Porsi Kredit yang Direstrukturisasi BCA Tahun ini Bisa Naik Jadi 30%

BCA masih akan melanjutkan program restrukturisasi kredit hingga akhir tahun ini, sehingga nilainya diperkirakan terus meningkat.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
27 Juli 2020, 19:31
restrukturisasi kredit bca
Arief Kamaludin (Katadata)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus menjalan program restrukturisasi kredit nasabah yang terkena dampak Covid-19 hingga akhir 2020. Nilai kredit yang direstrukturisasi tahun ini diprediksi mencapai 30% dari total portofolio kreditnya.

"Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30% dari total portofolio kredit, yang berasal dari 200 ribu hingga 250 ribu nasabah," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam konferensi pers secara virtual, Senin (27/7).

Pengajuan restrukturisasi kredit selama periode Maret-Juni 2020 mencapai Rp 115 triliun atau sekitar 20% dari total portofolio kredit yang berasal dari 118.000 nasabah. Namun, total kredit yang telah selesai direstrukturisasi sebesar Rp 69,3 triliun atau 12% dari total portofolio kredit BCA.

"BCA fokus mendukung nasabah untuk menghadapi kondisi perlambatan bisnis dengan memberikan restrukturisasi kredit secara selektif pada berbagai segmen," kata Jahja.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh BCA dalam merespons peningkatan permintaan restrukturisasi yaitu dengan menurunkan biaya dana pihak ketiga (DPK). Itu bisa membantu meringankan tekanan yang terjadi pada pendapatan bunga kotor akibat restrukturisasi kredit.

Seperti diketahui, pendapatan bunga bersih BCA pada semester I-2020 naik 10,6% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 27,2 triliun. Capaian ini turut mendukung pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 10,3% secara tahunan menjadi Rp 37,8 triliun. Di lain sisi, biaya operasional naik hanya 3,8% menjadi Rp 16,2 triliun.

Dengan demikian, laba sebelum provisi dan pajak yang dibukukan oleh BCA mencapai pada semester I-2020 senilai Rp 21,5 triliun, tumbuh 15,8% secara yoy. "Dimana pertumbuhan yang baik tersebut telah memberikan ruang untuk mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit," kata Jahja.

Meski begitu, pandemi Covid-19 juga berdampak pada perlambatan berbagai aktivitas bisnis di berbagai industri, sehingga mengakibatkan lebih rendahnya permintaan kredit khususnya pada bulan Maret hingga Juni 2020.

Meski begitu, BCA masih mampu mencatatkan penyaluran kredit menjadi Rp 595,13 triliun hingga Juni 2020, tumbuh sebesar 5,3% yoy dari Rp 565,23 triliun.

Meski adanya kenaikan pada pendapatan bunga bersih dan pertumbuhan kredit, namun restrukturisasi ini membuat margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) BCA pada enam bulan pertama tahun ini turun. NIM BCA berada pada level 6%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di level 6,2%.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait