Sesi I, IHSG Bertahan Di Zona Merah Didorong Pelemahan Rupiah

Koreksi IHSG salah satunya didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah yang berada pada posisi Rp 14.530 per dolar AS.
Happy Fajrian
10 Desember 2018, 13:37
IHSG
Arief Kamaludin|KATADATA

Indeks Harga Saham Gabungan (ISHG) tidak mampu keluar dari zona merah pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (10/12). IHSG terperosok 0,48% ke posisi 6.096,95, didorong oleh sentimen global yang kurang bersahabat serta tidak adanya sentimen domestik yang mampu mengangkat performa bursa. Kondisi yang serupa juga terjadi di sejumlah bursa Asia lainnya.

Kejatuhan IHSG salah satunya didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah ke level Rp 14.530/dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia menjelaskan, melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian AS seiring dengan data tenaga kerja AS November 2018 yang melemah. Kondisi inverted yield curve pasar obligasi AS juga turut mendorong investor melakukan aksi jual.

Dari sepuluh indeks sektoral, tercatat ada delapan sektor yang mengalami penurunan indeks. Sektor aneka industri terkoreksi paling dalam sebesar 1,39% diikuti industri dasar -0,98%, manufaktur -0,64%, infrastruktur -0,48%, keuangan -0,45%, properti -0,35%, serta konsumer -0,26%. Sementara itu dua sektor yang bergerak positif yaitu pertambangan naik tipis 0,01% dan sektor pertanian naik 0,5% tak mampu berbuat banyak untuk mengangkat indeks gabungan.

Sampai dengan sesi pertama berakhir, transaksi yang terjadi di relatif sepi. Nilai transaksi saham di sesi pertama ini tercatat baru mencapai Rp 3,14 triliun dari 5,02 miliar saham yang diperjualbelikan. Investor asing terus memberikan tekanan kepada pasar dengan melakukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 290,39 miliar.

Advertisement

Kendati indeks berada di zona merah, harga saham dua emiten yang baru melakukan penawaran saham perdana pagi ini yaitu PT Urban Jakarta Propertindo Tbk. (URBN) dan PT Satria Mega Kencana Tbk. (SOTS) mampu bergerak lincah.

Harga saham URBN yang ditawarkan seharga Rp 1.200 per lembarnya langsung melesat naik 50% menjadi Rp1.800 per saham. Sementara itu harga saham SOTS melesat naik 69,7% dari harga penawaran Rp 128 per saham menjadi Rp 165 per saham.

Dari jajaran top gainers ada tiga saham yang melesat hingga diatas 10% pada sesi perdagangan pagi ini, yaitu Sat Nusapersada Tbk. (PTSN) yang baru saja meneken kontrak kerjasama dengan Pegatron Corporation untuk merakit perangkat seluler Apple iPhone. Saham PTSN meroket hingga 24,81% menjadi Rp 805 per saham. Setelah PTSN ada Steadfast Marine Tbk. (KPAL) yang mengalami kenaikan 14,86% menjadi Rp 340 per saham. Serta Cottonindo Ariesta Tbk. (KPAS) naik 12,22% menjadi Rp496 per saham.

Sementara dari jajaran top losers, harga saham Sinergi Megah Internusa Tnk. (NUSA) terperosok hingga 24,76% menjadi Rp 158 per saham, diikuti Intikeramik Alamsari Inds. Tbk. (IKAI) turun 5,71% menjadi Rp 132 per saham dan Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) turun 2,73% menjadi Rp2.140 per saham.

(Baca juga: Jadi Mitra Pegatron Merakit iPhone, Saham Sat Nusapersada Meroket 35%)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait