Sawit sebagai Pohon
Bahasa sering dibentangkan seolah-olah ia adalah kaca jendela bening yang hanya memantulkan dunia apa adanya. Kamus tiba sebagai penjaga gerbang makna, dengan bangga mencantumkan entri demi entri seolah ia tidak lebih dari senarai fakta yang netral. Namun definisi bukanlah sekadar catatan pasif. Ketika Kamus Besar Bahasa Indonesia menyematkan kata “pohon” pada sawit, itu bukan sekadar urusan deskripsi botani yang rapi, tetapi preskripsi makna yang bergaung jauh ke dalam ranah kebijakan dan praktik publik (katadata.co.id, 4 Februari 2026).
Perubahan entri ini mengundang pertanyaan yang lebih tajam tentang siapa yang memutuskan apa yang pantas disebut pohon dan mengapa istilah itu dipilih kiwari. Bahasa tidak pernah bebas dari medan kekuasaan. Apa yang tampak sebagai label semenjana malah bisa menjadi alat yang merangkum nilai, kepentingan, dan konsekuensi politik yang nyata.
Kata “pohon” terdengar jinak, alamiah, dan hampir selalu diasosiasikan dengan kehidupan, keteduhan, dan keberlanjutan. Ia mengaktifkan imajinasi ekologis yang positif. Akan tetapi ketika sawit didefinisikan semata sebagai pohon, bahasa sedang melakukan kerja penyederhanaan nan serius. Ia memisahkan objek dari sejarahnya, dari relasi kuasa yang membentuknya, dan dari praktik sosial yang mengitarinya. Bahasa, dalam hal ihwal ini, bukan sedang melukiskan kenyataan, tetapi menatanya ulang.
Kamus bukan arsip pasif. Ia adalah teknologi pengetahuan yang bekerja melalui seleksi dan penghapusan. Apa yang disebutkan menjadi wajar. Apa yang tidak disebutkan menjadi tak terlihat. Ketika sawit direduksi menjadi kategori botanis, bahasa sedang menyingkirkan lapisan sejarah kolonial, ekonomi politik global, serta kekerasan struktural yang menjadikan sawit sebagai salah satu komoditas paling menentukan dalam sejarah modern.
Kajian sejarah global tentang sawit menunjukkan bahwa tanaman ini tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas alamiah. Sawit tumbuh bersama proyek kolonial, industri, dan kapitalisme agraria. Ia menjadi penting bukan karena sifat biologisnya semata, tetapi karena ia diintegrasikan ke dalam jaringan produksi dunia yang menuntut efisiensi, ekstraksi, dan disiplin tenaga kerja (Robins, 2021). Dengan menyebut sawit hanya sebagai pohon, kamus memutus hubungan antara kata dan jaringan kuasa yang memungkinkannya bermakna.
Definisi kamus bekerja melalui “presupposition”. Ia tidak hanya mengatakan apa itu sawit, tetapi juga apa yang tidak perlu dipersoalkan. Kata “pohon” mempresuposisikan kenormalan ekologis. Ia mengalihkan perhatian dari fakta bahwa sawit hidup dalam rezim perkebunan monokultur yang mengatur ruang, waktu, dan kehidupan manusia secara saksama.
Penelitian etnografis di wilayah perkebunan sawit Indonesia menunjukkan bahwa sawit beroperasi sebagai mesin sosial. Ia mengorganisasi kehidupan melalui kontrak, upah, pengawasan, dan penggusuran (Li & Semedi, 2021). Dalam konteks ini, menyebut sawit sebagai pohon bukan kesalahan ilmiah, tetapi penyederhanaan politis. Bahasa sedang menjinakkan kekerasan dengan cara menamainya secara netral.
Ilusi Netralitas
Salah satu ilusi terbesar dalam praktik kebahasaan modern adalah gagasan bahwa bahasa dapat netral. Padahal setiap praktik berbahasa selalu terikat pada kepentingan, ideologi, dan relasi kekuasaan. Kajian filsafat bahasa kontemporer menegaskan bahwa makna tidak hanya ditentukan oleh referensi, tetapi oleh resonansi sosial dan praktik yang menyertainya (Beaver & Stanley, 2023).
Dalam konteks ini, definisi kamus bukan hanya soal benar atau salah, melainkan soal posisi. Ketika sawit didefinisikan sebagai pohon, bahasa sedang berpihak pada cara pandang administratif dan teknokratis yang memudahkan pengelolaan, normalisasi, dan pembenaran. Bahasa membantu membuat sesuatu dapat diterima sebelum diperdebatkan.
Bahasa memiliki kemampuan untuk menghapus tanpa menghancurkan. Ia tidak perlu menyangkal sejarah sawit. Ia cukup mengabaikannya. Dengan menyempitkan makna, kamus mengeluarkan sawit dari sejarah kolonialisme, perampasan tanah, dan konflik agraria. Sawit lalu tampil sebagai objek alamiah yang seolah berdiri di luar politik.
Walakin sejarah sawit adalah sejarah relasi kuasa. Ia adalah sejarah perihal bagaimana tanaman dijadikan komoditas global melalui kerja paksa, pengaturan tenaga kerja, dan transformasi lanskap secara besar-besaran (Robins, 2021). Tatkala bahasa menghapus sejarah ini, ia tidak netral. Ia sedang melakukan kerja ideologis.
Bahasa tidak hanya merepresentasikan dunia. Ia mengatur bagaimana dunia dapat dipikirkan. Dalam pengertian ini, kamus berfungsi sebagai infrastruktur simbolik yang menopang kebijakan, hukum, dan praktik administratif. Definisi menentukan apa yang dapat dihitung, diatur, dan dilegalkan.
Dengan menyebut sawit sebagai pohon, bahasa menyediakan dasar semantik bagi kebijakan yang memperlakukan perkebunan sawit sebagai kegiatan kehutanan atau pertanian biasa. Ia mempermudah normalisasi ekspansi lahan atas nama pembangunan. Bahasa menjadi bagian dari mekanisme yang membuat kekuasaan bekerja secara lampas dan efektif.
Reduksi Makna
Mengkritik definisi kamus bukan berarti menolak ilmu botani. Yang dipersoalkan adalah reduksi makna. Sawit memang pohon, tetapi ia juga rezim produksi, teknologi kolonial, dan mesin sosial. Bahasa yang adil seharusnya mampu menampung kompleksitas ini, atau setidaknya tidak menutupinya.
Tulisan ini jelas bukan klinik kosmetik kebahasaan yang ripuh memutihkan entri kamus sambil berpura-pura bahwa makna lahir tanpa riwayat. Ia adalah tempat untuk menertawakan kesalehan semu yang menganggap bahasa sekadar alat pencatat kenyataan. Kata-kata tidak jatuh dari langit. Ia dirawat oleh kekuasaan, dipelihara oleh kepentingan, lalu disulap menjadi pengetahuan resmi.
Maka ketika “sawit” diringkus dengan manis sebagai pohon, yang sedang dirayakan bukan kecermatan definisi, melainkan keberhasilan negara, pasar, dan otoritas pengetahuan menyamarkan sejarah panjang perampasan dan penertiban di balik satu lema yang terdengar alamiah.
Bahasa tidak pernah hanya soal kata. Ia adalah cara dunia ditata, dibatasi, dan dijalankan. Definisi sawit sebagai pohon tampak semenjana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia menyederhanakan yang kompleks dan menormalkan yang problematis.
Membaca politik bahasa dalam kamus sering dicibir sebagai kecurigaan yang berlebihan, seolah kamus hanyalah senarai kata yang terlalu polos untuk dicurigai. Padahal justru di sanalah kekuasaan bekerja dengan sangat rapi.
Tatkala bahasa diperlakukan sebagai alat yang netral, ia diberi izin untuk menyingkirkan sejarah, mensterilkan konflik, dan menenangkan nurani. Kamus lalu tidak lagi sekadar mencatat dunia, tetapi ikut merapikannya, membuat yang keras terasa wajar, yang timpang tampak alamiah, dan yang politis berubah menjadi sekadar definisi.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
