diberikan kepada PT Delta Dunia Tekstil Rp 1,2 triliun, PT Delta Merlin Sandang Tekstil Rp 1,5 triliun, PT Delta Merlin Dunia Tekstil Rp 54 miliar, dan PT Delta Dunia Sandang Tekstil Rp 289 miliar.

Emalia pun memastikan kondisi likuiditas LPEI terjaga pada level yang aman. Likuiditas tersebut dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 15 triliun dan committed line sebesar ekuivalen Rp 1,5 triliun.

Tidak Pengaruhi Industri Tekstil

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menilai masalah Duniatex tersebut tidak akan memengaruhi industri tekstil dalam memperoleh kredit. Menurutnya, hal tersebut tidak membuat perbankan enggan menyalurkan kredit kepada perusahaan tekstil.

(Baca: Kredit Bank Mandiri ke Duniatex Rp 1,7 Triliun, Belum Kategori Macet)

"Tidak pengaruh juga (pada penyaluran kredit) karena itu masalah individu, bukan masalah (industri tekstil) keseluruhan," kata dia kepada Katadata.co.id.

Namun, ia mengindikasikan ada 41 bank yang terdampak pada permasalahan Duniatex tersebut. Hal ini terjadi lantaran perbankan tidak melakukan analisis terlebih dahulu sebelum menyalurkan kredit.

Semestinya, perbankan juga melakukan diskusi dengan pihak asosiasi dalam mempertimbangkan pemberian kredit. "Komunikasi dengan asosiasi karena behaviour dagang itu kami yang tahu," ujarnya.

Ia pun mengatakan, kasus Duniatex terjadi akibat faktor di dalam perusahaan, yaitu adanya miss management. Ade juga mengimbau bagi seluruh perusahaan tekstil untuk menerapkan sistem good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik.

(Baca: BNI Pastikan Miliki Jaminan 2,5 Kali Lipat dari Nilai Kredit Duniatex)

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait