Efek 212, PDIP dan Gerindra Bersaing Ketat di Segmen Pemilih Muslim

Saat ini, selisih perolehan suara PDIP dan Gerindra di basis pemilih muslim hanya terpaut 1,8%.
Dimas Jarot Bayu
20 Februari 2019, 17:06
SURVEI LSI
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Siluet pewarta mengambil gambar saat Rilis Hasil rilis Lingkaran Survei Indonesia terkini bertajuk 'Pergeseran Dukungan Partai Politik di 6 Kantong Suara' di Kantor Lingkaran Survei Indonesia, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Hasil sigi terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersaing ketat dengan Gerindra di kantong pemilih muslim. Saat ini, selisih perolehan suara PDIP dan Gerindra di basis pemilih tersebut hanya terpaut 1,8%.

Elektabilitas PDIP di basis suara pemilih muslim sebesar 18,4%. Sementara, elektabilitas Gerindra sebesar 16,6%. "PDIP masih paling banyak dipilih oleh pemilih muslim namun dengan jarak yang sangat tipis dengan Gerindra," kata Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar di kantornya, Jakarta, Rabu (20/2).

Tipisnya selisih elektabilitas kedua partai itu lantaran suara PDIP di basis pemilih muslim turun drastis per Januari 2019. Pada Desember 2018, PDIP masih memegang elektabilitas sebesar 24,6%. Angka tersebut turun 6,2% pada bulan lalu.

Sementara itu, elektabilitas Gerindra di basis pemilih muslim meningkat sebesar 2,3% dibandingkan Desember 2018. Akhir tahun lalu, tingkat keterpilihan partai berlambang kepala garuda itu sebesar 16,6%.

Advertisement

Rully mengatakan, drastisnya penurunan elektabilitas PDIP salah satunya dipengaruhi oleh menguatnya gerakan Persaudaraan Alumni (PA) 212 pada Desember 2018. PDIP merupakan pengusung utama pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang distigmakan kurang bersahabat terhadap Islam.

Alhasil, suara pemilih muslim dari partai berlambang banteng itu pun lebih banyak beralih kepada Gerindra yang menjadi pengusung utama pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Jika pemilih Jokowi tak kuat di pemilih muslim, yang mengambil keuntungan dari pemilih muslim adalah Partai Gerindra dan Prabowo-Sandi," kata Rully.

(Baca: LSI Denny JA: Elektabilitas Jokowi di Kalangan Pemilih Muslim Turun)

Lebih lanjut, Golkar memiliki elektabilitas sebesar 11% di antara pemilih muslim. Posisi itu kemudian disusul PKB dengan perolehan suara sebesar 9,3%. Sementara itu, Demokrat memiliki elektabilitas sebanyak 5,9% di kalangan pemilih muslim.

Persaingan di Luar 5 Besar

Elektabilitas Nasdem di kalangan pemilih muslim sebesar 4,6%. Selisih 0,1% dari Nasdem, PKS memiliki elektabilitas sebesar 4,6%. PPP menyusul di bawahnya dengan perolehan suara sebesar 4,1%. "PKS, Nasdem, dan PPP bersaing sangat ketat, di luar partai lima besar," kata Rully.

Adapun, elektabilitas Perindo di segmen pemilih muslim sebesar 3,4%. PAN menyusul di bawahnya dengan tingkat keterpilihan sebesar 1,6%.

Sementara partai-partai lainnya, seperti PSI, Hanura, Garuda, Berkarya, PBB, dan PKPI memiliki elektabilitas di bawah satu persen. "Perindo memimpin partai baru di segmen pemilih muslim," kata Rully.

LSI Denny JA mengadakan survei pada 18-25 Januari 2019 dengan melibatkan 1.200 responden. Survei dilakukan melalui pemilihan responden secara acak atau multistage random sampling. Tingkat kesalahan alias margin of error dalam survei ini sebesar +/- 2,8%.

(Baca: Kubu Jokowi Petakan Lima Wilayah Pertempuran Utama Lawan Prabowo)

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait