Rupiah Menguat ke Rp15.197 Jelang Pengumuman Suku Bunga Bank Indonesia

Abdul Azis Said
16 Februari 2023, 10:04
rupiah menguat, nilai tukar rupiah, suku bunga, bank indonesia
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Petugas menghitung uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Nilai tukar rupiah menguat tipis sembilan poin ke level Rp 15.197 per dolar AS pada pembukaan pasar pagi ini, Kamis (16/2). Sentimen pasar terhadap aset berisiko saham menguat di tengah penantian pengumuman suku bunga Bank Indonesia siang ini.

Mengutip Bloomberg, rupiah terus menguat ke arah Rp 15.189 pada pukul 09.20 WIB, terapresiasi 0,11% dari penutupan kemarin di Rp 15.206 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak variatif pagi ini. Yen Jepang menguat 0,24%, bersama dolar Singapura 0,12%, dolar Taiwan 0,03%, won Korsel 0,1%, yuan Cina 0,06% dan baht Thailand 0,19%. Sebaliknya, ringgit Malaysia terkoreksi 0,35%, bersama peso Filipina 0,06%, rupee India 0,05% dan dolar Hong Kong 0,01%.

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah berpotensi menguat hari ini seiring sentimen risk off di aset berisiko dan penantian rapat BI siang ini. Rupiah diperkirakan menguat ke arah Rp 15.150, dengan potensi resisten di kisaran Rp 15.220 per dolar AS.

Ia menyebut sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat positif pagi ini. Pada pukul 09.05 WIB, beberapa indeks saham Asia terpantau menghijau, Nikkei 225 Jepang menguat 0,66%, Shanghai SE Composite 0,22%, Hang Seng Hong Kong 1,24%, Kospi Korea Selatam 1,7%, dan Nifty 50 India 0,48%.

"Sentimen positif mungkin dipicu oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi global yang membaik tahun ini," kata Ariston dalam catatannya pagi ini, Kamis (16/2).

IMF dalam laporannya akhir bulan lalu merevisi ke atas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 2,9%, lebih tinggi 0,2 poin dari perkiraan Oktober lalu.

Perekonomian Cina akan tumbuh menguat dibandingkan tahun lalu seiring pelonggaran restriksi Covid-19m Perlambatan ekonomi AS diperkirakan tidak seburuk perkiraan sebelumnya.

Pasar juga menantikan keputusan Dewan Gubernur BI siang ini yang diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga. Ariston menyebut keputusan menahan bunga itu bisa membantu penguatan rupiah.

Namun, ada sentimen negatif dari AS. Data penjuala ritel Amerika bulan lalu yang dirilis semalam menunjukkan pertumbuhan di atas ekspektasi pasar, membaik dari Desember 2022 yang melambat. Penjualan ritel yang menguat dikhawatirkan bisa memicu inflasi lebih lanjut dan membuka peluang The Fed melanjutkan sikap hawkish.

Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak datar dengan kecenderungan melemah dengan pergerakan di rentang Rp 15.150-Rp 15.250 per dolar AS.

Namun, data surplus neraca dagang kemarin yang lebih tinggi dari perkiraan bisa membantu menahan pelemahan rupiah. BPS mencatat surplus sbesar US$ 3,87 miliar bulan lalu, menandai berlanjutnya surplus selama 33 bulan beruntun.

"Investor menantikan rapat Dewan Gubernur BI siang ini, walau diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga, namun investor akan memcermati pernyataan yang menyertai," kata Lukman dalam catatannya.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Advertisement

Artikel Terkait