Kampanye di Media Sosial Didominasi Isu Demokrasi, HAM, dan Ekonomi

Ketimpangan isu-isu yang dikampanyekan kedua pasangan calon di media sosial terjadi karena mereka hanya merespons permasalahan aktual.
Dimas Jarot Bayu
12 Desember 2018, 14:27
Medsos media
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Spanduk kampanye perlawanan terhadap informasi hoax di Ungaran, Jawa Tengah, (4/2).

 

Kampanye yang dilakukan para pasangan calon di Pilpres 2019 didominasi isu demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan ekonomi. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan SatuDunia sejak 23 September hingga 11 Desember 2018, konten kedua pasangan calon yang mengangkat isu demokrasi dan HAM tercatat sebanyak 310 dari 842 unggahan.

Program Manager SatuDunia Anwari Natari mengatakan, konten demokrasi dan HAM dari pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tercatat sebanyak 184 unggahan. Sementara, konten demokrasi dan HAM yang diunggah pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin tercatat sebanyak 124 unggahan.

"Kubu oposisi yang lebih aktif mengangkat isu demokrasi dan HAM. Mungkin mengangkat soal kriminalisasi ulama atau orang yang belum dapat kartu suara," kata Anwari di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Senin (12/12).

Advertisement

Kubu Prabowo-Sandiaga mengunggah konten ekonomi sebanyak 211 kali. Sementara, pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin hanya mengunggah konten ekonomi sebanyak 87 kali.

Anwari mengatakan, isu ekonomi lebih banyak disampaikan oleh Prabowo-Sandiaga dalam bentuk kritik terhadap kondisi Indonesia. Sementara itu, Jokowi-Ma'ruf lebih banyak membentuk klaim terkait capaian ekonomi pemerintah selama ini. "Kubu oposisi pasti lebih tergerak aktif membicarakan situasi ekonomi indonesia dibandingkan petahana," kata Anwari.

Selain dua konten itu, Anwari menyebut isu-isu lain yang diangkat di media sosial seakan terpinggirkan. Pasalnya, jumlah isu lain jauh lebih sedikit dibandingkan masalah demokrasi, HAM, dan ekonomi.

SatuDunia mencatat, isu keberagaman hanya dibahas 124 kali di media sosial oleh kedua pasangan calon. Isu bencana dibahas 28 kali. Isu hukum dan disabilitas masing-masing dibahas 21 kali. Isu gender dibahas 19 kali, isu terkait hoaks disampaikan 16 kali. Isu korupsi disampaikan sembilan kali. Sementara itu, isu ekologi hanya dibahas empat kali.

(Baca: Lawan Kritik, Jokowi-Ma'ruf Dorong Narasi Capaian Kinerja Pemerintah)

Belum Mengedukasi Masyarakat

Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadli Ramadhanil menilai, timpangnya isu-isu yang dikampanyekan kedua pasangan calon di media sosial terjadi karena mereka hanya merespons permasalahan aktual. Karenanya, isu-isu yang disampaikan lebih banyak berdasarkan pada sensasi.

Sementara itu, substansi isu yang berasal dari visi-misi serta program para pasangan calon menjadi terabaikan. Padahal, substansi tersebut penting untuk mengedukasi masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya.

"Ya sayang saja, uang negara dihabiskan triliunan rupiah, tapi publik tidak mendapat informasi yang cukup untuk memilih," kata Fadli.

Hal senada disampaikan Kepala Biro Teknis dan Hukum KPU, Nur Syarifah. Menurutnya, konten kampanye para pasangan calon di media sosial saat ini hanya berupa reaksi dari masalah yang dilontarkan pihak lawan.

Para pasangan calon dalam kampanyenya mengumbar janji politik untuk mengatasi masalah tersebut. Hanya saja, mereka tak memberitahukan bagaimana janji politik tersebut akan direalisasikan. "Belum secara konsepsional apa langkah ke depan mengatasi isu ini," kata Nur.

Nur meminta agar para pasangan calon dapat mengevaluasi diri terkait konten kampanye yang mereka sampaikan. Tujuannya, agar konten kampanye dapat disesuaikan dengan visi, misi, dan program mereka. Dengan demikian, konten kampanye tersebut dapat bermanfaat dan mendidik masyarakat. "Tujuannya mengedukasi pemilih, jangan isinya hanya dialog maya," kata Nur.

(Baca: Prabowo-Sandiaga Unggul di Kalangan Pengguna Media Sosial)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait