Mengubah Data ESG Menjadi Sistem Navigasi

Heri Susanto
14 April 2026, 07:05
Heri Susanto
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Suatu hari, seorang direktur perusahaan energi membuka Laporan Keberlanjutan perusahaannya. Tebalnya hampir 200 halaman. Semua data terkait informasi Environmental, Social dan Governance (ESG) ada di sana — angka emisi, konsumsi energi, pengelolaan limbah, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), program investasi sosial hingga tata kelola perusahaan. Disusun rapi, mengikuti standar global, bahkan sudah diaudit.

Namun ketika dia menutup laporan tersebut, satu pertanyaan muncul: “Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” 

Dia tidak menemukan jawabannya. Dan dia tidak sendirian.

Indonesia belakangan ini semakin dibanjiri data ESG. Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah perusahaan atau emiten yang menyampaikan Laporan Keberlanjutan meningkat pesat. Jika pada 2022 terdapat 505 emiten yang menyampaikan Laporan Keberlanjutan mengalami kenaikan menjadi 724 emiten pada 2023 dan bertambah lagi menjadi 917 emiten pada 2024. 

Selain menyangkut lonjakan jumlah emiten yang menyampaikan Laporan Keberlanjutan, indikator ESG yang dilaporkan perusahaan publik juga semakin lengkap dan standar yang makin kompleks. Contohnya, menurut OJK, dari 50 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, pada 2023, yang menyampaikan laporan emisi scope 1 dan 2 sebanyak 84%, namun pada 2024 sudah naik menjadi 93%. Ini belum mencakup indikator ESG lainnya. 

Sayangnya, data-data ESG yang dilaporkan tersebut masih bersifat statis, tersebar di setiap emiten atau perusahaan, serta lambat diproses untuk menjadi insight dan sulit dibandingkan antarperusahaan. Sejauh ini, informasi tersebut lebih untuk memenuhi kepatuhan regulasi OJK dan masih sekadar arsip bagi perusahaan. Data dan laporan ESG belum banyak menjadi panduan bisnis bagi perusahaan. Apalagi, menjadi kompas yang responsif untuk transisi menuju bisnis hijau di Indonesia. 

Padahal dunia di luar bergerak cepat. Tuntutan investor dan lembaga pembiayaan di tingkat regional maupun global semakin meningkat. Mereka tidak lagi menunggu Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan. Risiko tidak datang setahun sekali. Pasar juga tidak memberi waktu untuk membaca ratusan halaman. Dan, sayangnya, di sinilah paradoks itu muncul: semakin banyak data ESG, justru semakin sulit mengambil keputusan.

Masalahnya, bukan pada niat. Tak bisa dimungkiri bahwa semakin banyak perusahaan yang serius menjalankan ESG. Banyak regulator mendorong transparansi, tak terkecuali di Indonesia seperti diterapkan oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Banyak investor juga sudah memasukkan ESG dalam analisis mereka. 

Namun, di Indonesia, ESG masih diperlakukan seperti laporan—dibaca setelah kejadian, bukan digunakan saat akan mengambil keputusan. Padahal tanpa sistem navigasi, data hanyalah angka. Di titik inilah ESG harus berubah. Perubahan terbesar bukan saja berkaitan dengan standar baru yang ditetapkan oleh regulator atau dituntut investor, melainkan bagaimana cara kita membaca data. Bagaimana mengubah data di laporan menjadi navigasi, dari arsip menjadi sistem, dari informasi menjadi keputusan.

Mencermati kebutuhan tersebut, Katadata menghadirkan Katadata ESG Insight (KESGI) yang diluncurkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 6 April 2026. Peluncuran tersebut dihadiri oleh Pjs Dirut BEI, Jeffrey Hendrik dan Ketua OJK Frederica Widyasari Dewi yang turut hadir secara online. Hadir pula para expert ESG yang turut terlibat dalam penyusunan metodologi Katadata ESG Score untuk menilai kinerja implementasi ESG perusahaan.

KESGI adalah sebuah platform atau dashboard terintegrasi yang mencakup data historis dan laporan ESG, metodologi, scoring, benchmarking, analisis peluang dan risiko ESG, hingga update berita dan insight ESG. Melalui KESGI, memungkinkan pengguna membaca tren pasar dan ESG, membandingkan sektor, memahami profil dan posisi perusahaan, hingga menelusuri indikator secara cepat. Platform ini bisa dimanfaatkan sebagai arah baru bagi emiten, investor, analis, regulator, lembaga pembiayaan, akademisi dalam membaca dan memahami laporan dan data ESG.

Ketika data-data yang tersebar mulai terintegrasi, maka data dan angka-angka tersebut mulai berbicara. Dari sekitar 227 perusahaan yang dinilai per April 2026, Kita bisa melihat mayoritas skor ESG perusahaan di Indonesia masih berada di kategori menengah, dengan hanya sebagian kecil outperformed. Tren skor ESG dari 2021-2024 memang meningkat, tetapi tidak merata. Gap antar sektor masih nyata.

Melalui dashboard KESGI, Kita juga bisa melihat konteks yang lebih dalam. Contohnya, salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia menghadapi tekanan besar di emisi scope 3 yang menuntut strategi dekarbonisasi jangka panjang. Sedangkan, salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di Indonesia juga menghadapi tantangan efisiensi energi yang berdampak langsung pada biaya. Ini bukan lagi sekadar data. Ini adalah sinyal.

Melalui dashboard ini (kesgi.katadata.co.id), masing-masing perusahaan bisa mengurai kekuatan dan kelemahan atau kesenjangan setiap pilar ESG, topik atau bahkan indikator dibandingkan perusahaan sejenis di sektornya. Mereka tidak perlu membedah PDF ratusan halaman untuk mengetahui tren historis atau posisi relatif terkait tingkat emisi karbon atau konsumsi energi dibandingkan perusahaan lain di sektornya. 

Analis atau unit ESG perusahaan bisa mencermati posisi dan kinerja perusahaannya dengan mengacu pada 15 topik, serta lebih dari 100 indikator ESG yang tertuang dalam dashboard tersebut. Ke-15 topik yang dimaksud adalah manajemen emisi, energi, air, limbah, transisi iklim, biodiversity, kepatuhan lingkungan, SDM dan tenaga kerja, tanggung jawab konsumen, dampak terhadap masyarakat, Hak Asasi Manusia (HAM), pemasok/vendor, tata kelola berkelanjutan, etika bisnis dan anti korupsi, serta transparansi dan kepatuhan regulasi. 

Dari dashboard tersebut, arah menjadi jelas. Pengelola bisnis perusahaan bisa belajar upaya atau langkah yang dilakukan oleh emiten yang menjadi benchmark dengan kinerja ESG terbaik di sektornya. Dengan begitu, pada masa kini, ESG bukan lagi soal menjadi “baik”. ESG adalah soal bertahan dan kemampuan beradaptasi dengan tren perubahan bisnis ke depan. Siapa yang lebih cepat membaca risiko. Siapa yang lebih siap menghadapi perubahan. Dan, siapa yang lebih adaptif mengambil keputusan. 

Tanpa sistem navigasi, semua itu sulit terlihat. Kita sering berbicara tentang transisi energi, ekonomi hijau, dan investasi berkelanjutan. Namun semua itu membutuhkan satu fondasi penting: sistem pembacaan data yang terintegrasi dan bagaimana memonitor perkembangan atau kemajuan implementasinya dari waktu ke waktu. 

Dalam konteks ini, dashboard ESG bukan lagi sekadar alat bantu. Ia adalah infrastruktur. Tanpa itu, investor ragu, perusahaan bingung, lembaga pembiayaan tidak punya pegangan, dan kebijakan menjadi reaktif. Namun, dengan dashboard ESG, keputusan menjadi lebih cepat, risiko terlihat lebih awal, dan arah menjadi lebih jelas.

ESG tidak kekurangan data. Yang kita butuhkan adalah cara untuk mengubahnya menjadi arah. Karena di dunia yang semakin kompleks, yang bertahan bukan yang paling banyak datanya, tetapi yang paling tahu bagaimana membacanya—dan tahu ke mana harus melangkah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Heri Susanto
Heri Susanto

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...