Kabar Baik dari Kenaikan Impor 2025

Unggul Heriqbaldi
Oleh Unggul Heriqbaldi
9 Februari 2026, 08:05
Unggul Heriqbaldi
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Beberapa hari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis statistik terbaru ekspor dan impor Indonesia tahun 2025. Rilis ini datang di tengah lanskap ekonomi global yang semakin kompleks: fragmentasi perdagangan yang kian menguat, kecenderungan proteksionisme di berbagai negara, serta ketidakpastian kebijakan yang berlangsung bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dibandingkan tahun sebelumnya. 

Dalam konteks tersebut, kinerja perdagangan Indonesia justru menunjukkan penguatan yang patut dicermati. Neraca perdagangan Indonesia pada 2025 mencatat surplus sebesar US$41,05 miliar, meningkat 31,02% dibandingkan 2024. Capaian ini ditopang oleh pertumbuhan ekspor sebesar 6,15% dan impor yang meningkat lebih moderat, yakni 2,83%.

Namun, yang menarik dari data ini bukan semata besaran surplusnya, melainkan perubahan struktur dan karakter impor Indonesia. Tahun 2025 menandai pergeseran penting dalam cara perekonomian tumbuh. Impor memang meningkat, tetapi bukan karena lonjakan konsumsi domestik. Sebaliknya, peningkatan impor justru bersumber dari investasi. 

Struktur impor Indonesia pada 2025 semakin bersifat productive-oriented atau bertumpu pada sisi penawaran (supply side), bukan lagi demand-driven. Ini menjadi sinyal penting bahwa perekonomian Indonesia sedang berada dalam fase penguatan kapasitas (capacity building), bukan menghadapi tekanan konsumsi jangka pendek.

Dorongan investasi ini tercermin jelas pada lonjakan impor barang modal. Sepanjang 2025, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 20,06%, dari US$41,75 miliar menjadi US$50,13 miliar. Dari sisi pangsa, kontribusinya mencapai 20,73% terhadap total impor nasional. Angka ini bukan sekadar statistik perdagangan, melainkan refleksi dari perubahan orientasi kebijakan dan perilaku ekonomi. Pemerintah secara konsisten mendorong investasi di sektor-sektor hilir melalui agenda hilirisasi, dan respons dunia usaha terhadap sinyal kebijakan tersebut tampak semakin nyata.

Data dari Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan, realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya, dan menyumbang sekitar 30,2% dari total investasi nasional. Sektor mineral menjadi motor utama, dengan nilai investasi mencapai Rp373,1 triliun, terutama pada proyek-proyek nikel, tembaga, bauksit, besi baja, dan timah. Sisanya tersebar pada sektor perkebunan dan kehutanan, serta minyak dan gas. 

Pola ini menegaskan bahwa impor barang modal bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari strategi industrialisasi dan penguatan nilai tambah domestik.

Lonjakan impor barang modal pada 2025 terutama bersumber dari meningkatnya investasi fisik dan pengadaan mesin, seiring dengan kebutuhan dunia usaha dan pemerintah untuk memperkuat kapasitas produksi. Kenaikan ini juga terkait erat dengan percepatan agenda hilirisasi dan industrial upgrading, di mana pengembangan industri bernilai tambah masih memerlukan mesin, peralatan, dan teknologi yang sebagian besar belum dapat diproduksi di dalam negeri. 

Selain itu, pelaksanaan berbagai proyek strategis nasional di sektor infrastruktur, energi, dan manufaktur turut mendorong permintaan terhadap barang modal impor. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, impor barang modal juga mencerminkan respons strategis pelaku ekonomi yang memilih memperkuat basis produksi jangka panjang dan meningkatkan efisiensi, alih-alih memperluas konsumsi jangka pendek.

Sebaliknya, perkembangan yang berbeda terlihat pada impor barang konsumsi. Sepanjang 2025, impor barang konsumsi justru menurun sebesar 1,35%, dengan nilai mencapai US$22,4 miliar dan kontribusi sekitar 9,27% terhadap total impor. Penurunan ini tidak dapat serta-merta dibaca sebagai melemahnya ekonomi. 

Salah satu penjelasannya adalah proses normalisasi perilaku konsumsi rumah tangga pascapandemi Covid-19. Lonjakan konsumsi pada tahun-tahun sebelumnya, yang dipicu oleh pent-up demand, kini mereda. Selain itu, tekanan daya beli, khususnya pada kelas menengah akibat meningkatnya biaya jasa, pendidikan, dan perumahan, turut mendorong rumah tangga untuk lebih selektif dalam belanja, termasuk terhadap barang impor.

Sementara itu, impor bahan baku dan barang penolong masih mendominasi struktur impor Indonesia, dengan porsi sekitar 70% dari total impor. Namun, secara tahunan, nilainya relatif stagnan dan bahkan sedikit menurun dibandingkan 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi industri belum memasuki fase ekspansi output yang agresif. 

Di sisi lain, terdapat indikasi perbaikan efisiensi rantai pasok dan mulai berfungsinya substitusi input domestik, terutama pada sektor-sektor yang terdorong oleh agenda hilirisasi dan penguatan industri antara. Dengan kata lain, industri nasional mulai memproduksi sebagian input yang sebelumnya bergantung pada impor.

Jika dilihat secara keseluruhan, pola impor Indonesia pada 2025 mencerminkan pergeseran struktural yang cukup jelas: dari impor yang bersifat konsumtif menuju impor yang bersifat produktif. Impor tidak lagi didorong oleh lonjakan permintaan jangka pendek, melainkan oleh kebutuhan investasi dan transformasi ekonomi. Dalam konteks ini, kenaikan impor pada 2025 tidak seharusnya dibaca sebagai sinyal tekanan makroekonomi, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan kapasitas yang lebih berjangka panjang.

Tantangannya ke depan adalah memastikan bahwa lonjakan impor barang modal benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, daya saing, dan nilai tambah domestik. Hilirisasi dan industrialisasi tidak cukup berhenti pada investasi fisik, tetapi harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia, inovasi, dan kemampuan teknologi. 

Jika proses ini berjalan konsisten, maka struktur impor yang semakin produktif justru dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Unggul Heriqbaldi
Unggul Heriqbaldi
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...