Mengenal Dahana, Produsen Bahan Peledak hingga Bom Pesawat Tempur

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto meminta PT Dahana mengembangkan bahan peledak untuk jenis roket dan rudal.
Image title
Oleh Hari Widowati
13 November 2019, 15:51
Sejarah PT Dahana (Persero) dimulai dari Proyek Menang milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada 1960-an.
TWITTER @ptdahana
Sejarah PT Dahana (Persero) dimulai dari Proyek Menang milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada 1960-an.

Perusahaan bahan peledak terbesar di Asia Tenggara, PT Dahana (Persero), berencana membangun tiga pabrik bahan peledak baru. Perusahaan menyiapkan dana Rp 3,54 triliun untuk pembangunan ketiga pabrik tersebut.

Pabrik yang pertama adalah pabrik amonium nitrat di Kaltim Industrial Estate (KIE) dengan kapasitas 750 ribu metrik ton amonium nitrat dan 60 ribu ton asam nitrat per tahun. Kedua, pabrik spherical powder propelan di Kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana di Subang dengan kapasitas 600 ton per tahun. Ketiga, pabrik elemented detonator yang juga berlokasi di EMC Dahana, Subang dengan kapasitas delapan juta potong elemen detonator per tahun.

Berikut ini adalah profil PT Dahana. Dahana adalah salah satu badan usaha milik negara (BUMN) strategis yang memproduksi alat utama sistem pertahanan (alutsista). Sejarah perusahaan pelat merah ini dimulai dari proyek Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang dikenal sebagai proyek Menang pada 1960-an. Lokasi proyek ini ada di Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar).

Proyek ini merupakan kerja sama antara AURI dengan perusahaan roket asal Swiss, Hispano Suiza. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan AURI terhadap impor roket udara. Proyek ini menjadi bagian dari Kampanye Trikora (Tri Komando Rakyat) yang merupakan upaya pemerintah RI di bawah Presiden Soekarno untuk merebut Irian Barat dari tangan tentara Belanda. Proyek Menang juga digunakan dalam kampanye Dwikora (Dwi Komando Rakyat), yang merupakan reaksi Presiden Soekarno terhadap Federasi Malaysia yang dianggapnya sebagai boneka kolonialisme Inggris.

Dari hasil kerja sama ini, diproduksi roket SURA 80R kaliber 80 mm. Roket ini dipasang di pesawat-pesawat tempur milik AURI untuk mengadang pesawat tempur milik tentara Sekutu. Seperti dilansir avihistoria.com, Proyek Menang semula berjalan lancar. Namun, biaya produksinya terus membengkak sehingga target produksi 20 ribu roket diturunkan menjadi sembilan ribu roket saja.

(Baca: Dahana Bangun Tiga Pabrik Bahan Peledak Senilai Rp 3,5 Triliun)

Bermula dari Pabrik Dinamit

Untuk menutup biaya, AURI mendirikan pabrik baru yang bisa membuat produk lain dari Proyek Menang, yakni dinamit. Bahan peledak tersebut dibutuhkan untuk militer maupun sipil, misalnya untuk perusahaan tambang maupun konstruksi. Pabrik dinamit yang beroperasi pada 1966 inilah yang akhirnya dikenal sebagai Dahana.

Dahana berubah menjadi perusahaan umum (Perum) pada 1973 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36/1973. Bisnis Dahana terus berkembang. Bahan peledak buatannya banyak digunakan di sektor pertambangan mineral maupun batu bara, sektor kuari dan konstruksi, seperti industri semen, aspal dan penggalian batu andesit, hingga pembangunan bendungan dan terowongan. Bahan peledak juga dibutuhkan untuk operasi seismik di sektor minyak dan gas (migas).

Sejak 1991, status Perum Dahana berubah menjadi PT Dahana (Persero). Pada 1994, perusahaan memiliki kerja sama operasi (joint operation) dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk proyek tambang batu bara. Keberhasilan kerja sama ini dilanjutkan dengan penambahan lainnya di Kalimantan Tengah dan Sumbawa.

Sejak 1999, Dahana menyiapkan tanah seluas 600 hektare (ha) di Sumurbarang, Subang untuk menjadi Pusat Industri dan Engineering Bahan Peledak dan Peledakan. Fasilitas ini selesai dibangun pada 2012 dan dinamakan Kawasan Energetic Material Center (EMC). EMC ini adalah fasilitas pengembangan dan manufaktur bahan peledak terbesar di Asia Tenggara.

(Baca: Persaingan Ketat, Laba BUMN Bahan Peledak Diprediksi Turun)

Produksi Bom untuk Sukhoi dan Ekspor ke Beberapa Negara

Pada 12 April silam, Dahana memenangkan tender Kementerian Pertahanan untuk pengadaan Bomb P-250 Live untuk proyek pengadaan alutsista dan konstruksi di lingkungan Kementerian Pertahanan atau TNI. Direktur Operasi Dahana, Bambang Agung, mengatakan nilai kontrak proyek ini mencapai Rp 104,73 miliar.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memberi arahan kepada Dahana ketika melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad (Persero), Rabu (6/11). Prabowo meminta Dahana mengembangkan bahan peledak untuk jenis roket dan rudal. Selain itu, PT Dahana akan meningkatkan pendapatan dari sektor pertahanan dengan memproduksi bom P-100L untuk pesawat tempur Sukhoi.

Direktur Utama Dahana, Budi Antono, mengatakan perseroan juga membidik ekspor bahan peledak ke tiga negara pada 2020 dengan nilai Rp 29,64 miliar. Ketiga negara tersebut adalah Jepang, Timor Leste, dan Australia. Sebelumnya, Dahana sudah menembus pasar di kawasan Pasifik, seperti Selandia Baru dan Fiji.

Selain itu, perusahaan pelat merah ini berencana akan membangun pabrik di Timor Leste. Biaya pembangunan pabrik dengan kapasitas seribu ton bahan peledak per tahun ini diperkirakan berkisar Rp 10 miliar-15 miliar. Proyek ini ditargetkan rampung pada Juli 2020.

(Baca: Dahana Bangun Pabrik Bahan Peledak Rp 10 Miliar di Timor Leste)

Reporter: Amelia Yesidora

Video Pilihan

Artikel Terkait