Sempat Naik 0,73% pada Sesi I, Sektor Tambang Seret IHSG ke Zona Merah

Selain sektor tambang, sektor keuangan, konsumer, dan industri dasar juga terkoreksi sehingga menarik IHSG ke zona merah.
Image title
15 Juli 2020, 17:13
ihsg, saham tambang, ihsg hari ini
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj.
IHSG Rabu (15/7) terkoreksi tipis 0,07% ke level 5.079,12 tertekan kinerja emiten pertambangan yang secara sektoral turun 1,34%

Indeks harga saham gabungan atau IHSG turun tipis 0,07% ke level 5.079,12 pada penutupan perdagangan Rabu (15/7) setelah dua hari perdagangan sebelumnya berada dalam tren yang positif. Pagi ini pun IHSG masih sempat naik ke level 5.116,46 atau 0,73%.

Masih berlanjutnya reli koreksi saham-saham emiten pertambangan kembali memberatkan laju IHSG. Sektor tambang hari ini turun 1,34% atau paling besar di antara empat sektor yang terkoreksi. Selain tambang, sektor lainnya yang menyeret IHSG turun yaitu keuangan yang turun 0,49%, konsumer turun 0,22% dan industri dasar merosot 0,25%.

Koreksi sektor tambang dipimpin oleh saham Bayan Resources Tbk (BYAN) yang anjlok 6,89% ke level Rp 11.825 per saham. Selain itu Adaro Energy Tbk (ADRO) juga terkoreksi 2,16 % ke level Rp 1,130 per saham. Padahal pada sesi pertama perdagangan saham ADRO menghijau.  

Lalu, saham Vale Indonesia Tbk (INCO) terkoreksi 0,92% ke level Rp 3,220. Pada sesi pertama perdagangan IHSG hari ini saham INCO sempat menguat hingga menyentuh level Rp 3,320 per saham atau naik 2,15% dibanding posisi penutupan kemarin.

Advertisement

(Baca: Emiten IDX30 Turun 21,6% Sepanjang Tahun, Saham BUMN Paling Terpuruk)

Secara keseluruhan ada 206 saham yang turut memberatkan laju IHSG pada hari ini sehingga berakhir di zona merah. Sementara ada 202 saham yang naik, dan sisanya tak mengalami pergerakan. Total saham yang diperdagangkan mencapai 10,3 miliar unit, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,21 triliun.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menilai turunnya IHSG hari ini disebabkan para pelaku pasar melakukan aksi ambil untung atau profit taking.

"Hal ini wajar lantaran Bursa mulai pada tren positif dalam beberapa minggu terakhir. Apalagi kalo ditarik dari Februari dan Maret ketika bursa jatuh banyak saham yang nilainya naik dua kali lipat," katanya kepada Katadata.co.id, sore ini.

Reza juga menegaskan bahwa penurunan bursa tidak terkait dengan kondisi makro dalam negeri maupun resesi ekonomi yang terjadi di Singapura. Sebab, pelaku pasar sudah memperhitungan hal tersebut.

Menurutnya hal yang sama juga berlaku terkait pandemi. Dia melihat pasar sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan kondisi pandemi corona ini. "Penyebaran Covid-19 pasar sudah terbiasa," katanya.

(Baca: Dua Pekan Melantai di Bursa, Harga Saham Emiten Baru Melambung 400%)

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait