Rizal Ramli Sebut Kedaulatan Pangan Hanya Jadi Alat Kampanye Jokowi

Ameidyo Daud Nasution
29 Januari 2019, 20:12
Rizal Ramli Laporan Impor Pangan
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli (kedua kiri) menunjukan surat pengaduan kepada wartawan usai melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi terkait impor pangan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (23/10/2018). Dalam laporannya, Rizal Ramli menilai adanya pelanggaran hukum yang diduga dilakukan pihak-pihak terkait, sehingga bertentangan dengan UU nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor karena menimbulkan kerugian negara.

Program kedaulatan pangan yang diusung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai hanya sebatas janji kampanye 2014 dan sulit diwujudkan. Hal ini disebabkan oleh karakter Jokowi yang lemah sehingga tidak mampu menahan berbagai tekanan dari orang-orang di sekelilingnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi di Sekretariat Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Jakarta, Selasa (29/1). Menurut Rizal, dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, Jokowi acapkali menyampaikan penghentian impor pangan. Namun, hal tersebut tak kunjung terealisasi selama empat tahun ia memerintah.

Advertisement

"Bagaimana bisa berharap perubahan kedaulatan pangan kalau Jokowi terpilih lagi (sebagai) presiden? Rekam jejak kedaulatan pangan hanya alat kampanye dan tidak dihayati," kata Rizal.

Ia mengatakan, masalah yang pada Jokowi disebabkan oleh politik yang digunakan untuk berbagi kekuasaan. Hal ini menyulitkan mantan walikota Solo tersebut mencari orang terbaik. Alhasil, orang-orang tersebut sulit mengikuti garis kebijakan yang ditetapkan Jokowi dalam kedaulatan pangan.

Bahkan, Rizal menyebut Jokowi takut lantaran ditekan orang-orang yang berpengaruh. "Ditekan siapa yang berewoknya banyak, takut. Sama siapa (lagi) takut. Bagaimana bisa berharap perubahan dalam kedaulatan pangan," ujarnya.

Saat ini Indonesia merupakan importir gula terbesar di dunia. Padahal di era kolonial dulu, Indonesia sempat menjadi eksportir besar dan turut berkontribusi terhadap industrialisasi Belanda. Rizal mengutip data Ekonom Faisal Basri, impor gula RI sepanjang 2017-2018 mencapai 4,45 juta ton atau mengungguli Tiongkok yang hanya mengimpor 4,2 juta ton dan Amerika Serikat dengan volume 3,11 juta ton.

"Saya ingin tanya Mas Jokowi, who are you working for? Apa Anda bekerja untuk petani Thailand dan Vietnam?" ujar Rizal dengan nada meninggi.

(Baca: Manis Impor Gula Menjelang Pemilu)

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.

Artikel Terkait

Advertisement