Tekanan Jual Investor Asing Menguat, IHSG Ditutup Melemah 0,14%

Investor mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada penguatan dolar AS dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Image title
19 Oktober 2018, 17:48
Bursa saham
Katadata | Arief Kamaludin

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih diwarnai aksi jual oleh investor asing yang semakin membesar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,14% menjadi 5.837,29 poin.

Nilai transaksi saham pada penutupan Jumat (19/10) mencapai Rp 6,59 triliun dengan volume 8,56 miliar saham. Sebanyak 179 saham naik, 204 saham turun, dan 114 saham stagnan. Investor asing mencatat net sell Rp 306,34 miliar di pasar reguler.

Investor mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada penguatan dolar AS dan melemahnya nilai tukar rupiah. Berdasarkan kurs JISDOR, rupiah melemah 0,22% menjadi Rp 15.221 per dolar AS.

Sentimen negatif juga datang dari pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal III 2108 yang melemah menjadi 6,5% atau di bawah ekspektasi pasar sebesar 6,7%. Saham-saham yang banyak dilepas investor asing, adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 104,5 miliar, PT United Tractor Tbk (UNTR) sebesar Rp 71,2 miliar, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 49,6 miliar.

Advertisement

(Baca: Sesi I Bursa Saham, Lima Sektor Menggerus IHSG ke 5.841,61)

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, sentimen negatif dan positif di pasar sama-sama kuat. "Ada ketegangan perang dagang AS-Tiongkok lagi," kata William kepada Katadata.co.id, Jumat (19/10). Di sisi lain, ada sentimen positif dari laporan keuangan emiten pada kuartal III 2018 yang rata-rata menunjukkan kinerja baik sehingga mampu menahan penurunan indeks.

Indeks saham sektor konsumer dan sektor keuangan turun paling dalam, masing-masing sebesar 0,72% dan 0,51%. Indeks saham setor perdagangan turun 0,49% sedangkan indeks saham sektor pertambangan turun 0,33%. Indeks saham sektor agribisnis turun 0,17% sedangkan indeks saham sektor infrastruktur minus 0,08%.

Indeks saham sektor aneka industri melaju paling tinggi 3,37% disusul indeks saham sektor industri dasar yang naik 0,63%. Sementara itu, indeks saham sektor properti naik 0,25% dan indeks sektor manufaktur 0,24%.

Untuk perdagangan minggu depan, William mengatakan, secara teknikal IHSG berpeluang menguat di kisaran 5.800 hingga 5.950. Sentimen yang akan mempengaruhi laju IHSG adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, di mana salah satunya menentukan suku bunga acuan BI.

Jika rupiah masih stabil dan suku bunga acuan tidak naik, kabar tersebut akan menjadi sentimen positif bagi IHSG. Namun jika pergerakan rupiah kembali melemah signifikan sedangkan suku bunga acuan tidak naik, hal tersebut bisa menjadi sentimen negatif.

"Pada dasarnya, kenaikan suku bunga acuan ini lebih ke tindakan preventif menolong rupiah. Sedangkan ekonomi negara sedang tidak dalam kondisi yang mendukung untuk suku bunga tinggi," katanya.

(Baca: Sentimen Negatif dari Bursa Global, IHSG Dibuka Melemah 0,03%)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait