OJK Keluarkan Aturan Moratorium Izin Manajer Investasi

Image title
17 Desember 2021, 07:30
OJK Keluarkan Aturan Moratorium Izin Manajer Investasi
Donang Wahyu|KATADATA
Gedung OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara atau moratorium pemberian izin perusahaan efek yang melakukan kegiatan usaha selaku manajer investasi. Hal ini dinilai perlu agar otoritas dapat melakukan evaluasi. 

Adapun, regulator telah mengeluarkan izin perusahaan efek untuk melakukan kegiatan usaha selaku manajer investasi kepada 98 pihak hingga 14 Desember 2021. Batas waktu moratorium ini belum ditetapkan. 

Berdasarkan rilis yang diterima Katadata.co.id, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, permohonan izin perusahaan efek yang diajukan sebelum ditetapkannya mortorium ini akan tetap diproses.

Moratorium ini tertuang dalam Surat Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK No. KEP-72/D.04/2021 per 14 Desember 2021. Keputusan ini tidak akan berdampak pada perusahaan efek yang melakukan kegiatan usaha selaku manajer investasi yang telah memiliki izin. 

Salah satu pertimbangan keputusan ini adalah untuk menyempurnakan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Lembaga Keuangan Nomor V.A.3 tentang Perizinan Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha sebagai Manajer Investasi. 

Alasan lainnya, OJK melakukan evaluasi atas tata kelola pengelolaan investasi, peningkatan kapasitas, serta peningkatan penerapan prinsip kehati-hatian atas seluruh manajer investasi yang telah memperoleh izin.

OJK menilai manajer investasi yang profesional dan memiliki komitmen pertumbuhan industri pengelolaan investasi, peting untuk menyehatkan dan meningkatkan daya saing industri pengelolaan investasi nasional. Pasalnya, jumlah nasabah reksa dana pada tahun ini naik cukup tinggi. 

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mendata jumlah investor reksa dana tumbuh paling besar atau sebesar 106,3% menjadi 6,5 juta orang hingga 3 Desember 2021 dari realisasi 2020 sebanyak 3,1 juta orang. Sementara itu, jumlah investor C-BEST tumbuh 96,37% menjadi 3,3 juta orang, sedangkan investor surat berharga naik 31,12% menjadi 603 ribu orang. 

Secara total, KSEI mendata ada 11 juta nomor identitas tunggal investor atau single investor identification (SID). Adapun, SID S-MULTIVEST atau SID Multi Investasi Terpadu atau S-MULTIVEST mencapai 4 juta unit. 

Sebanyak 99,51% dari total investor pasar modal saat ini adalah investor ritel, sedangkan sebanyak 0,49% merupakan investor institusi. Selain itu, sebanyak 73,04% atau 5,2 juta investor memiliki rekening di agen penjualan teknologi finansial atau SA Fintech. 

Di samping itu, total investor pasar modal pada akhir 2020 mencapai 3,8 juta orang, sedangkan investor di Pulau Jawa berkontribusi hingga 71,82%. Adapun total aset C-BEST dan S-INVEST di Pulau Jawa masing-masing mencapai Rp 2.309 triliun dan Rp 538 triliun. 

Kecuali Pulau Jawa dan wilayah Maluku dan Papua, kontribusi investor di masing-masing wilayah meningkat. Kontribusi investor di Pulau Sumatra naik dari realisasi akhir 2020 sebanyak 15,48% menjadi 16,53% pada November 2021. Sementara itu, investor di Pulau Kalimantan naik menjadi 5,39% pada November 2021 dari realisasi 2020 di level 4,98%. 

Salah satu pendorong pertumbuhan investor di Pulau Jawa adalah pemerataan infrastruktur dan transformasi teknologi. Alhasil, fasilitas pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) dinilai jadi lebih cepat dan mudah. 

Proses pembukaan RDN yang mengharuskan investor datang ke kota besar dipangkas menjadi hanya melalui gawai. Selain itu, waktu pembukaan RDN yang tadinya memakan waktu hingga 2 minggu dapat dipangkas menjadi hanya beberapa jam. 

Laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, jumlah investor pasar modal mencapai 7,15 juta investor per November 2021. Jumlah ini naik 84,28% dibandingkan periode  tahun lalu yang sebanyak 3,88 juta investor.

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait