Perang Dagang Mereda Sementara, Seluruh Indeks Asia Menghijau

Seluruh indeks global, kecuali indeks Eropa, mencatatkan kenaikan. Namun market masih akan mengantisipasi eskalasi perang dagang setelah 90 hari kedepan.
Happy Fajrian
3 Desember 2018, 10:34
Bursa
Arief Kamaludin | Katadata

Pasar modal Indonesia diprediksi akan lebih kondusif dengan adanya gencatan senjata antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Kabar baik sedikit meredanya tensi perang dagang antara kedua membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik hingga 1,37% ke posisi 6.139,11 pada perdagangan hari ini, Senin (3/12).

Tidak hanya IHSG yang merespon positif berita gencatan senjata antara AS dan Tiongkok. Seluruh indeks Asia dan Amerika dibuat menghijau. Nikkei 225 Index dibuka menghijau 1,41%, Hang Seng Index naik 2,59%, Shanghai Composite Index naik 2,52%, dan Strait Times Index naik 2,20%.

Sementara itu Dow Jones Index mengalami kenaikan 0,79%, S&P 500 Index naik 0,82%, sedangkan Nasdaq mengalami kenaikan 0,79%. Hanya indeks Eropa yang mengalami penurunan dengan FTSE 100 Index turun 0,83%, dan Xetra Dax turun 0,36%.

Dalam pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, Minggu (2/12), AS dan Tiongkok sepakat untuk menghentikan perang dagang antara mereka dengan tidak mengenakan tarif perdagangan tambahan selama 90 hari kedepan.

Advertisement

Menurut pernyataan dari Gedung Putih, Trump berjanji tidak akan menaikkan tarif sebesar 25% terhadap impor dari Tiongkok senilai US$200 miliar pada 1 Januari mendatang. Sementara itu Xi berjanji Tiongkok akan membeli komoditas pertanian, energi, industri, dan produk lainnya dalam jumlah yang sangat substansial.

Tidak hanya itu, pihak Tiongkok juga akan lebih terbuka dari sisi regulasi terhadap proses akuisisi NXP Semiconductors asal Belanda senilai US$44 miliar, oleh perusahaan semikonduktor asal AS, Qualcomm yang tidak disetujui oleh regulator Tiongkok sebelumnya.

Namun, dunia belum sepenuhnya aman dari eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Pasalnya, Gedung Putih juga menegaskan jika isu-isu perdagangan terkait transfer teknologi, properti intelektual, non-tariff barrier, cyber theft dan pertanian tidak mencapai kesepakatan selama 90 hari kedepan, AS akan menaikkan tarif menjadi 25%.

Hingga pukul 10.15, IHSG terus bergerak di zona hijau. IHSG pun sempat menyentuh titik tertingginya pada posisi 6.143,72 poin. Sebanyak 211 saham tercatat naik, 126 saham terkoreksi, dan 133 saham stagnan. Nilai transaksi saham mencapai Rp3,56 triliun, dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 2,8 miliar saham.

Tidak hanya dari isu perang dagang AS-Tiongkok, sejumlah sentimen dari dalam negeri juga turut mendorong pergerakan IHSG pagi ini, antara lain ekspektasi pasar terhadap pengumuman inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang diprediksi akan lebih rendah.

"Kami memperkirakan IHSG akan meningkat hari ini karena optimisme dari gencatan senjata antara AS dan China pada hari Sabtu. Menurut kami, big caps akan bagus untuk memonetisasi gencatan senjata. Hari ini, data inflasi November akan dirilis," jelas Analis Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam risetnya, Senin (3/12).

Sementara itu tim analis OSO Securities memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 5.992 - 6.117 pada perdagangan hari ini.

(Baca: Asing Beli Bersih Saham Rp 7,8 Triliun, IHSG Selama November Naik 3,7%)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait