Gelombang PHK Perbankan Global dari Deutsche Bank hingga HSBC

Perbankan global dari Deutsche Bank hingga HSBC memangkas karyawan demi menekan kerugian. Perlambatan ekonomi dan perang dagang jadi penyebabnya.
Image title
Oleh Hari Widowati
14 Oktober 2019, 11:57
Gedung Deutsche Bank di Warsawa, Polandia.
Deutsche Bank
Perbankan global beramai-ramai melakukan efisiensi karyawan. Deutsche Bank AG merupakan bank yang paling banyak memangkas karyawannya, yakni 18 ribu karyawan hingga 2022.

Bloomberg melaporkan perbankan global memangkas 58.200 pekerja sepanjang tahun ini. Beberapa bank bahkan menyusun rencana efisiensi karyawan hingga beberapa tahun ke depan.

Sekitar 90% dari bank-bank tersebut adalah bank besar yang berkantor pusat di Benua Eropa. Yang terbaru adalah Commerzbank AG, bank asal Jerman ini akan memangkas 4.300 pekerja. Efisiensi ini merupakan langkah lanjutan dari restrukturisasi Commerzbank yang berlangsung sejak tiga tahun lalu.

Sebelumnya, Deutsche Bank AG yang berkantor pusat di Frankfurt, Jerman mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) 18 ribu karyawan yang akan berlangsung 2019 hingga 2022. HSBC Holdings Plc yang bermarkas di London, Inggris juga berencana mengurangi 10 ribu karyawannya. Seperti dilansir Financial Times (FT), angka tersebut setara dengan 4% dari total karyawan HSBC di seluruh dunia. Pemangkasan karyawan akan difokuskan pada pekerja yang bergaji tinggi.

Barclays yang juga berkantor pusat di Inggris, memangkas 3 ribu karyawan per Juni 2019. Di Spanyol, Santander mengurangi 5.400 karyawan. Sementara itu, Societe Generale yang berkantor pusat di Paris, Prancis akan memangkas 2.100 karyawan.

(Baca: Musim PHK Karyawan Bank di Eropa)

Efek Perang Dagang dan Perlambatan Ekonomi

Apa yang menyebabkan perbankan global melakukan efisiensi karyawan besar-besaran? Industri keuangan Eropa yang lemah, perlambatan ekonomi hingga efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok disebut menjadi pendorong PHK massal tersebut.

Menurut Bloomberg, suku bunga negatif telah menggerus margin laba perbankan Eropa selama lima tahun terakhir. Ketika perang dagang AS-Tiongkok memuncak, ekspor Uni Eropa pun terkena dampaknya. Alih-alih menaikkan suku bunga acuan seperti yang diharapkan perbankan, Bank Sentral Eropa justru diprediksi akan menurunkan suku bunga lebih dalam di bawah nol persen untuk mendongkrak ekonomi.

Perbankan Jerman merasakan dampak terburuk dari perang dagang AS-Tiongkok. Pasalnya, bank-bank tersebut sangat tergantung pada ekspor. Jerman yang merupakan perekonomian terbesar di Uni Eropa diprediksi hanya akan tumbuh 0,5% pada tahun ini. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 0,8%.

(Baca: PHK Massal 18 Ribu Pegawai, Apa yang Salah dengan Deutsche Bank?)

"Industri di Jerman menghadapi resesi dan ini juga berpengaruh pada sektor jasa yang melayani perusahaan-perusahaan manufaktur," kata Kepala Proyeksi dan Kebijakan Ekonomi DIW Berlin, Claus Michelsen, seperti dikutip CNBC.com pada 2 Oktober lalu. Perekonomian Jerman masih tumbuh berkat konsumsi rumah tangga yang tertolong oleh kebijakan upah yang baik, pelonggaran pajak, dan insentif fiskal.

Sementara itu, bank-bank asal Inggris menghadapi dampak negatif Brexit yang berlarut-larut. Pendapatan perbankan Inggris saat ini menyentuh level terendah dalam 13 tahun terakhir. Seperti diketahui, Brexit merupakan rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yang dihasilkan oleh referendum pada Juni 2016. Namun, hingga saat ini pemerintah Inggris masih melakukan negosiasi dengan para pemimpin Uni Eropa.

Beberapa perusahaan perekrut tenaga kerja (headhunters) di Inggris menyebut bank-bank besar berhenti merekrut karyawan. "Perbankan tidak menghasilkan keuntungan jadi mereka butuh orang lebih sedikit," kata CEO Dartmouth Partners, Logan Naidu, seperti dikutip efinancialcareers.com.

(Baca: Efisiensi Besar-besaran, HSBC akan PHK 10.000 Karyawan)

Ancaman Teknologi Kecerdasan Buatan

Gelombang pemangkasan karyawan yang menimpa perbankan Eropa diprediksi juga bakal melanda Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan perlambatan ekonomi dan tekanan perang dagang yang terjadi di Eropa, AS menghadapi ancaman teknologi.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Wells Fargo & Co memproyeksikan sebanyak 200 ribu lapangan pekerjaan di sektor perbankan akan hilang dalam satu dekade mendatang. Perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan menggantikan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.

Secara umum, industri perbankan dan finansial global menginvestasikan dana US$ 150 miliar per tahun atau sekitar Rp 2.100 triliun untuk sektor teknologi. Analis Wells Fargo Securities Mike Mayo mengatakan, pekerjaan yang dikurangi termasuk kantor cabang, call center, dan pekerja di kantor. Besarnya sekitar seperlima hingga sepertiga jumlah karyawan bank saat ini.

Sementara itu, pekerjaan yang terkait dengan bidang teknologi, pemasaran, dan konsultan di perbankan relatif tidak terpengaruh. "Perubahan ini sudah terlihat dengan digunakannya chatbot dan beberapa orang tidak menyadari mereka bercakap-cakap dengan mesin kecerdasan buatan," kata Partner Deloitte, Michael Tang, seperti dikutip bigthink.com.

Ancaman teknologi ini telah diramalkan para bankir. Direktur Eksekutif Citigroup Mike Corbat mengatakan, puluhan ribu pekerja call center bank akan digantikan dengan teknologi otomasi. Pada 2017, Direktur Eksekutif Deutsche Bank John Cryan juga pernah menyatakan bahwa separuh dari 97 ribu karyawan bank tersebut harus siap digantikan oleh teknologi.

(Baca: HSBC PHK Massal, Bagaimana Nasib Karyawannya di Indonesia?)

 

 

 

Video Pilihan

Artikel Terkait