Menteri Suharso Analisa Hasil Desain Ibu Kota Baru

Suharso menilai, hanya dua dari lima finalis sayembara desain ibu kota baru yang memiliki konsep kuat, tidak menghilangkan unsur Kalimantan dan hutan.
Image title
21 Desember 2019, 11:52
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, desain ibu kota baru, finalis sayembara desain ibu kota baru, McKinsey, Balikpapan, Samarinda, Kalimantan Timur
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menilai hanya dua finalis desain ibu kota baru yang memiliki konsep kuat.

Sayembara desain ibu kota baru memasuki babak akhir. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengundang lima finalis ke Istana Negara untuk mempresentasikan desainnya pada Jumat (20/12) lalu.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa adalah salah satu menteri yang hadir menyaksikan presentasi para finalis. Ia menyebutkan, sayembara desain ibu kota baru diikuti oleh 755 peserta. Dari jumlah tersebut, ada 257 peserta yang lolos administrasi.

Seleksi berjalan dan terpilih 30 desain berdasarkan pemungutan suara (voting) dari para juri. Kemudian, berdasarkan penilaian akhir, terpilih lima desain yang menjadi finalis. "Dari lima itu, hanya dua yang kuat dalam arti konsep. Tidak menghilangkan unsur Kalimantannya, kehutanan, karakteristik daerah, dan bagaimana memulai pembangunannya," kata Suharso dalam Malam Apresiasi Media 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Jumat (20/12).

(Baca: Jokowi: Finalis Sayembara Desain Akan Senang Lihat Ibu Kota Baru)

Advertisement

Desain Futuristik

Suharso menyebutkan ada salah satu desain yang sangat futuristik dengan bangunan-bangunan ornamental. Namun, desain-desain ibu kota baru yang diajukan para finalis tidak sesuai dengan harapannya.

"Saya membayangkan sebagian perbukitan itu menjadi cluster hill. Di situ ada museum, tempat anak-anak bisa bermain sains dan teknologi lalu ada gedung pertunjukan," tuturnya.

Mantan Menteri Perumahan Rakyat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu membayangkan gedung-gedung yang berbentuk telungkup dan berada di dalam bukit. "Tidak perlu high rise. Ada kereta otonom yang bisa dinaiki dua orang, empat orang atau 12 orang untuk menghubungkan gedung satu dengan yang lainnya," lanjutnya.

Posisi bangunan yang satu dengan yang lain juga bisa dijangkau dengan berjalan kaki (walking distance). Untuk energi listrik yang digunakan, Suharso mengatakan, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) bisa menjadi alternatif.

(Baca: Dilengkapi Tol, Jokowi: Akses Ibu Kota Baru dari Balikpapan 30 Menit )

PRESENTASI DESAIN IBU KOTA NEGARA
Presiden Joko Widodo dan para menteri menyimak presentasi desain ibu kota baru. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Belum Terhubung ke Balikpapan dan Samarinda

Ia juga melihat desain dari para finalis belum menghubungkan lokasi ibu kota baru di Penajam Passer Utara dan Samboja dengan Balikpapan dan Samarinda yang merupakan pusat perekonomian di Kaltim.

"Saya katakan kepada Pak Jokowi, desain ini menggairahkan, menantang. Tetapi kalau cuma dapat data sekunder sayang sekali, saya inginkan second opinion," kata Suharso. Pemerintah membutuhkan pendapat dari pihak lain karena pemerintah belum memiliki pengalaman memindahkan ibu kota.

Pemerintah telah menunjuk McKinsey & Company sebagai konsultan yang mengerjakan rencana induk awal pembangunan ibu kota baru. Berdasarkan presentasi McKinsey, Suharso mengatakan, pembangunan ibu kota baru harus memperhatikan sektor-sektor yang menjadi penggerak utama perekonomian di Kalimantan Timur. "Jadi, supaya ekonomi yang sudah berjalan tidak terganggu, yang di ibu kota baru juga tidak terganggu," ujarnya.

(Baca: Perangkap Utang dan Potensi Masalah Pemindahan Ibu Kota)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait