Venezuela, Minyak, dan Politik Tekanan Amerika Serikat
Pertanyaan mengapa Amerika Serikat menyerang Venezuela kerap diajukan dengan keyakinan yang nyaris menutup ruang ragu, seakan jawabannya sudah siap diambil dari rak penjelasan yang mudah dijangkau. Demokrasi yang memburuk, pelanggaran hak asasi manusia, watak otoriter rezim, hingga bayang-bayang perdagangan narkotika, semua terdengar masuk akal tatkala diulang terus oleh media global dan pernyataan resmi para pejabat.
Akan tetapi sejarah politik jarang bergerak dengan logika yang lurus dan semenjana. Konflik antarnegara hampir selalu berakar pada lapisan yang lebih dalam, tempat kepentingan ekonomi, struktur kekuasaan, dan ingatan sejarah berkelindan rapat, bekerja perlahan namun menentukan arah peristiwa yang tampak di permukaan.
Venezuela bukan sekadar negara dengan krisis politik. Ia adalah negara minyak dengan cadangan terbesar di dunia. Dalam tatanan global modern, minyak bukan hanya sumber energi, melainkan penentu posisi strategis suatu negara. Negara yang menguasai minyak tidak hanya menguasai sumber daya alam, tetapi juga memiliki daya tawar geopolitik. Karena itu, setiap perubahan arah politik di negara minyak selalu diawasi dengan ketat oleh kekuatan besar.
Buku The Political Economy of Oil in Venezuela: Class conflict, the state, and the world market (Brill, 2026) karya Kristin Ciupa memberikan kerangka penting untuk memahami persoalan ini secara lebih jernih. Buku ini tidak menempatkan Venezuela sebagai anomali atau kegagalan moral semata, melainkan sebagai produk dari sejarah panjang kapitalisme global yang membentuk negara, kelas sosial, dan relasi kekuasaan. Dari sudut pandang ini, tekanan Amerika Serikat terhadap Venezuela bukanlah peristiwa insidental, melainkan kelanjutan dari logika lama yang bekerja dalam ekonomi politik energi dunia.
Negara Rente
Sejak awal abad kedua puluh, Venezuela mengalami transformasi ekonomi yang sangat cepat. Dari negara agraris yang bergantung pada kopi dan kakao, Venezuela berubah menjadi negara minyak yang hidup dari ekspor energi. Perubahan ini menciptakan struktur ekonomi nan khas. Negara tidak lagi bergantung pada pajak dari produksi luas masyarakat, melainkan pada rente dari sumber daya alam.
Dalam struktur seperti ini, negara berfungsi sebagai pengumpul dan pendistribusi pendapatan minyak. Politik pun berubah makna. Perebutan kekuasaan negara menjadi perebutan akses terhadap rente. Konflik sosial tidak sepenuhnya menghilang, tetapi bertransformasi menjadi persaingan untuk menguasai institusi negara. Kristin Ciupa menahbis bentuk ini sebagai “landlord state”, negara yang hidup dari sewa sumber daya.
Model ini memberikan kekuatan besar sekaligus kelemahan mendasar. Ketika harga minyak tinggi, negara memiliki ruang fiskal luas untuk membiayai pembangunan dan program sosial. Namun tatkala harga jatuh, fondasi ekonomi segera goyah. Siklus kemakmuran dan krisis menjadi pola berulang yang silang selimpat dihindari.
Struktur inilah yang diwarisi oleh Hugo Chávez ketika terpilih pada akhir 1990-an. Venezuela saat itu baru saja melewati fase neoliberal yang meninggalkan luka sosial mendalam. Ketimpangan meningkat. Kepercayaan publik terhadap partai lama runtuh. Revolusi Bolivarian lahir sebagai respons terhadap situasi ini. Ia menjanjikan kedaulatan, keadilan sosial, dan partisipasi rakyat. Namun revolusi ini tetap berdiri di atas struktur negara rente yang sama.
Ketergantungan Minyak
Tidak adil jika menafikan capaian sosial Venezuela pada era Bolivarian. Angka kemiskinan menurun secara signifikan. Akses kesehatan dan pendidikan meluas. Program sosial menjangkau kelompok yang selama puluhan tahun terpinggirkan. Partisipasi politik meningkat melalui pembentukan komune dan dewan rakyat. Dalam indikator pembangunan manusia, Venezuela sempat mencapai kategori tinggi.
Keberhasilan ini menciptakan harapan besar. Banyak pihak melihat Venezuela sebagai alternatif terhadap neoliberalisme yang gagal menjanjikan kesejahteraan. Namun di balik capaian tersebut, terdapat masalah struktural yang tidak terselesaikan. Perekonomian Venezuela tetap sangat bergantung pada minyak. Industri non-minyak gagal tumbuh secara mandiri. Produksi dalam negeri tidak mampu menggantikan impor.
Ciupa meneroka bahwa pada awal dekade 2010-an, minyak menyumbang sekitar 96% nilai ekspor Venezuela. Angka ini menunjukkan tingkat ketergantungan yang ekstrem. Negara memang mendistribusikan kekayaan, tetapi tidak membangun basis produksi yang berkelanjutan. Program industrialisasi dan diversifikasi bergantung pada subsidi negara, bukan pada daya saing ekonomi yang otonom.
Ketika harga minyak jatuh setelah 2014, keterbatasan ini muncul dengan brutal. Pendapatan negara menyusut drastis. Inflasi melonjak. Kelangkaan barang menjadi kenyataan sehari-hari. Dalam situasi inilah tekanan eksternal dari Amerika Serikat menemukan momentumnya. Krisis internal dan kepentingan global bertemu dalam satu titik.
Kepentingan Amerika Serikat
Amerika Serikat memiliki sejarah panjang dalam industri minyak Venezuela. Sejak awal eksploitasi, perusahaan-perusahaan Amerika memainkan peran dominan. Nasionalisasi minyak pada 1970-an dan penguatan kembali kontrol negara pada era Chávez mengubah relasi ini. Venezuela tidak hanya menuntut kedaulatan energi, tetapi juga mengalihkan sebagian hubungan ekonominya ke negara lain seperti Cina dan Rusia.
Dalam geopolitik energi, langkah ini tidak cemeh. Minyak Venezuela merupakan bagian penting dari pasokan global. Kehilangan pengaruh di Venezuela berarti melemahkan posisi strategis Amerika Serikat dalam pasar energi. Dalam kerangka ini, tekanan terhadap Venezuela tidak bisa dilepaskan dari kepentingan untuk menjaga arsitektur ekonomi global yang menguntungkan.
Ciupa menekankan bahwa konflik ini bersifat struktural. Ia bukan sekadar reaksi terhadap kebijakan dalam negeri Venezuela, melainkan bagian dari pertarungan atas rente minyak, investasi, dan kendali pasar. Sanksi ekonomi, pembatasan finansial, dan dukungan terhadap oposisi internal menjadi instrumen yang digunakan untuk menekan negara yang dianggap menyimpang dari tatanan yang diharapkan.
Bahasa demokrasi dan hak asasi manusia tetap digunakan. Bahasa ini penting untuk membangun legitimasi moral di hadapan publik global. Akan tetapi bahasa moral tersebut berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi yang konkret. Dalam politik internasional, keduanya jarang terpisah.
Dilema Kedaulatan
Kritik terhadap pemerintah Venezuela tidak sepenuhnya tidak berdasar. Pembatasan kebebasan politik, krisis ekonomi yang parah, dan salah kelola kebijakan memang terjadi. Walakin buku Ciupa mengingatkan bahwa kritik moral sering kali gagal menjelaskan mengapa tekanan internasional mengambil bentuk yang sangat keras terhadap Venezuela.
Banyak negara dengan catatan hak asasi manusia yang cendala tidak mengalami sanksi serupa. Perbedaannya terletak pada posisi strategis. Negara yang menguasai sumber daya penting dan menantang relasi pasar global akan menghadapi tekanan lebih besar. Dalam kasus Venezuela, tekanan itu diperparah oleh lemahnya struktur ekonomi domestik.
Sebagai negara rente, Venezuela menjadikan negara sebagai pusat kehidupan ekonomi. Tatkala negara tertekan, masyarakat ikut terdampak. Ketergantungan ini membuat sanksi ekonomi sangat efektif sekaligus sangat merusak. Krisis tidak hanya menghantam elit politik, tetapi juga rakyat biasa.
Pelajaran bagi Global South
Kisah Venezuela bukan kisah tentang kegagalan satu ideologi. Ia adalah kisah tentang batas-batas negara dalam sistem kapitalisme global. Upaya redistribusi dapat memperbaiki kehidupan jutaan orang, tetapi tanpa perubahan struktur produksi dan posisi dalam pasar dunia, keberhasilan itu mudah runtuh.
Amerika Serikat menyerang Venezuela bukan karena satu alasan tunggal. Ia adalah hasil pertemuan antara krisis internal negara rente dan kepentingan global dalam mengamankan energi. Dalam pertemuan itu, bahasa moral dan instrumen ekonomi saling menguatkan.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini relevan. Indonesia juga pernah mengalami ketergantungan pada komoditas dan fluktuasi harga global. Venezuela mengingatkan bahwa kedaulatan ekonomi bukan hanya soal kebijakan nasional, tetapi juga soal posisi dalam struktur global.
Pertanyaan paling penting bukan sekadar mengapa Amerika Serikat menyerang Venezuela. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana negara-negara Global South dapat membangun kemandirian ekonomi yang tidak mudah diguncang oleh kepentingan global. Venezuela menunjukkan bahwa tanpa perubahan struktur yang dalam, kedaulatan selalu berada dalam posisi rapuh.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
