Pikul Beban Baru sebagai Bank Jangkar, Harga Saham Bank Kakap Anjlok

Harga saham bank BNI turun paling besar 5,65%, diikuti Bank Mandiri 4,81%, BRI 4,68%, dan BCA 2,74%.
Image title
15 Mei 2020, 17:18
ihsg hari ini, saham perbankan, saham bri, saham mandiri, saham bca, saham bni,
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
IHSG akhir pekan ini, Jumat (15/5), turun 0,14%. Koreksi disebabkan saham-saham perbankan yang anjlok.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 0,14% menjadi di level 4.507,6 pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (15/5). Koreksi indeks terutama didorong oleh indeks sektor keuangan yang turun 2,67% setelah harga saham-saham bank kelas kakap anjlok.

Tidak hanya itu, saham-saham bank kembali menjadi sasaran jual investor asing. Adapun modal asing yang kabur dari pasar saham sepanjang hari ini mencapai Rp 1,09 triliun di seluruh jenis pasar.

Seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang dilepas investor asing dengan nilai jual bersih (net sell) Rp 466,11 miliar. Saham ini pun turun hingga 4,68% menjadi Rp 2.240 per saham.

Kemudian saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijual investor asing dengan net sell  Rp 412,27 miliar. Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini pun turun 2,74% menjadi Rp 23.925 per saham.

Advertisement

(Baca: Realisasi Buyback Saham Baru Capai 5,4% dari Rencana Rp 19,4 Triliun)

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga dilepas asing dengan nilai net sell Rp 125,95 miliar. Saham ini turun 4,81% menjadi Rp 3.760 per saham.

Saham-saham perbankan lainnya pun kompak ditutup terkoreksi, sehingga sektor finansial hari ini turun hingga 2,67%. Seperti saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang juga ditutup turun 5,65% menjadi Rp 3.340 per saham.

Koreksi pada saham-saham perbankan ini sudah terjadi sejak beberapa hari perdagangan terakhir. Hal ini seiring dengan penunjukan sejumlah bank besar sebagai bank jangkar atau anchor bank. Investor khawatir dengan risiko yang dihadapi bank-bank tersebut.

Penunjukan sebagai bank jangkar ini bertujuan menyediakan likuiditas kepada bank-bank yang menjalankan program restrukturisasi kredit karena terdampak pandemi corona. Bank jangkar ini akan menerima dana penempatan dari Kementerian Keuangan untuk disalurkan kepada bank yang kesulitan likuiditas.

(Baca: BI Catat Aliran Modal Asing Kembali Masuk RI Rp 4,17 T pada Pekan Ini)

Namun, analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji menilai bahwa turun dan dilepasnya saham perbankan, karena kinerja yang kurang memuaskan pada triwulan I 2020. Dia menampik alasan perbankan akan mengalami pengetatan likuiditas, terutama untuk bank besar.

"Secara khusus berkaitan dengan kinerja pertumbuhan kredit perbankan yang tengah mengalami koreksi. Ada juga pertumbuhan aset yang juga diproyeksikan turun," kata Nafan.

Secara umum, dia menilai bahwa IHSG hari ini turun juga karena retorika perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih bergulir hingga saat ini. Selain itu, sentimen lainnya adalah ancaman gelombang kedua infeksi virus corona setelah beberapa negara mulai melonggarkan lockdown.

Adapun total volume saham yang diperdagangkan hari ini mencapai 5,96 miliar unit saham dengan nilai transaksi Rp 7,2 triliun. Sejalan dengan penurunan indeks, 221 saham terkoreksi, 149 saham naik, dan 167 saham stagnan. Indeks pun melaju cukup fluktuatif karena indeks sempat anjlok hingga 1,18% di awal perdagangan. 

(Baca: Investor Asing Obral Saham BRI & Dua Bank Besar Lain, IHSG Turun 0,75%)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait