Temui Investor di AS, Menko Luhut: Ekonomi Indonesia Kuat

Optimisme pemerintah didukung dengan peringkat investasi yang diperoleh dari Moody's, S&P, dan Fitch Ratings.
Image title
28 September 2018, 14:58
Luhut
ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memberi materi kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (1/3).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan dalam empat hari lawatannya ke Amerika Serikat (AS) bertemu dengan sejumlah manajer investasi dan investor global. Pemerintah memastikan perekonomian Indonesia kuat dan mampu selamat dari gejolak ekonomi global.

Dalam kunjungannya ke AS, Luhut bertemu dengan perwakilan dari Morgan Stanley Asset Management, BlackRock Investment Management, NN Investment Partners, TIAA Creft Investment Management, Prudential, Lazard Investment Management, dan Horizon Investment Management. "Saya yakin pemerintahan sekarang bisa melewati situasi ekonomi saat ini," kata Luhut dalam siaran pers, Jumat (28/9). Dalam setiap pertemuan dengan para investor, Luhut juga didampingi oleh perwakilan dari Bank Indonesia dan pelaku bisnis di Indonesia.

Pemerintah yakin masalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat diatasi. Begitu pula dengan inflasi yang pada akhir bulan ini diperkirakan berada di sekitar 4%. "Di sektor lain terjadi perbaikan. Double digit pertumbuhan pendapatan pajak adalah hal yang jarang terjadi, tax ratio biasanya berkisar 10% sekarang bisa 12% dari PDB," kata Luhut.

Dia juga menyebutkan, angka kemiskinan telah turun ke level terendah sejak 1970 di angka 9,28%. Pemerintah berharap angka kemiskinan tahun depan akan lebih baik lagi. Optimisme tersebut juga didukung dengan peringkat investasi (investment grade) yang didapatkan dari Moody's, S&P, dan Fitch Ratings. 
 
 
Kekuatan Kelas Menengah

Luhut mengungkapkan, Indonesia cenderung mengalami defisit neraca transaksi berjalan karena perekonomian tumbuh pesat. Salah satu indikatornya adalah jumlah kelas menengah yang semakin besar. Pada 2017, jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mencapai 40 juta orang dan diprediksi akan tumbuh lima kali lipat menjadi 200 juta orang pada 2045.

"Jumlah kelas menengah yang meningkat tajam mengakibatkan meningkatnya permintaan untuk barang-barang impor, seperti telepon seluler. Kelas menengah ini juga membuat pariwisata domestik meningkat, bisnis hotel dan tujuan wisata berkembang," ujarnya. Dalam lima tahun terakhir, pembelian pesawat Boeing dan Airbus dari maskapai penerbangan domestik terus tumbuh untuk mengikuti perkembangan ini.

Dampak lain dari pertumbuhan ekonomi adalah tingginya angka impor bahan mentah, terutama di sektor minyak dan gas (migas) serta barang-barang konsumsi. "Kekeliruan kami selama ini tidak mengintegrasikan industri-industri kami," kata Luhut. Pemerintah memutuskan tidak boleh ada lagi impor bahan mentah untuk menurunkan defisit neraca perdagangan.

Strategi lainnya dari pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan adalah dengan penerapan mandatory biodiesel B20. Kebijakan ini diyakini akan mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbahan fosil.

Terhitung sejak 1 September 2018, semua produsen diwajibkan mencampur biodiesel dengan kandungan minimum 20%. Jika tidak, mereka akan dikenakan denda sebesar US$ 0,4 per liter.

Pemerintah juga menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) untuk sejumlah komoditas impor untuk meningkatkan penggunaan produk lokal. Kebijakan lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan fasilitas dan infrastruktur pariwisata.

“Sektor pariwisata berbiaya murah tetapi pemasukan yang didapat luar biasa. Kami sudah melakukan berbagai perbaikan seperti perpanjangan landasan pesawat (runway), pembangunan infrastruktur di tujuan-tujuan wisata, dan hasilnya jumlah kunjungan wisatawan ke tempat-tempat tersebut berlipat ganda,” katanya.

Rata-rata wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia menghabiskan US$ 1 juta per orang atau sekitar Rp 14,5 miliar. Pada 2019, pemerintah memasang target kunjungan wisatawan asing sebanyak 20 juta orang.  "Negara kami memang pantas jadi tempat tujuan wisata. Majalah Travel and Leisure menempatkan Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Lombok di urutan tiga besar pulau dengan potensi wisata terbaik di dunia,” kata Luhut.
 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait