Rupiah Berpotensi Anjlok Rp14.380/US$, Tertekan Konflik Rusia-Ukraina

Selain kondisi geopolitik yang memanas antara Rusia dan Ukraina, rencana Fed menaikkan suku bunga masih membayangi laju rupiah.
Image title
26 Januari 2022, 10:05
nilai tukar rupiah, suku bunga fed,
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Pekerja menunjukkan uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Rabu (5/1/2022).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.333 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pagi ini. Rupiah berpotensi melemah dibayangi ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah ke Rp 14.335 pada pukul 09.17 WIB. Namun ini belum kembali ke posisi penutupan kemarin di Rp 14.350. Sementara itu mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi.

Penguatan dialami dolar Hong Kong 0,02%, dolar Singapura 0,07%, won Korea Selatan 0,16%, yuan Cina 0,06% dan bath Thailand 0,11%. Sementara dolar Taiwan melemah 0,01% bersama rupee India 0,28% dan ringgit Malaysia 0,02%. Sedangkan peso Filipina dan yen Jepang stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan kembali melemah di rentang Rp 14.370-14.380, dengan potensi penguatan di rentang Rp 14.320-14.330.

Advertisement

"Rupiah berpotensi tertekanan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik di Rusia dan Ukraina yang mendorong pelaku pasar keluar dari aset berisiko," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (26/1).Simak perkembangan nilai tukar rupiah dua pekan terakhir pada databoks berikut:

Ketegangan antara dua negara pecahan Uni Soviet itu kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir setelah muncul kabar Rusia berencana menginvasi Ukraina. Hal ini menyusul adanya penempatan pasukan Rusia di perbatasan dua negara tersebut.

Ariston mengatakan, masalah Rusia-Ukraina akan meluas karena melibatkan sekutu Ukraina yakni negara-negara anggota NATO. Ketegangan geopolitik ini dinilai dapat memicu NATO mempersiapkan risiko terburuk menghadapi Rusia. Kini Amerika juga dikabarkan bersiap memberi sanksi ke Rusia, tidak terkecuali sanksi ekonomi.

Di samping konflik Rusia-Ukraina, pelemahan rupiah hari ini masih dibayangi rencana pengetatan moneter bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed). Pasar sedang menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (Komite Pasar Terbuka Federal/FOMC) yang akan diumumkan Kamis (27/1) dini hari.

"Pasar menantikan apakah Fed akan memberikan indikasi kebijakan pengetatan moneter yang lebih agresif dari perkiraan pasar sebelumnya," kata Ariston.

Sebelumnya pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed akan dimulai bulan Maret dan bisa terjadi sebanyak tiga hingga empat kali. Fed juga sudah memulai percepatan tapering off bulan ini yang diperkirakan berakhir Maret 2022.

Fed menunjukkan sikap yang makin agresif, terutama untuk menekan inflasi di AS yang kini sudah menyentuh rekor tertingginya dalam empat dekade. Di samping rencana kenaikan bunga acuan, pasar mengantisipasi Fed bersiap mengambil langkah pengetatan moneter lainnya.

Pengetatan tersebut termasuk pengurangan neracanya yang kini mendekati US$ 9 triliun. Beberapa ahli memperkirakan pengurangan neraca bisa dilakukan pada Juni atau bahkan awal Mei. "Indikasi Kebijakan yang agresif bisa mendorong penguatan dolar AS," kata Ariston.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait