Pasar yang Mudah Panik: Mengurai Volatilitas IHSG dari Kacamata Riset

Dewi Hanggraeni dan Jeffry Fauzan
Oleh Dr. Dewi Hanggraeni - Jeffry Fauzan
7 Januari 2026, 08:05
Dewi Hanggraeni dan Jeffry Fauzan
Katadata/ Amosella
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Masih dalam suasana awal tahun, waktu yang tepat untuk refleksi portofolio dan saham setahun belakangan ini. Terlebih karena pada 2025, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan betapa sensitifnya pasar saham Indonesia terhadap perubahan sentimen.

Dalam satu tahun, IHSG sempat menyentuh titik terendah di kisaran 5.967 sebelum akhirnya mencetak rekor tertinggi baru. Pola naik–turun yang tajam ini memunculkan pertanyaan penting: apakah volatilitas IHSG mencerminkan kondisi fundamental ekonomi, atau lebih banyak digerakkan oleh sentimen jangka pendek?

Sepanjang 2025, IHSG pernah menyentuh level harga terendah yaitu Rp 5.967. Tapi kemudian pada bulan Desember, IHSG mencetak nilai all time high. Pola naik–turun yang tajam ini membentuk pertanyaan, apakah pasar saham Indonesia memiliki volatilitas tinggi karena sensitif terhadap isu dan faktor-faktor ekonomi, atau lebih banyak digerakan oleh sentimen investor?

Tulisan ini akan mencoba menjelaskannya dari rangkuman beberapa penelitian terbaru terkait pasar modal Indonesia. Banyak jurnal yang mencari faktor penggeraknya, mulai dari faktor makroekonomi, sentimen, juga dinamika global. 

Ketika Indikator Global Menentukan Arah Jakarta

Sejumlah riset terbaru memberikan gambaran yang menarik. Penelitian Sumaryana dkk. (2024) menunjukkan bahwa variabel domestik seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan sentimen investor lokal hanya menjelaskan sebagian kecil pergerakan IHSG. Faktor global—terutama indeks saham Amerika Serikat—justru memiliki pengaruh dominan. Ketika pasar Amerika Serikat tersentak oleh data inflasi atau pengetatan kebijakan The Fed (Bank Sentral Amerika), IHSG cenderung mengikuti.

Ketergantungan terhadap investor asing memperkuat pola tersebut. Aliran dana asing memiliki kontribusi signifikan terhadap volatilitas harian IHSG, terutama pada periode ketidakpastian global. Ketika sentimen global memburuk, respons pasar domestik sering kali cepat dan berlebihan. Dalam struktur pasar seperti ini, volatilitas bukan semata refleksi kondisi ekonomi nasional, tetapi juga cerminan posisi Indonesia dalam arsitektur pasar keuangan global.

Nilai Tukar Rupiah: Motor Utama Penggerak Volatilitas

Di antara faktor domestik, nilai tukar rupiah muncul sebagai variabel yang paling konsisten memengaruhi IHSG. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pergerakan rupiah memiliki korelasi kuat dengan indeks saham. Pelemahan rupiah seringkali diikuti tekanan pada IHSG, sementara penguatan rupiah menjadi sinyal positif bagi pasar.

Rupiah, dalam konteks ini, berfungsi sebagai barometer kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Ketika rupiah menguat, indeks cenderung naik; sebaliknya, pelemahan rupiah sering diikuti tekanan pada pasar saham.

Konteks ini selaras dengan dinamika pasar. Berita-berita mengenai intervensi Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah—mulai dari operasi valas hingga kebijakan moneter yang lebih ketat—seringkali langsung direspons pasar saham. Rupiah bukan sekadar indikator makro, tetapi juga barometer kepercayaan investor asing terhadap stabilitas Indonesia.

Inflasi dan Suku Bunga Tidak Berdampak Simetris

Sebaliknya, penelitian Sia dkk menunjukkan bahwa dampak inflasi dan suku bunga tidak selalu simetris. Kenaikan inflasi atau suku bunga cenderung langsung menekan pasar saham, tetapi penurunannya tidak otomatis memicu reli yang sebanding.

Fenomena ini menjelaskan mengapa pasar sering bereaksi berlebihan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat, namun kurang antusias ketika kebijakannya dilonggarkan. Pasar yang dipengaruhi dominasi modal asing, Pergerakan jangka pendek pasar yang dipengaruhi dominasi modal asing lebih sering dipicu oleh risiko dan volatilitas daripada ekspektasi jangka panjang.

Pasar Syariah Pun Terimbas Volatilitas

Studi mengenai Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menunjukkan bahwa volatilitas bukan hanya terjadi pada indeks IHSG. Penelitian Latifatunnisa & Sudarsono (Macroeconomic Variables and the Indonesian Sharia Stock Index) membuktikan bahwa inflasi, suku bunga, dan nilai tukar tetap berpengaruh terhadap indeks syariah. Meskipun perusahaan-perusahaan dalam indeks syariah cenderung memiliki profil keuangan yang lebih konservatif, dinamika indeksnya tetap sensitif terhadap tekanan global. Ini menguatkan argumentasi bahwa volatilitas pasar domestik merupakan fenomena sistemik, bukan sektoral.

Volatilitas Bukan Indikator Sebuah Masalah

Dari sudut pandang manajemen risiko, volatilitas bukanlah anomali, melainkan karakter inheren pasar. Model kuantitatif seperti GARCH banyak digunakan untuk mengukur bagaimana guncangan ekonomi memengaruhi volatilitas secara dinamis. Namun, tantangan utama bukan menghilangkan volatilitas, melainkan memastikan bahwa volatilitas tersebut tidak merusak kepercayaan pasar dan fungsi alokasi modal.

Bagi investor, kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih disiplin. Volatilitas tinggi menegaskan pentingnya diversifikasi, pengelolaan risiko nilai tukar, serta pemahaman bahwa pergerakan jangka pendek sering kali lebih dipengaruhi sentimen global daripada fundamental domestik. Dalam pasar yang mudah bergejolak, kesabaran dan manajemen risiko menjadi sama pentingnya dengan pencarian imbal hasil.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Dewi Hanggraeni dan Jeffry Fauzan
Dr. Dewi Hanggraeni
Dosen FEB UI

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...