Bonus Demografi, Krisis Talenta, dan Peluang Bali di Industri Perhotelan Dunia

Made Ariani Siswanto
Oleh Made Ariani Siswanto
4 Februari 2026, 06:05
Made Ariani Siswanto
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di Bali, filosofi Tri Hita Karana, menjadi landasan bagi setiap institusi, termasuk bagi bisnis keluarga lintas generasi, yang berbasis di Tabanan, Bali, selama lebih dari 30 tahun. Fokus kami konsisten pada pelestarian budaya, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, serta pendidikan, sejalan dengan visi Bali dalam pengembangan pariwisata dan perhotelan yang bertanggung jawab.

Saya menyaksikan langsung bagaimana kualitas talenta Indonesia terus meningkat. Generasi profesional muda, khususnya milenial dan Gen Z, semakin adaptif dan berjiwa wirausaha, dengan orientasi global sekaligus dorongan untuk membangun usaha sendiri. 

Dengan budaya perhotelan yang kuat dan basis talenta yang luas, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat talenta perhotelan global, dengan Bali sebagai titik awal yang paling tepat.

Permintaan Talenta yang Kian Besar

Bonus demografi Indonesia telah banyak dibahas. Lebih dari separuh dari sekitar 280 juta penduduk Indonesia berada pada rentang usia 18 hingga 39 tahun. Kelompok usia produktif ini merupakan kekuatan utama bangsa yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Dalam visi Indonesia Emas 2045, mereka diharapkan menjadi penggerak yang membawa Indonesia masuk ke jajaran 10 besar ekonomi dunia.

Namun, besarnya populasi usia muda saja tidak cukup untuk mendorong kemajuan ekonomi dan sosial jika tidak diiringi dengan ketersediaan peluang yang memadai. Di sinilah tantangan terbesar bagi negara dan dunia usaha saat ini. Survei nasional terbaru menunjukkan hampir 10 juta anak muda Indonesia berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. 

Di sisi lain, meskipun permintaan talenta di sektor perhotelan terus meningkat, para pekerjanya masih dihadapkan pada berbagai tantangan nyata, mulai dari daya saing upah, jam kerja yang panjang, ketidakpastian pekerjaan, hingga tingginya tingkat pergantian tenaga kerja. Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi ini berpotensi menjadi masalah besar di masa depan.

Di tingkat global, gambaran yang muncul tidak kalah mencolok. World Travel & Tourism Council memperingatkan bahwa pada 2035 industri pariwisata akan menghadapi kekurangan hingga 43 juta tenaga kerja. 

Dalam sepuluh tahun ke depan, sektor ini diproyeksikan menciptakan sekitar 91 juta lapangan kerja di seluruh dunia, namun kebutuhan talenta diperkirakan akan melampaui ketersediaannya.

Ketimpangan ini menandai potensi persoalan besar di tingkat industri, sekaligus membuka peluang bagi pemerintah, pelaku usaha, dan institusi pendidikan perhotelan untuk bersama-sama menjembatani kesenjangan tersebut.

Dalam satu dekade ke depan, sektor perhotelan Indonesia akan bergerak melampaui layanan tradisional menuju pendekatan berbasis pengalaman, keberlanjutan, dan komunitas. Perubahan ini menuntut kesiapan generasi muda dengan keterampilan lintas peran agar mampu beradaptasi dan berkembang di sektor perhotelan serta destinasi terintegrasi masa depan.

Menjembatani Kesenjangan Melalui Pendidikan

Pada 2025, sektor perhotelan diproyeksikan menghasilkan pendapatan lebih dari US$29 miliar atau sekitar Rp488 triliun, didorong oleh meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, pengembangan infrastruktur, serta dorongan pemerintah terhadap pariwisata berkelanjutan.

Bali berada di jantung dinamika tersebut. Berdasarkan data pemerintah, sebanyak 7,05 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Dewata melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai sepanjang 2025. Jika digabungkan dengan wisatawan domestik, jumlah kunjungan mencapai lebih dari 16,3 juta orang per tahun. Provinsi ini juga menjadi rumah bagi berbagai merek perhotelan ternama, sehingga pengembangan Bali sebagai pusat talenta perhotelan menjadi langkah yang sangat relevan dan strategis.

Untuk mewujudkannya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan kurikulum pendidikan benar-benar mencerminkan kebutuhan pasar. Seiring evolusi industri pariwisata, materi pembelajaran harus memenuhi standar internasional serta menekankan praktik yang etis dan berkelanjutan. 

Sekolah-sekolah di Indonesia sejatinya telah mengintegrasikan budaya lokal ke dalam program pendidikannya, sebuah keunggulan tersendiri yang dapat membuat lulusan lebih menonjol di tingkat global sekaligus menarik minat mahasiswa internasional yang ingin belajar dalam lingkungan yang autentik. 

Kedua, perkuat kolaborasi melalui kemitraan dengan pelaku industri, baik lokal maupun global, yang akan membuka akses magang dan pengalaman praktik langsung bagi mahasiswa, sehingga menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. 

Hal ini tercermin dalam kemitraan kami dengan jaringan perhotelan mewah terkemuka di Bali, serta program magang dan penempatan internasional di lebih dari 15 institusi perhotelan dan gastronomi ternama di Prancis, Italia, dan Hong Kong.

Ketiga, kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan sektor swasta dapat mempercepat pengembangan industri perhotelan melalui penyelarasan kebijakan, pelatihan, dan kebutuhan nyata industri. 

Sinergi ini memungkinkan lahirnya program-program yang lebih praktis dan relevan, sehingga membekali generasi muda Indonesia dengan keterampilan masa depan di bidang perhotelan yang berkelanjutan, berbasis pengalaman, dan berorientasi pada komunitas.

Terakhir, menumbuhkan jiwa kewirausahaan menjadi hal yang tidak kalah penting. Generasi muda Indonesia saat ini adalah calon pelaku usaha dan pemimpin industri di masa depan. Membekali mereka dengan keterampilan sejak dini akan membangun kepercayaan diri dan membuka ruang bagi inovasi. 

Contohnya, Kristopher asal Makassar, lulusan Bali Culinary Pastry School (BCPS) yang kembali ke daerah asalnya dan membangun usaha kuliner berbasis mi, yang dalam waktu relatif singkat berkembang dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Contoh lain datang dari Aprilline Felicia Gunawan, talenta kuliner muda yang merintis usaha pastry di Bogor, dan baru-baru ini terpilih sebagai finalis dalam ajang nasional kewirausahaan Food Startups Indonesia 2025. 

Contoh-contoh ini menunjukkan peran institusi pendidikan sebagai inkubator nasional, yang tidak hanya membangun keunggulan teknis tetapi juga kemampuan kewirausahaan untuk memperkuat sektor perhotelan dan kuliner Indonesia.

Keberlanjutan jangka panjang dan daya saing global Bali sangat bergantung pada tata kelola yang stabil, regulasi yang jelas dan konsisten serta infrastruktur yang mampu menopang permintaan internasional. 

Ketidakpastian regulasi dan kesenjangan infrastruktur berpotensi menimbulkan risiko lingkungan, reputasi, dan perencanaan. Hal ini tercermin dari peristiwa banjir yang belakangan ini menarik perhatian global.

Dari sisi regulasi, sektor swasta membutuhkan kepastian kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan perizinan usaha dan visa tenaga kerja, agar pelaku usaha dapat melakukan perencanaan jangka panjang. Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat krusial dalam mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan sektor perhotelan.

Pada saat yang sama, Bali memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat talenta perhotelan berkelas dunia, yang menyiapkan tenaga lokal bagi pasar domestik maupun internasional. 

Mewujudkan peluang ini membutuhkan langkah yang terkoordinasi sejak sekarang dari pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan. Keterlambatan dalam merespons, akan membuat Bali kurang siap menghadapi kekurangan talenta dan tekanan pertumbuhan di masa depan, sekaligus berisiko melemahkan kredibilitasnya sebagai destinasi global unggulan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Made Ariani Siswanto
Made Ariani Siswanto
Managing Director Nyanyi Bali & Founder Bali Culinary Pastry School (BCPS)

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...