Mistik, Viral, dan Kegelisahan Kita Akan Kepastian

Muhammad Iqbal
Oleh Muhammad Iqbal
7 Februari 2026, 06:05
Muhammad Iqbal
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Mama Gufron muncul di linimasa seperti tamu yang tidak diundang namun segera menjadi pusat perhatian. Sosok yang nama aslinya adalah Iyus Sugriman ini viral bukan karena pidato yang hangat bertentang rasa, tetapi karena potongan ceramahnya yang berpindah tangan di media sosial dengan cepat. Dalam rekaman video, ia mengaku bisa berwicara dengan semut dan cacing serta mengatakan bahwa ia pernah melakukan panggilan video dengan malaikat maut, pernyataan yang terdengar laksana lelucon simfoni yang dimainkan dalam ruang publik. 

Klaim-klaim semacam itu segera menjadi bahan perdebatan karena tidak hanya mengundang tawa tetapi juga kekhawatiran. Ketua Majelis Ulama Indonesia menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar dan perlu dikaji lebih jauh agar masyarakat tidak terbawa oleh pemahaman yang salah perihal ajaran keagamaan. Di tengah kegaduhan itu, kita sebagai penonton dan pembaca pun ditinggalkan dengan pertanyaan yang terlalu berkanjang untuk dilewati begitu saja.

Mistik selalu lahir dari hasrat. Hasrat untuk menembus batas bahasa. Hasrat untuk merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar urutan sebab dan akibat. Psikologi modern mencatat pengalaman ini bukan sebagai kebenaran metafisik, melainkan sebagai peristiwa batin yang membentuk cara seseorang meneroka dunia. Zhuo Job Chen dalam bukunya The Psychology of Mysticism (Cambridge University Press, 2026) menyebutnya sebagai pengalaman yang melampaui realitas yang dipersepsi dan mentransformasi individu, dengan kualitas noetik dan ketakterucapan sebagai cirinya.

Masalah muncul ketika pengalaman yang tak terucap dipaksa berwicara di ruang publik. Bahasa yang lahir dari tuntutan penjelasan sering kali mengkhianati pengalaman itu sendiri. Ia menjadi berlebihan atau justru dangkal. Dalam kasus Mama Gufron, publik tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi, tetapi juga ingin memastikan bahwa pengalaman itu sesuai dengan peta keyakinan mereka. Yang tidak cocok segera dicurigai. Yang terlalu cocok justru dikhawatirkan.

Mistik di Era Algoritma

Algoritma menyukai kepastian. Ia bekerja paling baik ketika emosi jelas dan posisi tegas. Mistik tidak memiliki kemewahan itu. Ia ambigu, cair, dan sering kali kontradiktif. Ketika pengalaman mistik masuk ke logika algoritma, yang tersisa hanyalah potongan yang paling mudah dipahami. Kesunyian dipadatkan menjadi klaim. Keraguan dipotong agar tidak mengganggu arus penonton.

Chen mengingatkan bahwa mistik tidak pernah tunggal. Ia hadir dalam pelbagai lapisan pengalaman. Ada pengalaman yang menenggelamkan diri ke dalam kesatuan total. Ada yang mempertahankan jarak antara manusia dan yang ilahi. Ada pula yang hidup dalam perjumpaan dengan dunia liyan yang dianggap sejajar. 

Dalam kerangka psikologi pengalaman, lapisan-lapisan ini tidak disusun untuk saling mengalahkan. Tidak satu pun lebih benar dari yang lain. Semuanya adalah cara manusia memberi makna pada pengalaman batin yang melampaui kebiasaan sehari-hari. Kompleksitas ini justru menjadi penanda bahwa mistik adalah wilayah yang rapuh dan kaya, bukan medan lomba untuk menentukan pemenang.

Masalahnya, algoritma tidak pernah belajar bersabar. Ia tidak mengenal lapisan. Ia tidak tertarik pada keraguan. Ia hanya mengenal viralitas. Maka yang kompleks harus diperas hingga tinggal sari yang paling mudah dicerna. Yang ambigu harus dipotong agar tidak mengganggu arus. Yang ragu dianggap tidak meyakinkan lalu disingkirkan. Dalam logika ini, mistik dipaksa mengenakan pakaian kepastian yang bukan ukurannya. Ia tampil terlalu sempit untuk dirinya sendiri, lalu kita heran mengapa ia tampak berlebihan.

Dalam setiap kontroversi mistik, tubuh menjadi medan tafsir. Nada suara, gerak tangan, dan ekspresi wajah dibaca sebagai bukti. Pengalaman batin di titik ini berubah menjadi performa. Otoritas spiritual tidak lagi lahir dari perjalanan panjang, melainkan dari potongan video yang dianggap meyakinkan.

Psikologi mencatat bahwa pengalaman mistik sering kali melibatkan perubahan kesadaran yang nyata bagi pelakunya. Walakin kenyataan psikologis tidak otomatis menjadi legitimasi sosial. Di sinilah ketegangan muncul. Publik ingin bukti yang bisa diuji. Pelaku hanya memiliki pengalaman yang dirasakan. Keduanya bertemu dalam ruang yang sempit dan panas.

Ada kegelisahan kolektif yang jarang diakui. Kita ingin kebenaran yang tegas karena dunia terasa rapuh. Dalam ketidakpastian ekonomi, politik, dan moral, mistik tampak laksana pintu darurat. Ia menawarkan makna yang tidak perlu diuji terlalu jauh. Akan tetapi pintu darurat yang dibuka terlalu sering akan menjadi jalur utama. Di situlah bahaya dimulai.

Chen mengingatkan bahwa pengalaman mistik tidak boleh dilepaskan dari transformasi etis. Ia bukan sekadar sensasi, melainkan perubahan cara hidup. Tatkala mistik dipisahkan dari etika, ia berubah menjadi komoditas. Ia dijual sebagai kepastian instan, bukan sebagai perjalanan batin yang menuntut kesabaran.

Menertawakan Keseriusan

Ada ironi yang silang selimpat diabaikan. Kita menertawakan klaim mistik sambil diam-diam berharap ia benar. Kita mengecamnya sebagai irasional, tetapi diam-diam cemburu pada keyakinan yang tampak utuh. Satire tidak lahir untuk merendahkan, melainkan untuk membuka jarak. Jarak yang memungkinkan kita melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Arkian, dalam kontroversi Mama Gufron, yang patut ditertawakan bukanlah pengalaman seseorang, melainkan keseriusan kita dalam menuntut jawaban cepat atas sesuatu yang pada dasarnya lambat. Kita lupa bahwa sebagian pertanyaan memang tidak dirancang untuk diselesaikan dalam satu siklus berita.

Jurnalisme berdiri pada persimpangan yang sulit. Ia harus memberi ruang bagi perdebatan publik tanpa terjerumus ke dalam sensasi. Di sini, buku Chen berguna bukan sebagai pembenaran, melainkan sebagai penjernih. Ia mengajak kita meneroka mistik sebagai fenomena manusia yang kompleks, bukan sebagai ancaman atau mukjizat yang harus segera dihakimi.

Kesabaran menjadi nilai yang mahal. Dalam dunia yang bergerak cepat, kesabaran tampak seperti kelemahan. Padahal tanpa kesabaran, kita hanya memproduksi kebisingan. Mistik lalu menjadi korban dari kebisingan itu.

Mungkin pelajaran paling berharga dari kontroversi ini adalah hak untuk tidak menjawab. Hak untuk membiarkan sebagian pengalaman tetap pribadi. Hak untuk mengakui bahwa tidak semua hal ihwal perlu dipastikan sekarang juga. Dalam dunia yang memuja transparansi, hak ini terdengar subversif.

Yang ringan menjadi berat ketika kita memaksanya memikul beban yang tidak perlu. Mistik tidak harus membuktikan dirinya di hadapan kamera. Ia cukup hidup dalam perubahan sunyi yang jarang terlihat. Dan kita, sebagai masyarakat, mungkin perlu belajar kembali seni lama yang hampir punah. Seni untuk menunggu. Seni untuk ragu. Seni untuk tidak segera tahu.

Mungkin pelajaran paling penting dari kisah ini adalah keberanian untuk menertawakan kepastian kita sendiri. Tertawa bukan berarti meremehkan. Ia justru cara paling elegan untuk menjaga jarak dari fanatisme.

Kontroversi Mama Gufron akan berlalu. Video liyan akan datang. Nama lain akan viral. Akan tetapi kebiasaan kita tetap sama. Kita akan kembali mencari kepastian cepat. Kita akan kembali menuntut jawaban instan. Sampai suatu hari kita lejar.

Pada titik itu, mungkin kita akan belajar hal semenjana. Bahwa tidak semua yang penting harus dipastikan. Bahwa sebagian pengalaman cukup dihidupi. Bahwa dunia tidak runtuh hanya karena kita membiarkan satu dua pertanyaan tetap terbuka. Di sanalah, barangkali, yang ringan akhirnya boleh kembali ringan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...