Garap Proyek Besar, Hutama Karya Bukukan Pendapatan Rp 17,7 Triliun

Pendapatan perusahaan yang kuat ini didukung oleh perolehan kontrak untuk proyek-proyek besar dengan total nilai Rp 37,54 triliun.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
1 November 2018, 14:58
Hutama Karya
Arief Kamaludin (Katadata)

PT Hutama Karya (Persero) membukukan pendapatan Rp 17,7 triliun hingga kuartal III 2018, meningkat 54,8% dibandingkan periode yang sama 2017. Pendapatan perusahaan yang kuat ini didukung oleh perolehan kontrak untuk proyek-proyek besar dengan total nilai Rp 37,54 triliun.

Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo mengatakan, kontrak yang diperoleh perusahaan mencapai 90,13% dari target 2018. Portofolio kontrak terdiri atas jalan dan jembatan sebesar 56%, engineering procurement construction (EPC) sebesar 32%, bangunan gedung dan lainnya 6%, serta bandara dan sarana perhubungan lainnya 6%. Beberapa proyek besar yang digarap perseroan adalah konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tambak Lorok 779 MW, PLTU Muara Tawar 650 MW, PLTU Suryalaya 2x1.000 MW, Pabrik Gula Jatiroto 10.000 tcd, Pipa Gas Kaltimra 55 km, dan Bendungan Tiga Dihaji Paket 1.

Tingginya pertumbuhan pendapatan ini mendorong laba bersih Hutama Karya menjadi Rp 1,46 triliun, melambung 131% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 631 miliar. "Sampai dengan triwulan III-2018 ini, laba bersih Hutama Karya telah melampaui target 2018 secara keseluruhan," kata Bintang dalam keterangan resmi, Kamis (1/11).

Hutama Karya membukukan EBITDA sebesar Rp 2,2 triliun, tumbuh 117,57% dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 1,02 triliun. “Kami sampaikan pula, Hutama Karya dapat menjaga arus kas operasi tetap positif di posisi Rp 539 Miliar,” kata Bintang.

(Baca: Hutama Karya Bakal Terima Pinjaman Sindikasi Rp 9 Triliun)

Direktur Keuangan Hutama Karya Anis Anjayani mengatakan, laba perusahaan dikontribusikan oleh seluruh pilar bisnis. Jasa konstruksi, EPC, dan bangunan gedung memberikan kontribusi sebesar 43,9%. Lalu, anak usaha menyumbang 27,02%. Adapun Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) berkontribusi sebesar 29,08%. Hingga akhir September 2018, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) perseroan relatif rendah sehingga perseroan masih bisa mencari pendanaan dari pihak lain.

“Hal ini sangat baik untuk menunjang penugasan Hutama Karya untuk membangun Jalan Tol Trans Sumatera. Apalagi, tahun depan kami akan memulai pengerjaan ruas-ruas baru,” ujarnya.

Direktur Operasi III Hutama Karya Sugeng Rochadi mengatakan, pencapaian positif perusahaan di triwulan ini tidak lepas dari perbaikan operasional di setiap lini bisnis. Salah satunya, di bidang procurement atau pengadaan barang dan jasa. Hutama Karya memusatkan pengadaan barang dan jasa, baik di unit bisnis maupun anak usahanya. Strategi ini efektif menekan beban pokok penjualan yang dapat ditekan hingga 89,85%. “Harga Pokok Penjualan (HPP) kami lebih baik dibandingkan periode yang sama 2017, saat itu masih sebesar 91,39%,” kata Sugeng.

(Baca: Bank Mandiri Beri Kredit Rp 4,54 Triliun untuk Hutama Karya dan IIF)

Video Pilihan

Artikel Terkait