Denyut Asuransi di Tengah Eskalasi Perang Iran vs AS-Israel
Eskalasi perang di Timur Tengah semakin memanas. Serangkaian serangan rudal, drone, serta operasi militer saling balas antara pihak Iran dan Israel-AS. Memasuki pekan kedua hingga ketiga konflik, pemerintah Israel menyatakan bahwa perang melawan Iran kini telah memasuki “fase krusial” atau decisive phase.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada 14 Maret 2026, otoritas Israel menegaskan operasi militer tidak akan dihentikan dan akan terus dilanjutkan sampai tujuan strategis tercapai, termasuk melemahkan kemampuan militer dan infrastruktur Iran.
Sejumlah pejabat militer Israel juga menyebut konflik ini bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan, karena operasi terhadap fasilitas militer Iran, termasuk jaringan rudal dan infrastruktur pertahanan, masih terus berlangsung.
Di tengah situasi tersebut, dunia internasional kini menyoroti potensi meluasnya konflik di Timur Tengah, mengingat serangan dan ancaman balasan terus terjadi di berbagai wilayah strategis kawasan.
Iran mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Pemblokiran selat ini berpotensi melambungkan harga barang dan jasa di seluruh dunia karena kenaikan harga minyak berdampak pada ekonomi global.
Cina, India, dan Jepang yang merupakan importir utama minyak mentah yang melalui jalur tersebut akan sangat terdampak dengan penutupan selat ini. Selama ini, sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global melewati jalur pelayaran sempit di Teluk Persia tersebut, sekitar 20 juta barel per hari.
Siapa sebenarnya yang menutup Selat Hormuz? Semua orang berpikir Iran dapat menutup Selat Hormuz. Faktanya Iran tidak menutup sepenuhnya. Iran dilaporkan memperbolehkan kapal minyak mentah dalam jumlah besar ke Cina melalui Selat Hormuz.
Langkah berisiko tinggi ini tetap dilakukan di tengah berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang telah melumpuhkan pasokan energi di jalur peluncuran global tersebut Selain Cina, India juga disebut sebagai negara yang kini bebas melewati Selat Hormuz.
Lebih dari itu, secara efektif perusahaan asuransi global yang berpusat di London yang melakukannya. Setiap hari, sekitar 107 kapal kargo melewatinya. Jalur vital energi bagi perekonomian global. Sedangkan pekan lalu hanya 19 kapal yang melintas. Penurunan lalu lintas sebesar 81%. Tidak ada rudal. Hanya satu keputusan perusahaan asuransi menarik pertanggungan. Sekitar 90% kapal di dunia diasuransikan oleh 12 klub asuransi maritim. Klub-klub ini bergantung pada pasar reasuransi — sebagian besar berbasis di London. Ketika risiko perang meningkat reasuransi dapat menarik pertanggungan.
Dan ketika itu terjadi tidak ada asuransi , kapal tidak dapat berlayar, perdagangan berhenti. Sebuah kapal tanker senilai US$150 juta tidak akan bergerak tanpa asuransi.
Mengutip romeroinsurance.com, Lloyds of London, pasar asuransi dan reasuransi terkemuka dunia mengasuransikan 40% kargo maritim dunia. Jika sebuah kapal tenggelam, pelabuhan ditutup, atau kanal diblokir, maka London akan membayar klaimnya
Hampir semua ekspor minyak Iran melewati Hormuz. Jika pengiriman terhenti, Iran tidak dapat mengekspor. Pendapatan perangnya hilang. Ironisnya, senjata minyak justru merugikan Iran sendiri terlebih dahulu.
Cina adalah negara yang paling rentan di dunia terhadap gangguan Hormuz. Sebanyak 40% impor minyak mentah Cina melewati selat tersebut, 90% ekspor minyak Iran menuju Cina. Pengiriman LNG Qatar ke Cina harus melewati Hormuz.
Jadi, jika rute ini tertutup , keamanan energi Cina goyah. Itulah mengapa Beijing dengan cepat mendesak de-eskalasi. Ekspor minyak seluruh negara di sekitar Teluk seperti Arab Saudi , UEA , Qatar, Kuwait dan Irak bergantung pada Selat Hormuz. Tidak ada jalur alternatif.
Selama berabad-abad, London telah mendominasi asuransi maritim dari pasar Lloyd hingga reasuransi global. Artinya ketika London memutuskan risikonya terlalu tinggi, pengiriman global terhenti. Geopolitik dunia tidak hanya dikendalikan oleh para pemimpin dunia dan perlombaan senjata pemusnah massal
Namun penjaga gerbang sebenarnya adalah aktuaris yang menjalankan model risiko di London. Mereka tidak menembakkan senjata. Mereka menghitung probabilitas. Dunia tidak lagi hanya dikendalikan oleh pemerintah melainkan oleh sistem asuransi, energi dan keuangan .
Perkembangan Terakhir
Meskipun tindakan perang biasanya dikecualikan dari sebagian besar polis asuransi, konflik semacam ini tetap dapat berdampak signifikan secara tidak langsung pada perusahaan asuransi dan pemegang polis di seluruh dunia.
Gangguan pada transportasi internasional, perdagangan, dan pasokan energi dapat meningkatkan risiko di berbagai sektor, yang pada gilirannya memengaruhi keputusan penjaminan, kapasitas pasar, dan pada akhirnya penetapan harga asuransi.
Asuransi marine cargo dan penerbangan menjadi paling terdampak dengan premi melonjak hingga 10 kali lipat.
Beberapa perusahaan asuransi maritim telah mencabut perlindungan risiko perang atas kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz . Di antaranya Gard, Skuld , NorthStandard, London P&I Club, American Club, Steamship Mutual Underwriting Association dan The Swedish Club.
Kebijakan ini mulai berlaku efektif pada 5 Maret 2026, setelah pengumuman resmi dirilis pada 1 Maret 2026. Pencabutan perlindungan risiko perang ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia dan serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Di dalam negeri, asuransi Jasindo (Persero) telah menyiapkan mekanisme manajemen risiko yang memadai untuk mengantisipasi potensi peningkatan klaim asuransi perjalanan imbas konflik yang terjadi di Timur Tengah. Hingga kini pihaknya terus melakukan pemantauan secara insentif terhadap perkembangan situasi global, termasuk dinamika konflik di Timur Tengah. Perusahaan secara prinsip telah menyiapkan mekanisme manajemen risiko yang memadai guna mengantisipasi potensi peningkatan klaim, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik
Pasar reasuransi global mengeras (hardening). Untuk risiko di atas kapasitasnya, reasuradur lokal bergantung pada retrosesi dari raksasa global seperti Lloyd’s, Swiss Re, dan Munich Re dan lain-lain. Pasar reasuransi global yang tadinya melunak 5%-15% di awal 2026 kini berbalik arah. Beberapa reasuransi besar sudah memasukkan klausul eskalasi yang memungkinkan mereka membatalkan coverage jika konflik memburuk
Jika konflik berlanjut, kurs rupiah menurut sejumlah analis bisa tembus Rp22.000. Ini pukulan ganda bagi perusahaan asuransi: untuk biaya reasuransi dan retrosesi yang dibayar dalam dolar AS, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung menaikkan pengeluaran.
Di sisi lain, inflasi impor menaikkan nilai klaim --- perbaikan kendaraan, peralatan medis, suku cadang mesin, semuanya jadi lebih mahal kalau diimpor dengan rupiah yang lebih lemah. Bank Indonesia menghadapi dilema pelik: menaikkan suku bunga untuk mempertahankan rupiah, atau menurunkan untuk mendukung ekonomi yang sudah tertekan.
Untuk menahan pelemahan tersebut, Bank Indonesia dan pemerintah melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing hingga optimalisasi devisa hasil ekspor.
Berbagai kondisi di atas menunjukkan bahwa asuransi dan reasuransi menjadi elemen krusial dalam stabilitas perdagangan di wilayah konflik, dengan peran negara yang semakin intensif untuk menjamin kelangsungan arus energi global.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
