Sekolah di Era Krisis Perhatian: Mengatur Gawai, Bukan Melarang

Yusuf Faisal Martak
Oleh Yusuf Faisal Martak
13 Februari 2026, 06:05
Yusuf Faisal Martak
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah menghadapi perubahan yang tidak sepenuhnya tampak pada kurikulum maupun ruang kelas, melainkan pada cara murid memberi perhatian. Murid dapat duduk di kelas selama satu jam, tetapi perhatian mereka berpindah puluhan kali. Bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena ritme informasi di dalam gawai jauh lebih cepat daripada ritme pembelajaran. Jika sebelumnya sekolah adalah tempat utama memperoleh pengetahuan, kini ia bersaing dengan perangkat yang selalu berada di genggaman.

Data capaian belajar menunjukkan perbaikan, tetapi juga memberi sinyal batas. Hasil Asesmen Nasional memperlihatkan persentase murid yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 55,01% pada 2024 menjadi 63,36% pada 2025. Numerasi juga naik dari 51,40% menjadi 61,33%. Namun kenaikan ini belum cukup menggambarkan penguatan kemampuan memahami bacaan dan bernalar secara mendalam. Artinya, peningkatan capaian belum tentu diikuti perubahan cara belajar; sekolah bisa berhasil menaikkan hasil, tetapi belum tentu memperpanjang proses berpikir murid.

Di saat yang sama, kehidupan belajar anak semakin dipenuhi notifikasi, video singkat, dan alur informasi yang terus berganti. Sekolah tidak lagi menghadapi kekurangan sumber belajar, melainkan kelimpahan distraksi. Tantangan pendidikan hari ini bukan lagi akses informasi, melainkan mempertahankan perhatian cukup lama agar pembelajaran benar-benar terjadi.

Dari Akses Pengetahuan ke Kurasi Perhatian

Digitalisasi mengubah relasi murid dengan pengetahuan. Materi tersedia daring, komunikasi berpindah ke platform digital, dan buku tidak lagi menjadi satu-satunya rujukan. Perubahan ini membuat keberadaan gawai di sekolah hampir tak terelakkan.

Namun respons kebijakan sering berada pada dua ujung ekstrem: pelarangan total atau pembiaran penuh. Larangan berupaya melindungi fokus belajar, tetapi berisiko menjadikan sekolah terasa terpisah dari realitas keseharian murid. Sebaliknya, kebebasan tanpa pengaturan menghadirkan kompetisi yang tidak seimbang antara proses belajar dan desain aplikasi digital yang memang dirancang menarik perhatian.

Temuan internasional memperlihatkan masalah ini bersifat global. Studi PISA 2022 menunjukkan sekitar 65% siswa terdistraksi oleh perangkat digital dalam pelajaran matematika.
Meta-analisis pada anak dan remaja juga menemukan paparan layar berlebih berkaitan dengan masalah perhatian dan performa akademik, sementara penggunaan moderat dan terarah dapat membantu pembelajaran (Santos dan kawan-kawan, 2022). Temuan ini menjelaskan mengapa perdebatan gawai sering buntu: masalahnya bukan durasi penggunaan, melainkan kompetisi desain perhatian antara sistem pendidikan dan industri digital.

Artinya, persoalan utama bukan pada perangkatnya, melainkan pada pengelolaan perhatian. Ketika pengetahuan tersedia di mana saja, fungsi sekolah bergeser dari penyedia informasi menjadi pengarah fokus. Nilai tambah sekolah bukan lagi memberi tahu apa yang harus diketahui, tetapi menciptakan kondisi agar murid mampu bertahan cukup lama pada satu proses berpikir. Tanpa ruang semacam ini, pembelajaran mudah berubah menjadi sekadar paparan informasi singkat yang cepat dipahami, tetapi juga cepat dilupakan.

Sekolah sebagai Ruang Sosial

Sekolah tidak hanya membentuk kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan sosial. Interaksi tatap muka melatih empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik melalui pengalaman langsung yang tidak tergantikan oleh komunikasi digital. Penggunaan gawai tanpa batas mengurangi interaksi bukan karena murid tidak ingin berkomunikasi, melainkan karena perhatian telah terbagi ke ruang personal masing-masing. Akibatnya, kesempatan belajar memahami ekspresi, jeda percakapan, dan respons emosional orang lain menjadi semakin sempit. Ketika perhatian terpecah terus-menerus, murid tidak hanya kesulitan memahami pelajaran, tetapi juga kesulitan memahami orang lain.

Dalam konteks ini, pendidikan membutuhkan ruang yang memungkinkan murid berlatih fokus sekaligus berlatih hidup bersama, karena keduanya berkembang melalui kehadiran yang utuh, bukan kehadiran yang terbagi.

Mengelola, Bukan Menghilangkan

Kebijakan gawai sering dipahami sebagai pilihan biner: boleh atau tidak boleh. Padahal yang dibutuhkan adalah pengaturan konteks penggunaan. Gawai digunakan ketika pembelajaran memang memerlukannya, dan disimpan ketika tujuan utamanya adalah diskusi, refleksi, atau interaksi. Dengan demikian, perangkat tidak menentukan ritme belajar, melainkan mengikuti tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Pendekatan ini menempatkan perangkat sebagai bagian dari ekosistem belajar, bukan pusat aktivitas sepanjang waktu, sehingga teknologi mendukung proses berpikir alih-alih menggantikannya. Karena itu, aturan gawai bukan terutama soal disiplin, melainkan soal desain pengalaman belajar.

Fungsi Baru Sekolah

Pertanyaan tentang gawai sering terdengar sederhana: perlu dilarang atau tidak. Namun di baliknya terdapat perubahan lebih mendasar. Sekolah tidak lagi menghadapi keterbatasan informasi, melainkan kelebihan informasi. Tantangan utamanya bukan menyediakan pengetahuan, tetapi membentuk kemampuan memilih, memahami, dan memberi makna.

Dengan demikian, tata kelola gawai bukan sekadar aturan kedisiplinan, melainkan bagian dari fungsi pendidikan itu sendiri. Sekolah menjadi tempat murid belajar kapan teknologi membantu belajar dan kapan justru mengganggu.

Di era digital, pendidikan bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mengajarkan cara hidup bersamanya. Melalui pengelolaan yang tepat, perangkat tidak mengurangi pengalaman belajar, melainkan memperkuatnya, sekaligus menjaga sekolah tetap menjadi ruang fokus dan ruang sosial yang tidak tergantikan. Pada akhirnya, masa depan sekolah tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya gawai, melainkan oleh kemampuannya menjadi satu-satunya tempat terakhir di mana anak belajar berhenti sejenak dan benar-benar berpikir.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Yusuf Faisal Martak
Yusuf Faisal Martak
Analis Kebijakan Ekonomi & Pembangunan di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...