Bank Mandiri Lihat Sektor Agroindustri Jadi Opsi Hadapi Resesi Ekonomi

Agroindustri dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia lantaran berkontribusi signifikan dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Dwi Hadya Jayani
14 September 2019, 12:27
Bank Mandiri, perang dagang AS-Tiongkok, penyaluran kredit Bank Mandiri, agroindustri, resesi, manufaktur
Arief Kamaludin|KATADATA
PT Bank Mandiri Tbk optimistis penyaluran kreditnya tahun ini akan tumbuh sesuai target 11-12%.

Ketegangan perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) berdampak kepada lesunya pertumbuhan industri manufaktur. Kondisi ini diperburuk dengan ancaman resesi yang mengadang beberapa negara besar. PT Bank Mandiri Tbk menilai dampak perang dagang dan ancaman resesi global terhadap perekonomian Indonesia dapat diantisipasi dengan mendorong sektor agroindustri.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, sektor agroindustri dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia lantaran sektor ini memiliki kontribusi signifikan dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Indonesia bisa berharap dari sektor lain, yaitu sektor agroindustri. Pengusaha kita sudah cukup lama memulai (bisnis) di sektor ini, sekitar satu-dua tahunan," kata Rohan dalam Mandiri Media Training 2019, di Bali, Kamis (13/9).

Dalam riset Strategi Percepatan dan Perluasan Agroindustri yang disusun Tim INDEF untuk Kementerian Perindustrian, rata-rata kontribusi subsektor agroindustri pada 2004-2009 mencapai 15,47% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kontribusi subsektor non-agroindustri yang memberikan rerata kontribusi 9,41% pada periode 2004-2009.

Percepatan dan perluasan agroindustri melalui industri pengolahan (hilirisasi) perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya deindustrialisasi dini. Menurut INDEF, ada beberapa komoditas agroindustri unggulan, antara lain kelapa sawit, karet, kakao, rotan, dan rumput laut.

Rohan mengungkapkan, Indonesia memiliki pasar baru untuk ekspor produk-produk hasil pertanian, contohnya di India dan Afrika. Pasar baru tersebut diharapkan bisa menggantikan Amerika Serikat (AS) yang perekonomiannya tengah menurun dan boikot produk kelapa sawit yang dilakukan Uni Eropa.

"Sektor agroindustri memiliki trickle down effect yang cukup besar karena tidak terkonsentrasi di Pulau Jawa," kata Rohan. Hal tersebut selain dapat meningkatkan perekonomian nasional, juga dapat meningkatkan nilai ekonomi lokal.

(Baca: Kembangkan Pariwisata, Bank Mandiri Salurkan KUR di 7 Bali Baru)

Tetap Optimis Penyaluran Kredit Tumbuh 11-12%

Rohan juga mengatakan, resesi dan pelemahan ekonomi global menjadi ancaman yang patut diwaspadai oleh industri keuangan di Indonesia. Namun, Bank Mandiri optimistis penyaluran kreditnya akan tumbuh sesuai target, yakni 11%-12% pada 2019.

Optimisme tersebut dapat dilihat dari capaian pada semester pertama tahun ini. Penyaluran kredit telah mencapai Rp 820 triliun atau tumbuh 9,5% dibandingkan semester I 2018. Adapun total aset yang dimiliki Bank Mandiri mencapai sekitar Rp 1.200 triliun.

“Pertumbuhan 11-12% dari awal sudah kami tetapkan. Sampai Juni, kemungkinan target itu tercapai, walau ada beberapa hal seperti pelemahan ekonomi dan ancaman resesi,” ujarnya.

(Baca: Bank Mandiri Siap Salurkan Kredit untuk Bangun Ibu Kota Baru)

Reporter: Dwi Hadya Jayani

Video Pilihan

Artikel Terkait