Mata Uang Asia Menguat Didorong Sentimen dari AS, Rupiah Malah Melemah

Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS hari ini, kecuali rupiah, dolar Taiwan, dan peso Filipina.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
29 Juli 2020, 17:29
nilai tukar rupiah
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Nilai tukar rupiah melemah tipis 0,05% ke level Rp 14.542 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pasar spot sore ini, Rabu (29/7). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar rate (JISDOR), rupiah melemah 27 poin ke level Rp 14.570 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pelemahan tipis mata uang Garuda akibat sentimen rencana tambahan paket stimulus AS yang menemui jalan buntu, serta The Fed yang kemungkinan tidak akan menurunkan lagi suku bunga acuannya.

Dua sentimen ini menjadi penyebab melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,17% ke level 93,54, sehingga memicu pelemahan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia. Meskipun ada beberapa mata uang Asia yang bernasib sama dengan Rupiah.

"Jalan buntu tersebut dalam negosiasi antara Partai Demokrat yang telah mengajukan proposal US$ 3 triliun dan Partai Republik yang telah mengajukan rencana US$ 1 triliun yang lebih sederhana," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Rabu (29/7).

Mengutip Bloomberg, dolar Taiwan yang melemah 0,12%, dan peso Filipina 0,01%. Sedangkan, mayoritas mata uang Asia lainnya menguat. Seperti yen Jepang yang menguat 0,14%, dolar Singapura 0,28%, won Korea Selatan 0,32%, rupee India 0,05%, yuan Tiongkok 0,04%, ringgit Malaysia 0,22%, dan baht Thailand 0,1%.

Rencana Partai Republik saat ini akan mengurangi tunjangan pengangguran yang diperluas dari US$ 600 per minggu menjadi US$ 200 untuk sekitar 30 juta orang Amerika yang kehilangan pekerjaan. Namun jika proposal ini disetujui, dolar berpotensi untuk menguat lagi.

Selain itu, Ibrahim menyebut pasar saat ini tengah menantikan hasil rapat bulanan Bank Sentral AS, The Fed yang rencananya diumumkan Kamis dini hari nanti. Kemungkinan suku bunga acuan AS bertahan di 0-0,25%. "Tidak ada ruang sama sekali untuk perubahan," ujarnya.

Dalam perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah kemungkinan akan di perdagangkan fluktuatif. Namun, akan ditutup menguat 50 hingga 100 poin di rentang Rp 14.500-14.580 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait