BI Catat Modal Asing Kabur dari Indonesia Pekan ini Rp 1,09 Triliun

Modal asing keluar paling besar dari pasar saham sebesar Rp 2,15 triliun. Sedangkan dari instrumen SBN modal asing masuk Rp 1,06 triliun.
Agatha Olivia Victoria
19 Juni 2020, 15:43
aliran modal asing, bank indonesia,
ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.
Bank Indonesia mencatat modal asing keluar dari Tanah Air sepanjang pekan ini mencapai Rp 1,09 triliun.

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar dari Indonesia sebesar Rp 1,09 triliun dalam sepekan ini. Adapun aliran modal asing yang keluar paling besar berasal dari pasar saham.

"Berdasarkan data transaksi 15-18 Juni 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp 1,09 triliun," tulis BI dalam keterangan resminya, Jumat (19/6).

Secara perinci, aliran modal asing yang keluar tercatat Rp 2,15 triliun dari pasar saham. Namun, masih ada dana asing yang masuk lewat Surat Berhaga Negara (SBN) Rp 1,06 triliun dalam satu pekan ini. Dengan demikian, masih tercatat nett outflow Rp 142,16 triliun di pasar keuangan domestik sepanjang tahun ini.

Adapun, bank sentral turut mencatat premi risiko Indonesia atau Credit Default Swap (CDS) 5 tahun turun ke 124,2 basis poin per 18 Juni dari 127,91 bps per 12 Juni. Sementara itu, yield atau imbal hasil SBN 10 tahun naik dari 7,13% menjadi 15% pada pagi ini.

Advertisement

(Baca: Rupiah Naik ke Rp 14.077 per Dolar Berkat Masuknya Aliran Modal Asing)

Sebagai informasi, CDS adalah premi risiko yang dikenakan saat penerbitan instrumen utang. Semakin tinggi CDS, pada dasarnya semakin besar kemungkinan untuk mengalami gagal bayar alias default. Kenaikan CDS mencerminkan ada kekhawatiran pasar terkait fundamental ekonomi sebuah negara atau kondisi fiskalnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut nett inflow dalam bentuk investasi portofolio pada triwulan II 2020 hingga 15 Juni tercatat sebesar US$ 7,3 miliar.

"Ini dipicu oleh meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta  tingginya daya tarik aset keuangan domestik, serta prospek perekonomian Indonesia masih cukup baik," kata Perry dalam konferensi video, Kamis (18/6).

Dengan demikian, ia menilai, ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia triwulan II tetap baik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan rendah didukung prospek perbaikan neraca perdagangan akibat penurunan impor sejalan permintaan domestik yang lemah dan berkurangnya kebutuhan input produksi untuk kegiatan ekspor.

(Baca: IHSG Turun 1,25%, Saham BCA Paling Banyak Dijual Asing)

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait