Dari ‘Thriving’ ke ‘Surviving’: Pergeseran Kultur di Era Ketidakpastian
Kenaikan harga kebutuhan, risiko kehilangan pekerjaan, serta dinamika global telah menciptakan beban tambahan bagi masyarakat. Ketidakpastian semakin terasa dan menjadi bagian dari keseharian, bukan lagi sebagai ancaman sesaat. Fenomena ini sangat mungkin akan bertahan dalam waktu yang relatif lama.
Walau secara kasat mata pola keseharian masyarakat terasa tidak berubah, namun secara perlahan sesungguhnya terjadi pergeseran cara pandang. Orientasi hidup tidak lagi berfokus pada mengejar kemajuan, tetapi pada upaya untuk sekadar bertahan. Pertanyaannya bukan lagi tentang seberapa jauh kita bisa melangkah, melainkan seberapa lama kita mampu bertahan dalam kondisi yang serba tidak pasti.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak bagi individu, tetapi berpotensi membangun kecenderungan kolektif di masyarakat. Artinya, ketidakpastian tersebut berpotensi membentuk kultur bertahan (surviving), yang secara perlahan menggantikan orientasi kemajuan (thriving) di masyarakat.
Ketidakstabilan Ekonomi dan Ancaman yang Dirasakan
Fenomena from thriving to surviving dapat dipahami melalui Conservation of Resources (COR) Theory yang menjelaskan bahwa secara alami manusia cenderung memprioritaskan upaya menjaga sumber daya yang dimiliki daripada berusaha memperoleh yang baru. Sumber daya dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga mencakup waktu, energi, relasi sosial, serta rasa kendali terhadap hidup. Dengan kata lain, ketidakstabilan tidak hanya berdampak pada risiko kehilangan hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga membentuk persepsi ancaman berkelanjutan yang secara perlahan menggerus sumber daya non-fisik, termasuk daya inovasi dan semangat untuk maju.
Individu secara alamiah berada dalam kesiagaan yang konstan, bahkan ketika tidak ada krisis sekalipun. Hal ini mendorong individu untuk memilih opsi yang lebih aman, termasuk menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih fokus pada menjaga stabilitas daripada mengejar peluang baru. “Yang penting dapat bertahan tahun ini”, menjadi motto berbagai kalangan. Keputusan yang sebelumnya berorientasi pada perkembangan, seperti berpindah karier, memulai usaha, mempelajari hal baru, berani bersaing atau menciptakan inovasi baru pun berangsur surut.
Lebih lanjut, COR Theory juga menjelaskan adanya loss spiral, atau siklus dimana satu kehilangan dapat memicu kehilangan lainnya. Sebagai contoh, ketidakstabilan finansial dapat meningkatkan stres yang kemudian menguras energi mental, sehingga menurunkan produktivitas. Penurunan produktivitas ini dapat berimplikasi pada performa kerja, yang pada akhirnya semakin memperburuk kondisi finansial. Jika terus berulang, siklus ini akan mempersempit ruang gerak individu yang membuat pilihan hidup menjadi semakin terbatas. Bukan karena kurangnya keinginan untuk berkembang, tetapi karena berkurangnya sumber daya yang ia butuhkan untuk berkembang.
Pergeseran dari Kultur Thriving ke Surviving
Saat kondisi yang sama dialami oleh banyak individu, respons yang terbentuk dalam masyarakat pun menjadi serupa. Hal yang awalnya merupakan respons adaptif pada level individu, akhirnya berkembang menjadi kecenderungan kolektif. Ketika pola kolektif ini berlangsung secara konsisten, ia dapat berkembang menjadi suatu kultur. Karena itu, jika ketidakstabilan terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi pergeseran kultur, dari kultur thriving menjadi kultur surviving.
Masyarakat dengan kultur thriving dibekali oleh rasa aman yang memungkinkan individu untuk berpikir jangka panjang dan berinvestasi pada masa depan. Mereka mempunyai kemauan untuk mencoba hal baru, mengambil risiko dan menelan kegagalan untuk menjadikannya sebagai pembelajaran. Sedangkan dalam kultur surviving, dominasi rasa khawatir mendorong individu untuk lebih memprioritaskan kebutuhan jangka pendek. Daya inovasi dan semangat eksplorasi, meskipun tidak sepenuhnya hilang, menjadi lebih terbatas karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas.
Dalam jangka pendek kultur surviving memiliki fungsi protektif. Ia membantu individu dan masyarakat untuk melewati masa-masa sulit dengan meminimalkan risiko dan menjaga stabilitas. Namun, dalam jangka panjang, individu yang terus-menerus berfokus pada mode bertahan dapat mengalami defisit kesejahteraan psikologis. Individu tersebut juga rentan terperangkap dalam siklus loss spiral yang dapat memicu kehilangan berantai.
Pada level masyarakat, dominasi orientasi bertahan pada kultur survival berisiko menekan inovasi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Padahal, kedua hal tersebut merupakan kunci bagi kemajuan Indonesia yang membutuhkan daya saing dan inovasi/terobosan baru. Ketika orientasi bertahan menjadi dominan, kapasitas kolektif untuk bereksplorasi, mengambil peluang, dan mendorong perubahan pun dapat melemah. Dalam konteks ekonomi, entrepreneurial spirit akan redup, penciptaan lapangan kerja akan terhambat dan kita akan semakin kesulitan menjaga daya saing ekonomi.
Membalik Tren Pergeseran, Mungkin Kan?
Meskipun kondisi eksternal tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, individu tetap memiliki ruang untuk merespons secara lebih adaptif agar tidak sepenuhnya terjebak dalam mode bertahan. Karena bertahan tetap diperlukan, tetapi tidak harus menghilangkan seluruh ruang untuk berkembang. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan di level individu untuk menjaga mental thriving di tengah ketidakpastian:
- Mengelola sumber daya secara strategis, bukan defensif. Tidak semua keputusan harus diarahkan untuk menghindari risiko. Individu dapat mulai membedakan antara risiko yang perlu dihindari dan risiko yang masih dapat dikelola (calculated risk).
- Investasi pada keterampilan, relasi sosial, dan kesehatan mental menjadi kunci. Sumber daya ini berfungsi sebagai penyangga yang memungkinkan individu tetap memiliki ruang untuk berkembang, meski dalam keterbatasan.
- Menjaga orientasi jangka menengah–panjang secara realistis. Thriving tidak selalu berarti langkah besar. Dalam kondisi tidak stabil, thriving dapat diwujudkan melalui kemajuan kecil yang konsisten (small wins) yang tetap mengarah pada tujuan jangka panjang.
Di luar upaya individu, pergeseran menuju kultur bertahan juga perlu direspons pada level struktural. Ketersediaan sumber daya sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan kondisi sistemik. Beberapa peran yang dapat dilakukan pada level nasional antara lain:
- Menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi. Dukungan terhadap UMKM, kewirausahaan, dan inovasi membantu menjaga agar orientasi berkembang tetap hidup dalam masyarakat.
- Memperluas akses terhadap pengembangan keterampilan. Investasi pada pendidikan dan pelatihan memungkinkan individu membangun sumber daya baru, sehingga memiliki peluang untuk kembali berkembang.
- Mendorong stabilitas dan kepastian ekonomi. Kebijakan yang menjaga inflasi, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kepastian regulasi dapat menurunkan persepsi ancaman yang dirasakan masyarakat.
Penutup: Pentingnya Menjaga Keseimbangan
Ketidakpastian ekonomi adalah realitas yang tidak dapat dihindari, apalagi di era dimana geopolitik dan ekonomi dunia sedang sangat dinamis. Namun, kita perlu mengantisipasi ketika kondisi ini berlangsung lama, jangan sampai ia membentuk cara berpikir kolektif yang semakin berorientasi pada upaya untuk bertahan. Karena itu, tantangannya bukan memilih antara bertahan atau berkembang, melainkan bagaimana tetap menjaga ruang untuk berkembang meski dalam kondisi yang terbatas.
Pada akhirnya, arah yang terbentuk akan sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat mampu menjaga keseimbangan antara keinginan bertahan dan berkembang tersebut pada takaran yang memadai. Dalam konteks ini, langkah-langkah di level individu perlu dikedepankan, tetapi yang lebih strategis adalah langkah kongkrit pemerintah agar kultur thriving semakin tumbuh subur.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
