Penerbitan Surat Utang Korporasi 2018-2019 Diprediksi Melambat

Perlambatan ini disebabkan kenaikan biaya dana (cost of fund) dan sejumlah regulasi baru yang membatasi penerbitan surat utang korporasi.
Hari Widowati
20 September 2018, 16:00
Bursa Efek Indonesia
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Penerbitan surat utang korporasi diprediksi melambat dari Rp 183,5 triliun pada 2017 menjadi sebesar Rp 130-170 triliun pada 2018-2019. Perlambatan ini disebabkan kenaikan biaya dana (cost of fund) dan sejumlah regulasi baru yang membatasi penerbitan surat utang korporasi.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, normalisasi kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan perang dagang antara AS-Tiongkok menyebabkan pasar keuangan global bergejolak, dolar AS menguat terhadap mata uang negara-negara lain termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) telah beberapa kali menaikkan suku bunga acuan untuk merespons dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Pefindo memprediksi hingga akhir tahun ini masih ada satu kali lagi kenaikan suku bunga 7 Days Repo Rate sebesar 25 bps ke level 5,75%.

Hal ini menyebabkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menerbitkan surat utang meningkat. Sebagai gambaran, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang menjadi acuan (benchmark) saat ini berada di 8,51% dan pada akhir tahun ini diprediksi akan berada di level 8,4%.

Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menerbitkan Peraturan OJK Nomor 11/2018 tentang Penawaran Umum Efek Bersifat Utang atau Sukuk Kepada Pemodal Profesional dan Surat Edaran mengenai Medium Term Notes (MTN). Kedua peraturan tersebut diperkirakan akan mempersulit korporasi dengan kriteria tertentu mencari pendanaan dari pasar modal. "Ada beberapa peraturan obligasi korporasi yang kurang favorable. MTN tidak bisa lagi menjadi underlying reksadana, juga ada penawaran obligasi tanpa rating untuk pemodal profesional," kata Fikri dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (20/9).

Advertisement

Pefindo memperkirakan, hingga akhir tahun ini nilai penerbitan obligasi korporasi termasuk sukuk, MTN, dan efek beragun aset (EBA) akan mencapai Rp 120 triliun-Rp 170 triliun. "Tahun depan proyeksinya sekitar Rp 130 triliun-Rp 170 triliun karena masalah cost of fund masih menjadi PR bagi para emiten," ujar Fikri.

(Baca: OJK Bekukan SNP Finance Karena Gagal Bayar Bunga MTN)

Assistant Vice President Corporate Ratings Division Pefindo Niken Indriarsih mengatakan, penerbitan obligasi korporasi hingga 31 Agustus 2018 mencapai Rp 99,1 triliun. Emiten di sektor pembiayaan mendominasi penerbitan obligasi korporasi sebesar Rp 37,08 triliun dari 22 perusahaan disusul perbankan sebanyak 11 perusahaan dengan nilai emisi Rp 21,34 triliun. Selama periode Januari-Agustus 2018, Pefindo memeringkat surat utang dari 57 perusahaan dengan nilai emisi Rp 83,66 triliun. Pangsa pasar Pefindo mencapai 85% dari total penerbitan obligasi.

Berdasarkan mandat pemeringkatan yang diterima perusahaan, masih ada 31 perusahaan yang berencana menerbitkan surat utang sebesar Rp 40 triliun pada akhir tahun ini dan beberapa tahun ke depan. Niken menyebutkan, dari total rencana tersebut, realisasi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) mencapai Rp 15,2 triliun, PUB baru Rp 8 triliun, MTN Rp 8,2 triliun, obligasi Rp 5,1 triliun, dan sukuk Rp 3,5 triliun.

(Baca: Semester I 2018, Penerbitan Surat Utang Korporasi Rp 75,28 Triliun)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait