Status Siaga, Gunung Anak Krakatau Meletus 14 Kali dalam Semenit

Image title
27 Desember 2018, 15:06
Letusan Anak Gunung Krakatau
ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut). ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meningkatkan status Gunung Anak Krakatau dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) sejak pukul 06.00 WIB, Kamis (27/12). Peningkatan status ini dilakukan seiring aktivitas vulkanik di gunung tersebut yang mencapai 14 kali letusan dalam semenit.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo mengatakan, yang paling mengancam dari kondisi ini adalah lontaran material. Oleh karena itu, masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer (km).

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menyiapkan masker karena adanya persebaran abu vulkanik. "Masyarakat harap menyiapkan masker karena mulai ada abu yang tersebar, tergantung arah anginnya," kata Antonius, di Jakarta, Kamis (27/12).

Ketinggian abu terlihat secara visual mencapai 2.500-3.000 meter. Dalam hal ini, Badan Geologi Kementerian ESDM telah memberikan peringatan kepada penerbangan untuk waspada terhadap kondisi langit yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sedangkan, untuk kapal laut tidak akan terkena dampak, karena tidak melintasi gunung tersebut."Kapal laut tidak lewat Krakatau, tidak apa-apa, masih aman," kata dia.

(Baca: Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga, Radius Aman 5 Kilometer)

Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah terjadinya longsor pada lereng, karena ini bisa menyebabkan tsunami seperti yang terjadi pada Sabtu (22/12). Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Badan Geologi Kementerian ESDM akan terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Antonius juga menjelaskan, kejadian longsor lereng Gunung Anak Krakatau sulit untuk diprediksi. Pihaknya hanya bisa memberikan peringatan secara cepat jika terjadi longsor dan memberikan efek besar terhadap masyarakat di wilayah tersebut. "Longsor itu lokal sekali, longsor itu ada yang cepat seperti tanggal 21 Desember, atau longsor turun pelan pelan," kata dia.

Gunung Anak Krakatau sebelumnya menyandang status waspada atau level II sejak 26 Januari 2012. Lalu Anak Krakatau mulai kembali aktif melakukan erupsi sejak pertengahan 2018. Selain itu, ada letusan berupa awan panas. Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 jam 17.15 WIB. Petugas dari Pos Kalianda pada jam 12 malam juga melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi.

(Baca: Radius Bahaya Krakatau di Luar Permukiman, BNPB Peringatkan Wisatawan)

 

Reporter: Fariha Sulmaihati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait